Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 108. Kembali Sadar


__ADS_3

Lara membuka kedua matanya secara perlahan. Di pandangnya Fabio yang masih setia menunggunya di sana. Kedua mata Lara kembali berkaca-kaca. Sejak kedua matanya terbuka, justru bayangan ketika Greta meledakkan bom itu justru menjadi hal yang paling di ingat Lara.


"Chubby, minumlah," pinta Fabio. Pria itu membantu Lara untuk duduk agar bisa meneguk air minumnya. Ia tahu kalau Lara pasti sangat kehausan saat ini karena bibir wanita itu sampai kering karena terlalu lama tidak sadarkan diri.


"Bagaimana dengan Greta?" Lara menunda untuk meneguk air minum yang diberikan Fabio.


"Minumlah," bujuk Fabio. Lara hanya bisa menurut saja. Secara perlahan ia meneguk air putih tersebut sampai tenggorokannya basah dan bibirnya tidak kering lagi.


"Kak Bi ...."


"Greta tidak bisa tertolong lagi. Bom itu memang tidak terlalu besar ledakannya. Tetapi, ledakannya bisa menghancurkan tubuh manusia," jelas Fabio. Sebenarnya dia tidak tega mengucapkan kalimat seperti itu kepada Lara. Tetapi, Lara akan terus bertanya jika dia tidak menjelaskan.


Lara membisu. Ia memandang ke depan dengan tetes air mata yang mulai membasahi pipi. "Andai saja aku bisa mencegahnya. Semua ini tidak akan terjadi. Greta mengorbankan dirinya demi menyelematkan nyawa Alex," lirih Lara.


"Pengorbanan yang sia-sia. Karena tidak ada jaminan kalau pria seperti Alex akan berubah," sahut Fabio.


"Kak Bi, bagaimana dengan Alex? Bukankah dia ada di lokasi kejadian?"


"Ya. Aku sempat menangkapnya. Tapi sekarang dia sudah tidak ada di mansion ini lagi. Aku sudah membebaskannya. Anggap saja ini sebagai ucapan belasungkawaku atas pengorbanan yang dilakukan adiknya."

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia berpikir ini semua terjadi karena kita? Bagaimana kalau dia datang dan melakukan penyerangan lagi?" tanya Lara dengan wajah khawatir.


"Untuk saat ini dia masih ada di rumahnya bersama dengan Ny. Moritz," jawab Fabio.


"Ny. Moritz? Dia sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Lara tidak percaya.


Fabio mengangguk pelan. "Alfred yang menjemputnya dari rumah sakit itu. Bahkan Ny. Moritz juga sempat tinggal di rumah Alfred selama beberapa jam sebelum akhirnya di antar ke rumah lama mereka. Apa kau ingin bertemu dengannya?"


"Tidak. Aku hanya kaget saja. Ternyata secepat itu dia bisa sembuh," jawab Lara.


Fabio memegang tangan Lara dan mengecupnya dengan lembut. "Chubby, apa bisa kita lupakan semua masalah ini? Tidak lama lagi kita akan menikah. Sudah seharusnya kita memikirkan tentang pernikahan kita. Bukan memikirkan dan membahas hal-hal dan orang-orang tidak penting seperti Alex Moritz dan keluarganya."


"Tapi, aku juga tidak mau memaksamu. Mungkin kau masih belum bisa melupakan Greta," ucap Fabio lagi agar Lara tidak berpikir yang aneh-aneh tentangnya.


"Kak Bi, maafkan Lara."


"Maaf?" Fabio mengeryitkan dahi. "Maaf untuk apa?"


"Maaf karena sempat melupakan tentang rencana pernikahan kita."

__ADS_1


"Aku bisa mengerti," jawab Fabio dengan senyuman. Namun, tiba-tiba saja Fabio ingat dengan perkataan Alfred tadi. Wajah pria itu berubah sedih.


"Kak Bi, apa terjadi sesuatu? Kenapa Kak Bi jadi sedih?" tanya Lara khawatir.


"Lara, apa yang akan kau lakukan jika pernikahan kita sampai gagal?"


Deg. Lara mematung mendengar pertanyaan Fabio. Baginya pertanyaan seperti itu tidak lantas di tanyakan. Apa lagi dalam kondisi seperti sekarang.


"Kenapa Kak Bi bertanya seperti itu?"


"Jawab saja apa yang aku tanya," pinta Fabio dengan wajah memohon.


"Aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Greta," sahut Lara. Hal itu membuat Fabio tersenyum sambil mengangguk setuju.


"Ini baru wanitaku. Hidup bersama, susah senang juga bersama. Sampai-sampai ...."


"Matipun bersama," sahut Lara. "Aku gak bisa hidup tanpa Kak Bi. Aku sudah terlanjur cinta mati sama Kak Bi."


"Aku juga sangat mencintaimu Chubby." Fabio mengecup pucuk kepala Lara dengan penuh cinta. "Kita pasti bisa melewati semuanya ketika kita bersama ...."

__ADS_1


__ADS_2