Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 36. Panggil Aku Chubby


__ADS_3


"Kenapa Kak Bi memandangku seperti itu? Aku jadi semakin gugup kalau begini," gumam Lara di dalam hati.


Sama halnya dengan Lara. Fabio sendiri memilih diam dan memperhatikan wajah cantik Lara dengan saksama. "Sekarang bagaimana? Apa aku tetap harus memanggilnya Chubby? Dia tidak gemuk lagi. Tidak ada timbunan lemak di tubuhnya. Jika aku tetap memanggilnya seperti itu, dia bisa tersinggung," gumam Fabio di dalam hati.


Saat mereka saling memandang dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba Walter kembali muncul. Pria itu ingin mengambil tasnya yang ketinggalan. Karena terlalu asyik menikmati wajah satu sama lain, Lara dan Fabio sampai tidak sadar kalau Walter kembali masuk ke dalam sana.


"Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Bagaimana kalau aku ini musuh? Bisa-bisa mereka berdua mati di tempat karena terpesona," umpat Walter di dalam hati. Saat mengambil tas di atas meja, Walter menyentuh gelas yang ada di sana. Hingga akhirnya, pecahan gelas itu membuat Lara dan Fabio tersadar. Mereka sama-sama melempar senyum yang tidak tahu artinya apa.


"Maafkan saya, Bos."


Fabio berdehem pelan untuk mencairkan suasana. "Walter, tolong kirimkan data pemasukan bulan ini," perintah Fabio.


"Baik, Bos." Walter menunduk sebelum pergi. Fabio tidak lagi membahas perihal tertawanya tadi saja sudah syukur.


Fabio kembali memandang Lara. "Baik, kak. Bagaimana dengan kakak?"


"Baik juga." Fabio memalingkan pandangannya. Ia kini justru bingung mau berbicara apa. Jelas-jelas sejak awal dia yang meminta Lara untuk menemuinya.


"Kak, ini ada hadiah kecil untuk kakak. Memang harganya tidak seberapa karena Lara membelinya pakai uang pribadi Lara." Lara meletakkan hadiah yang sudah ia persiapkan. Ia berharap Fabio tidak menghina pemberiannya.


"Terima kasih, Lara." Fabio memandang sofa yang ada di dekatnya. "Silahkan duduk."


Lara duduk di sofa yang di tunjuk Fabio. Wanita itu mulai merasa rileks setelah mengobrol dengan Fabio.


"Bagaimana dengan rencanamu, Lara? Apa kau mengalami kesulitan?"


"Kenapa Kak Bi gak manggil aku Chubby lagi?" gumam Lara di dalam hati.


"Lara ...." tanya Fabio ketika Lara hanya melamun.


"Kak Bi, apa aku melakukan kesalahan?"


"Kesalahan? Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku memanggilmu ke ruangan ini karena ingin mengucapkan selamat karena kau telah berhasil menghilangkan berat badanmu."


"Kalau memang tidak melakukan kesalahan, kenapa Kak Bi gak manggil Lara dengan sebutan Chubby lagi?"

__ADS_1


Fabio membisu. Kini dia tidak tahu harus menjawab apa. "Soal itu ... karena." Fabio diam sejenak. "Aku takut kau tersinggung."


Lara mengukir senyuman manis. "Hanya itu alasannya?"


Fabio mengangguk lagi. "Ya."


"Lara gak tersinggung, Kak. Justru Lara senang kalau Kak Bi panggil Lara seperti itu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Baiklah. Kalau boleh Kak Bi tahu, apa nanti malam Chubby sibuk?"


...***...


Alex baru saja tiba di kantor. Wajahnya terlihat tidak bersahabat karena dia baru saja bertengkar dengan Fiona. Sambil memijat pangkal hidungnya, Alex lagi-lagi terbayang wajah cantik Lara.


"Dimana dia tinggal? Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya? Dari mana dia dapat uang sebanyak itu? Sekarang penampilannya seperti wanita modern. Aku masih tidak menyangka kalau wanita tadi malam adalah Lara. Lara Alessandra. Wanita yang enam bulan lalu mati-matian mengemis cintaku."


"Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong kirimkan cctv hotel yang saya datangi tadi malam."


"Baik, Tuan."


Alex segera mematikan panggilan telepon. Kali ini Alex merasa sangat percaya diri kalau ia bisa tahu dengan siapa Lara datang, naik mobil apa dan apa saja yang dilakukan Lara selama.tiba di hotel. Tidak lama menunggu, pesan masuk ke email. Alex mulai fokus dengan layar laptopnya. Pria itu sudah tidak sabar melihat Lara. Dari mulai tiba hingga wanita itu pergi pulang.


Namun, wajah Alex terlihat sangat serius. Apa yang ia cari tidak ia dapatkan. Semua rekaman tentang Lara telah di hapus oleh bawahan Fabio. Hal itu membuat Alex tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun. Karena tidak terima, Alex kembali menghubungi bawahannya.


"Apa hanya ini rekamannya?"


"Benar, Tuan."


"Lima menit setelah ini. Aku butuh rekaman itu sekarang!" teriak Alex.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi, hanya itu rekaman yang ada. Saya tidak pernah menghapus rekaman tadi malam."

__ADS_1


Alex yang terlihat kesal segera memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu menutup laptopnya dengan kasar sebelum bersandar di kursi. "Sial! Kalau sudah begini, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Lara lagi? Aku harus bicara dengannya!"


Di rumah, Greta membersihkan wajah Ny. Moritz dengan penuh perasaan. Sejak kematian Tuan Moritz, wanita paruh baya itu sangat depresi. Ia tidak mau keluar kamar dan bertemu dengan siapapun. Hanya Greta satu-satunya orang yang bisa bertemu dengan Ny. Moritz. Bahkan ketika Alex masuk, Ny. Moritz memberikan respon yang buruk. Wanita itu meneriaki Alex dan menyalahkan pria itu atas kepergian suaminya. Bahkan mengatakan kalau Alex adalah anak yang tidak berguna.


Alex sempat meminta Greta agar mau membawa Ny. Moritz ke rumah sakit jiwa. Tetapi Greta tidak mau. Wanita itu ingin mama kandungnya tetap ada di rumah mereka yang mewah dan megah. Ia tidak tega jika ibu kandungnya harus tinggal di ruangan sempit yang dipenuhi orang-orang gila.


"Ma, Mama harus semangat. Jangan seperti ini. Greta takut, Ma. Greta takut kehilangan Mama." Greta memeluk tubuh Ny. Moritz. Wanita itu kembali menangis sedih membayangkan nasipnya nanti. Greta merasa tidak memiliki pegangan untuk berdiri. Hidupnya hancur setelah ayahnya meninggal dan kakak iparnya pergi.


Greta sudah berjuang mencari keberadaan Lara. Bahkan sampai datang ke rumah lama Lara. Tetapi, hal tidak terduga ia temukan di sana. Greta sendiri tidak menyangka kalau Kakak kandungnya tega mengambil alih rumah lama Lara. Bahkan Greta sendiri sempat memarahi Alex. Tetapi, ocehannya hanya angin lalu bagi Alex. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah.


Suara ketukan pintu membuat Greta melepas pelukannya. Ia menghapus air mata yang ada di pipi sebelum melangkah ke pintu. Di sana, seorang pelayan berdiri dengan kepala menunduk.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda."


"Siapa?"


"Tidak tahu, Nona. Sepertinya dia teman Nona," jawab pelayan itu.


"Apa sudah diizinkan masuk?" Greta menutup pintu kamar dan berjalan ke depan.


"Sudah, Nona. Dia duduk di ruang depan."


"Baiklah. Tolong buatkan minum."


"Baik, Nona."


Greta mempercepat langkah kakinya karena penasaran dengan sosok tamunya pagi ini. Ia merasa hari ini tidak janjian dengan siapapun.


Ketika tiba di ruang tamu, Greta menahan langkah kakinya. Sosok wanita cantik yang duduk di sofa sangat tidak asing baginya. Tetapi dia tidak tahu, sebenarnya siapa wanita itu.


"Maaf, anda siapa?" tanya Greta.


Wanita itu berdiri dan tersenyum. "Saya Lara."


Greta mengeryitkan dahinya. "Lara? Lara siapa? Saya tidak kenal wanita bernama Lara selain kakak ipar saya," jawab Greta masih dengan wajah bingung.


Lara menarik napas dalam. Sebenarnya ia tidak tahu, bagaimana reaksi Greta ketika tahu kalau dia adalah Lara yang dulu sempat ia hina. "Saya Lara Alessandra. Istri Alex Moritz!"

__ADS_1


__ADS_2