Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 43. Makan Malam


__ADS_3

Malam harinya. Lara sedang bersiap-siap di dalam kamar. Sudah berjam-jam wanita itu mencoba pakaian yang cocok untuk makan malam dengan Fabio. Tetapi Lara merasa tidak ada yang cocok. Ia lagi-lagi mengganti gaunnya sampai make up-nya hampir luntur.


"Yang mana. Gaun mana yang harus aku pakai? Ini terlalu terbuka. Ini terlalu panjang. Ini terlalu pendek!" Lara duduk di atas ranjang. Ia menghela napas kasar. Tiba-tiba saja ia ingat kalau ada satu gaun yang pernah ia beli dan belum pernah ia pakai. Gaun itu adalah gaun impiannya. Lara tidak menyangka bisa membeli gaun itu di butik terkenal yang ada di kota ini.


"Apa ini adalah momen yang pas untuk mengenakan gaun ini?" Lara tersenyum manis. Ia segera mengganti gaun yang kini ia kenakan dengan gaun tersebut. Setelah selesai, Lara kembali berdiri di depan cermin. Ia ingin memastikan kalau penampilannya sudah cantik malam ini.


Saat Lara belum selesai menata rambutnya, tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang. Hal itu membuat Lara takut. Padahal ia ingat betul kalau setelah Alex pergi, ia sudah mengunci apartemennya. Tetapi kini, suara sepatu itu terdengar sangat dekat seperti ada yang masuk ke dalam apartemennya.


Lara segera meletakkan sisir yang sempat ia genggam dan melangkah ke pintu. Lara ingin memeriksa sendiri sebenarnya siapa yang sudah berani masuk ke dalam apartemen itu secara diam-diam.


Ketika pintu sudah terbuka lebar, Lara melihat Fabio duduk di sofa. Pria itu terlihat sangat santai. Ia menonton film yang ada di layar televisi tanpa peduli dengan wajah bingung Lara saat ini.


"Kak Bi. Kenapa kakak bisa masuk ke sini?" Lara berjalan mendekat. Ia melihat Walter juga ada di sana namun pria itu memilih berdiri di dekat pintu masuk.


Fabio memandang ke arah Lara. Ia sempat mematung sejenak ketika melihat penampilan Lara yang begitu memukau. "Ini apartemenku," jawab Fabio santai.


Lara merasa malu. Wanita itu sampai menunduk dan tidak berani menatap wajah Fabio. "Maafkan Lara, Kak."


Fabio memandang Walter sebelum menjawab. "Maaf?" Fabio beranjak dari sofa. "Chubby, kenapa kau selemah itu? Sedikit-sedikit minta maaf. Seperti ini yang membuatmu mudah di tindas. Kau harus memiliki prinsip. Jangan lemah dan merasa bersalah terus-menerus."


Lara mengangkat kepalanya. "Apa maksud Kak Bi? Memang benar ini apartemen Kak Bi. Lalu, bagaimana caranya Lara membantah perkataan Kak Bi?"


Fabio menghela napas. Ia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan ini. "Apa kau sudah siap?" Fabio memperhatikan penampilan Lara lagi. Dengan balutan gaun berwarna putih yang panjangnya di bawah lutut, lagi-lagi Lara terlihat sangat cantik.


"Sudah, Kak. Tapi Lara mau ngambil tas dulu ya di kamar." Fabio mengangguk. Pria itu memandang sekitar apartemen sebelum mengatakan sesuatu. "Setelah aku kembali, pastikan barang-barang itu tidak ada di ruangan ini lagi. Aku tidak mau Lara sampai tahu, kalau aku adalah seorang mafia!"

__ADS_1


"Baik, Boss." Walter menunduk hormat.


Lara keluar dari kamar dengan satu tas ditangannya. "Ayo kak," ajak Lara. Fabio hanya mengangguk sebelum memberi jalan kepada Lara. Mereka segera pergi meninggalkan apartemen. Sedangkan Walter segera melakukan tugasnya. Ia harus bisa membawa senjata-senjata yang ada di apartemen itu keluar sebelum Lara menemukannya lebih dulu dan berpikiran yang aneh-aneh tentang Fabio.


...***...


Setibanya di restoran, kedatangan Fabio dan Lara di sambut oleh koki yang memasak makanan di restoran tersebut. Koki wanita itu terlihat sangat akrab dengan Fabio. Ia melempar senyum sebelum menyapa Fabio dan Lara.


"Selamat malam, Tuan. Senang bertemu dengan anda. Sudah lama anda tidak datang ke restoran kami," ucap koki cantik tersebut.


Lara memperhatikan penampilan koki tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sulit di percaya. Bagaimana bisa seorang koki cantiknya seperti model? Kulitnya mulus dan lembut. Apa mungkin dia pandai memasak?" gumam Lara ragu.


"Senang bertemu denganmu, Cora. Apa masih ada kursi kosong untukku?" tanya Fabio.


"Terima kasih, Cora." Cora membawa Fabio dan Lara masuk ke dalam restoran.


Fabio dan Lara beriringan. Cora membawa mereka berdua ke kursi yang letak jauh dari tamu yang lain. Ruang itu lebih private.


Dua pelayan menarik kursi dan mempersilahkan Fabio dan Lara duduk di sana. Mereka melempar senyuman ramah.


"Silahkan, Tuan."


"Terima kasih," ucap Fabio.


Lara duduk berhadapan dengan Fabio. Setelah duduk, ia memperhatikan pengunjung yang ada di restoran tersebut. Beberapa kursi yang ada di dekat Lara dan Fabio terlihat sedang membahas sesuatu. Mereka terlihat sangat asyik. Ada dua orang anak kecil di samping mereka. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Lara iri. Ia ingin berada di posisi anak kecil itu.

__ADS_1


"Chubby, apa yang kau lihat?" Fabio mengeryitkan dahi.


"Aku suka melihat anak kecil. Aku harap, mereka tidak mengalami apa yang aku rasakan. Kehilangan kedua orang tua, di saat aku masih membutuhkan mereka."


"Terkadang memang takdir terlihat tidak adil. Tapi, seperti itulah kehidupan. Kadang senang kadang sedih."


"Kak Bi, kalau boleh Lara tahu. Apa alasan kakak mau membantu Lara hingga Lara bisa jadi seperti sekarang?"


"Ada satu hal yang ingin aku perlihatkan." Fabio mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pria berbadan besar. "Menurutmu, siapa dia?"


Lara memperhatikan wajah pria di dalam foto itu dengan saksama. "Lara tidak kenal dengan pria ini, Kak. Apa dia teman Kak Bi?"


Fabio tersenyum. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Ini fotoku 10 tahun yang lalu," jawab Fabio.


Lara tertegun. "Itu foto Kak Bi? Kak Bi pernah gendut juga?"


"Bahkan lebih parah darimu, Chubby. Aku sampai tidak berani keluar rumah karena malu bertemu dengan semua orang. Mereka hanya bisa menghinaku." Fabio memandang Lara. "Maka dari itu, aku tidak mau kau merasakan apa yang aku rasakan, Chubby."


"Lalu, Kak Bi menjalani diet hingga bisa seperti sekarang?"


"Bahkan aku berulang kali masuk rumah sakit," jawab Fabio dengan tawa kecil.


Saat Fabio dan Lara masih asyik mengobrol, tiba-tiba saja Fiona muncul. Tanpa mengucapkan satu katapun, tiba-tiba Fiona melempar air yang ada di dalam gelas tepat di wajah Lara.


"Dasar ******!" umpatnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2