
Setibanya di mall, Lara dan Fabio segera menuju ke toko pakaian dalam dan lingerie. Jelas saja pemandangan di sana membuat Walter merasa risih. Mau menunggu saja di dalam mobil, namun Fabio tidak membawa pengawal. Walter tidak mau membiarkan bosnya berada dalam bahaya. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk duduk di salah satu sofa yang jaraknya hanya beberapa meter dari posisi Fabio menunggu Lara.
Semua karyawan yang ada di dalam toko terlihat sedang melayani Lara. Mereka semua sangat antusias karena toko mereka kedatangan tamu yang kaya raya. Jelas saja jika mereka berhasil merayu Lara, maka barang-barang terbaru yang berjajar di etalase akan habis di borong Lara.
"Nona, ini lingerie keluaran terbaru. Bahannya terbuat dari sutra. Sangat lembut dan nyaman di pakai," tawar salah satu karyawan toko.
Lara menerima lingerie bermerek tersebut dengan alis saling bertaut. Belum melihat detailnya saja sudah membuat Lara malas. Warnanya hitam. Warna lingerie yang sangat di benci Lara.
"Ini sangat jelek dan murah," jawabnya asal saja.
Jawaban Lara membuat para karyawan saling melempar pandang. Namun, melihat penampilan Fabio mereka merasa yakin kalau istri seorang konglomerat sudah pasti bersikap sesuka hatinya.
"Nona, bagaimana kalau yang ini?" tawar karyawan lainnya.
"Sebenarnya saya ingin membeli yang model ini. Tetapi warnanya yang ini," jawab Lara sambil menunjuk kedua lingerie yang ada di dekatnya.
Karyawan itu terlihat kebingungan. Bagaimana tidak? Di toko itu hanya menjual satu model dan satu warna. Mereka hanya menjual barang-barang branded yang hanya ada satu. Permintaan Lara membuat mereka bingung. Mereka takut, jika tidak bisa mengabulkan permintaan Lara nanti Lara tidak akan kembali ke toko mereka lagi.
__ADS_1
"Nona, bagaimana kalau kita lihat-lihat pakaian dalam dulu. Lingerienya akan kami cari yang sesuai selera anda."
Fabio beranjak dari sofa. Pria itu merasa ada yang aneh dengan istrinya. Dengan cepat ia mendekati Lara untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
"Ada apa?"
"Tidak ada," jawab Lara malu. Ia tidak mau sampai Fabio tahu kalau dia baru saja menyulitkan para karyawan yang ada di toko.
"Lalu, kenapa kau kelihatan bingung?"
"Aku ...."
"Dimana barangnya?" tanya Lara penasaran.
"Saya akan menunjukkannya kepada anda, Nona." Wanita itu meminta beberapa karyawan yang tadi ikut bersamanya mengeluarkan barang yang dia maksud.
Sebuah lingerie merah berbahan renda dengan kombinasi satin menjadi satu-satunya primadona di toko tersebut. Bukan hanya harganya saja yang fantastis. Tetapi, lingerie itu memang terlihat sangat spesial dan istimewa.
__ADS_1
Lara sendiri di buat kagum melihatnya. Ia memegang lingerie tersebut dan langsung jatuh cinta. "Berapa harganya?"
Fabio mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan Lara. Bagi Fabio soal harga bukan sebuah masalah.
"Murah, Nona. Hanya $2.500," jawab wanita itu dengan senyuman ramah yang memikat.
"Hanya baju kurang bahan harganya puluhan juta?" Lara melotot mendengar harga yang diucapkan wanita itu. Tangannya menjauh seolah tidak lagi tertarik membeli lingerie tersebut.
"Sayang, apa yang kau pikirkan? Kau suka atau tidak?" bisik Fabio karena dia tidak membuat malu Lara.
"Aku tidak menyukainya." Lara memalingkan wajahnya dan memandang ke arah luar. "Sepertinya aku ingin minum."
"Baiklah, ayo kita minum," jawab Fabio. Secara diam-diam pria itu memberi kode kepada Walter agar membungkus lingerie yang tadi sempat di tawarkan ke Lara.
Walter mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu. "Bungkus yang rapi baju yang di sukai Nona Lara."
"Baik, Tuan," jawab wanita itu dengan senyuman bahagia.
__ADS_1
Walter memandang ke arah Lara dan Fabio yang sudah menjauh. "Kenapa wanita selalu saja pusing ketika memutuskan satu hal?"