Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 37. Apa Semua Benar?


__ADS_3

"Kau Lara? Apa benar ini Kak Lara?" tanya Greta tidak percaya.


"Ya," jawab Lara. Ia datang ke sana bukan untuk meminta perhatian dari Greta. Lara ingin melihat kabar ibu mertuanya. Dia ingin wanita paruh baya itu melihat penampilannya yang sekarang.


"Kak Lara." Greta berlari dan memeluk Lara. Wanita menangis sejadi-jadinya. Ia melampiaskan kesedihan yang kini ia alami kepada Lara. Sedangkan Lara, sama sekali tidak tersentuh dengan sikap Greta. Ia tahu, kalau Greta berubah seperti ini karena Alex sudah cerita dan Alex memaksa Greta untuk bersikap baik dengannya.


"Kakak ke mana aja? Greta butuh kakak. Kenapa kakak gak pulang-pulang," lirih Greta.


Tiba-tiba saja Lara melepas pelukan Greta secara paksa. Lara tidak mau tertipu dengan tangisan palsu Greta. Walau sebenarnya tangisan wanita itu sungguh-sungguh. Greta memang menangis karena mengadu kepada Lara. Ia butuh Lara untuk memegang tangannya agar bisa berdiri tegak.


Ketika Lara melepas pelukannya, Greta kaget. Wanita itu memandang wajah Lara dengan saksama. "Kenapa kak? Kakak marah sama Greta?"


"Di mana Mama?" tanya Lara.


"Mama ada di kamar. Mama-"


Belum sempat Greta menjelaskan keadaan Ny. Moritz yang sekarang Lara sudah menerobos masuk ke dalam. Wanita itu ingin segera bertemu dengan Ny. Moritz dan memberi pelajaran kepada wanita itu.


"Kak,apa yang mau kakak lakukan di kamar mama?" tanya Greta panik ketika ia melihat Lara melangkah menuju kamar Ny. Moritz.


Lara membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Ketika tiba di dalam, Lara justru mematung. Ia tidak berani melakukan hal apapun. Pemandangan yang ada di depan matanya membuatnya merasa kasihan. Hingga akhirnya ia tidak tega melanjutkan rencana yang sudah ia persiapkan sejak awal.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Seperti yang Kak Lara lihat. Mama kehilangan semangat hidupnya sejak papa meninggal. Mam tidak mau bicara dengan siapapun. Bahkan makan dan minum saja susah," jawab Greta.


"Apa Mama sudah di bawa ke dokter?"


"Sudah kak. Tapi tidak ada perubahan. Bahkan Kak Alex memintaku untuk membawa mama ke rumah sakit jiwa."


"Alex benar-benar pria yang jahat. Bahkan kepada ibu kandungnya sendiri dia tega bersikap seperti itu," gumam Lara di dalam hati.


"Kak Lara apa kabar?" Walau dilihat dari penampilan Lara yang sekarang Greta sudah tahu kalau kakak iparnya baik-baik saja. Tapi tetap saja ia lebih luas jika mendengarnya dari Lara langsung.


"Bisa kita bicara di luar?" Lara pergi meninggalkan kamar Ny. Moritz. Walau sebenarnya ia sangat dendam sama semua orang yang ada di rumah itu. Tetapi Lara masih memiliki hati. Setidaknya saat ini targetnya bukan lagi Ny. Moritz. Hanya ada Alex, Fiona dan Hana.


"Kak, apa Kakak sudah bertemu dengan Kak Alex?"


"Kakak mau balikan dengan Kak Alex?"


Lara menatap wajah Greta dengan tatapan penuh arti. "Apa itu yang kau inginkan?"


Greta menggeleng pelan. "Sebaiknya kakak tinggalkan Kak Alex. Dia tidak cocok dengan kakak. Kak Alex hanya bisa menyakiti hati kakak."


"Tapi tadi malam dia bersikap lembut kepadaku," jawab Lara.


"Itu karena sekarang kakak sudah berubah." Greta mengatur napasnya. "Kak, Greta mau minta maaf. Seandainya saja sejak awal Greta tahu kalau Kak Lara adalah orang yang sudah menolong Greta saat kecelakaan waktu itu, pasti Greta gak akan bersikap kasar sama kakak. Maafkan Greta, Kak. Jika tanpa bantuan kakak. Mungkin Greta tidak bisa ada di sini sekarang."

__ADS_1


"Kecelakaan?" Lara mengeryit.


"Ya, Kak. Greta sempat mengambil buku catatan kakak saat pelayan bersih-bersih kamar. Bahkan Greta meminta mereka meletakkan semua barang kakak di kamar tamu. Semua tanpa sepengetahuan Kak Alex," jelas Greta apa adanya.


"Alex benar-benar pria yang jahat! Bahkan ia lebih kejam dari seorang pembunuh," umpat Lara di dalam hati.


"Dari buku itu Lara bisa tahu kalau Kakak yang sudah menolong Greta. Greta ketemu foto gelang.Gela g itu milik Greta."


"Kau wanita itu?"


"Ya, kak," sahut Greta penuh semangat. Ia beranjak dari sofa dan duduk di samping Lara. Wanita itu menggenggam tangan Lara dan menatap Lara dengan mata berkaca-kaca. "Kak, maafkan Greta. Kakak jangan marah lagi ya sama Greta."


Lara diam untuk waktu yang lama. Ia tidak mau selemah itu dan percaya begitu saja dengan ucapan Greta. Bagaimanapun juga masih ada ras takut di dalam hati Lara. Ia takut semua ini hanya akting semata. Mereka bekerja sama untuk membuatnya tinggal di rumah itu karena penampilan yang sekarang.


"Apa Hana masih bekerja di rumah ini?" Tiba-tiba saja Lara mengalihkan topik pembicaraan. Wanita itu tidak mau membahas ungkapan maaf Greta.


"Masih, apa kakak mau bertemu dengan Hana?"


"Ya," jawab Lara cepat.


"Baiklah, Kak. Greta akan panggilkan." Greta memandang wajah pelayan yang berada tidak jauh dari posisi mereka berada. "Panggilkan Hana. Suruh dia cepat datang ke sini!"


"Baik, Nona." Pelayan itu segera pergi.

__ADS_1


Lara merasa bahagia. Tidak lama lagi, dia sendiri yang akan memberi pelajaran kepada Hana. Wanita itu akan membuat Hana menyesal karena sudah menyepelekannya waktu itu. "Kita lihat. Bagaimana ekspresi pembantu sialan itu. Apa kini dia masih berani menghina fisikku? Setelah selesai dari sini, aku akan pulang ke mansion. Aku ingin bersiap-siap untuk makan malam dengan Kak Bi nanti malam."


__ADS_2