Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 30. Petualangan Lara


__ADS_3

Seharian terkurung di kamar membuat Lara bosan. Walau kamar yang ia tempati terbilang nyaman dan aman, tetap saja ada rasa bosan yang menghampirinya. Lara merasa tidak bebas. Ia ingin jalan-jalan. Ya, tiba-tiba saja wanita itu kepikiran untuk mengelilingi rumah yang kini ia tempati.


“Aku gak bisa tinggal di rumah ini dengan gratis. Bagaimanapun juga, kami ini tidak memiliki hubungan apapun. Saudara jauh juga bukan. Aku masih memiliki harga diri. Aku gak  mau tinggal di rumah ini dengan gratis. Sepertinya aku harus menemui Tuan Fabio lagi dan membahas soal ini. Aku juga ingin tahu, bagaimana bentuk rumah ini jika di lihat dari teras depan,” gumam Lara. Ia segera melangkah menuju ke pintu besar dan tinggi berwarna putih tersebut. 


Lara menarik pintu besar itu secara perlahan. Ia melangkah keluar dan menutup pintu itu lagi. Setelah berdiri di depan pintu, Lara terlihat bingung. Ia tidak melihat jendela atau tangga di sekitar sana. Hanya ada lorong dan lorong yang tidak tahu di ujungnya ada apa.


“Ke kanan atau ke kiri?” ucap Lara bingung. “Ke kanan saja. Sepertinya ke kiri tidak ada tanda-tanda kehidupan.”


Lara melangkah ke lorong sebelah kanan. Ia berjalan perlahan sambil memperhatikan ornament yang ada di dinding. Setiap satu meter akan ada lukisan yang menurut Lara sangat rumit. Lara tahu kalau setiap lukisan pasti ada artinya, tetapi Lara tidak tahu apa artinya dari lukisan tersebut. Cat rumah itu di penuhi oleh warna hitam dengan kombinasi abu-abu. Suara sepatu Lara terdengar jelas ketika kakinya menapak di lantai granit berwarna abu-abu. Lara tertegun ketika berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Ada banyak pintu di sana. 


“Ruangan apa ini? Kenapa susah sekali menemukan jalan ke luarnya,” gumam Lara. Ia memperhatikan lampu kristal yang tergantung di plafon. Gagang lampu kristal itu berwarna hitam. “Apa sekarang langit berubah gelap? Kenapa ruangan ini terlihat terang karena lampu. Kenapa aku tidak bisa menemukan jendela!” umpat Lara yang mulai kesal.


Ia memandang lima pintu yang ada di sana. Kini wanita itu menjadi frustasi karena tidak tahu harus masuk ke pintu yang mana. “Pintu pertama. Ya, mungkin pintu itu adalah jalan keluar.” Lara melangkah ke pintu pertama. Wanita itu tersenyum melihat ruang bilyar yang begitu luas. Ada lima meja bilyar di dalam sana lengkap dengan bar. Tapi sayang, ruangan itu kosong. Lara tidak menemukan siapapun untuk di tanya. Ia kembali menutup pintu tersebut.

__ADS_1


“Oke, pintu ke dua saja.” Lara berjalan ke pintu ke dua yang jaraknya sekitar 10 meter dari pintu pertama. Ketika membuka pintu tersebut, Lara menemukan ruangan yang sangat luas. Bisa di bilang seperti restoran. Ruangan itu ada banyak kursi dengan meja yang panjang. Jika di bilang itu ruang makan, tidak cocok karena bisa ratusan orang yang duduk di sana.


“Sepertinya aku terdampar di rumah pria yang baginya uang adalah kertas,” ucap Lara. Lagi-lagi ia menutup pintu tersebut dan memutuskan untuk melihat isi di dalam pintu ke tiga. Lata melangkah lebih cepat lagi. Ketika pintu di buka, Lara  justru menemukan tiga pintu lagi di sana. 


“Apa lagi sekarang?” Lara duduk di lantai. Tubuhnya mulai lelah. “Kenapa susah sekali mencari jalan keluar. Bagaimana mungkin aku tersesat di dalam rumah? Tidak ini bukan rumah. Gedung ini seperti mansion atau kastil.”


Saat Lara memutuskan untuk beristirahat, ia mendengar suara minta tolong. Wanita itu memandang ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hal itu membuat Lara menjadi takut.


“Tolong!” Suara itu semakin jelas ketika Lara melangkah maju. Tepat di pintu yang tengah. Tidak tahu kenapa Lara tergelitik untuk masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat siapa yang meminta tolong.


Lara membuka pintu tersebut dan menemukan sebuah tangga ke bawah. Sangat gelap. Cahaya yang masuk berasal dari cahaya ruangan yang kini menjadi tempat Lara berdiri.


“Tangga apa itu?” Lara melangkah menuju ke tangga yang ternyata tangga itu akan menghubungkannya ke ruang bawah tanah. Lara memandang ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingung. Sebenarnya ada rasa ragu di dalam hatinya untuk melangkah lebih jauh lagi. Tetapi ia ingin tahu sebenarnya ada apa di dalam sana. Kenapa terdengar seperti ada yang minta tolong.

__ADS_1


Selangkah demi selangkah Lara lalui. Semakin ke bawah semakin gelap. Bahkan bulu kuduknya sampai merinding karena suhu mulai terasa dingin. Lara berhenti di depan pintu besi berwarna hitam mengkilap. Ia menyentuh pintu itu hingga terbuka secara perlahan.


Di dalam, Lara melihat seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu bersandar di dinding dengan tubuh dipenuhi luka. Kepalanya menunduk. Lara kaget bukan main. Ia menutup mulutnya berusaha tidak membangunkan pria menyedihkan tersebut.


“Aku harus pergi dari sini,” gumamnya di dalam hati. Lara segera berputar. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah pistol mendarat di dahinya. 


“Siapa anda?”


“Saya … saya.” Tubuh Lara gemetar. Bibirnya tidak sanggup menjawab pertanyaan pria yang kini berdiri di hadapannya. Hingga tiba-tiba saja.


DUARR


Pria misterius itu menembak pria yang terikat di dalam tadi ketika tahu kalau ikatan pria itu telah terlepas. Lara yang kaget bukan main tidak lagi bisa menguasai kesadarannya. Suara tembakan itu membuat telinganya tuli. Pada akhirnya, Lara jatuh pingsan. Tepat di depan pria  misterius yang  baru saja membuatnya ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2