
Lara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau sampai tertangkap lagi. Apa lagi sampai terjebak di rumah yang sama dengan Alex. Wanita itu kini bersikap waspada. Berulang kali ia memandang ke spion hanya untuk melihat ada atau tidak mobil yang mengikutinya.
"Kenapa sunyi sekali. Apa benar ini jalan keluar menuju ke kota? Bagaimana kalau aku tersesat?" gumam Lara di dalam hati.
Sepanjang mata memandang hanya ada kesunyian. Pepohonan yang tinggi berbaris di pinggir jalan. Embun pagi membuat pandangan menjadi tidak luas. Dedaunan menumpuk di jalan yang kini dilintasi Lara. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Bagaimana keadaan Kak Bi? Apa dia menang? Atau jangan-jangan Kak Bi kalah. Bagaimana kalau Kak Bi kalah dan terluka?" Lara terus saja memikirkan nasip Fabio. Padahal sebenarnya dirinya sendiri yang masih belum aman dan berada dalam zona bahaya.
Ketika sudah melaju cukup jauh, Lara melihat lampu mobil dari arah belakang. Wanita itu menjadi panik. Ia segera menambah laju mobilnya agar mobil yang di belakang tidak bisa mengejarnya.
"Mobil siapa itu? Bagaimana kalau itu mobil anak buah Kak Alex?" Lara melirik senjata api yang ia letakkan di dashboard mobil. Wanita itu akan menggunakan senjata api tersebut jika memang keadaan sangat mendesak.
Mobil yang ada di belakang semakin dekat. Walau Lara bisa melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, tetapi tetap saja ia kalah. Ketika mobil yang di belakang itu jaraknya hanya beberapa puluh meter lagi, Lara justru berhasil meninggalkan hutan. Wanita itu mulai menemukan padang rumput yang berada tidak jauh dari kota. Ada senyum bahagia di bibir Lara.
"Aku harus bisa tiba di mansion sebelum mobil di belakang berhasil menghentikanku," ujar Lara. Ia menambah laju mobilnya lebih cepat lagi tanpa mau memikirkan keselamatannya.
Di mobil belakang, Walter menggeleng pelan melihat tingkah laku Lara. Fabio yang sejak tadi duduk di sampingnya hanya memasang wajah tenang. Bahkan sesekali tersenyum ketika melihat Lara menambah laju mobilnya.
__ADS_1
"Bos, sepertinya Nona Lara berpikir kalau kita adalah musuh," ucap Walter.
"Ya. Dia belajar dari pengalaman. Tidak mau tertangkap untuk yang kedua kalinya," jawab Fabio.
"Bos, semakin kita kejar. Nona Lara melaju semakin cepat. Apa tidak sebaiknya kita kurangi kecepatan saja agar Nona Lara tidak celaka."
"Aku ingin melihat kemampuannya. Sepertinya dia cukup tangguh. Tidak selemah yang aku pikirkan."
"Jadi, kita kejar lagi Nona Lara, Bos?" tanya Walter untuk kembali memastikan.
"Ya," jawab Fabio mantap. Mendengar perintah dari Fabio membuat Walter tidak pikir-pikir lagi mengejar mobil Lara. Walau memang cukup beresiko, tetapi ia yakin Lara tidak akan mungkin mencelakakan dirinya sendiri.
"Bagaimana ini?" gumam Lara mulai panik. Ia menggenggam senjata api tersebut untuk berjaga-jaga.
Fabio dan Walter sama-sama turun dari mobil. Dua pria itu melangkah ke belakang mobil untuk menemui Lara. Lara merasa lega ketika pertama kali melihat wajah Fabio ada di depannya. Wanita itu ingin cepat-cepat turun tanpa ada rasa takut lagi.
"Kak Bi?" celetuk Lara. Ia segera turun dari mobil. Senyum terukir indah di wajahnya. Fabio juga tersenyum melihat Lara baik-baik saja. Pria itu membuka kedua tangannya untuk memeluk Lara.
__ADS_1
"Chubby, apa kau baik-baik saja?"
Lara belum mau menjawab. Wanita itu berlari sangat kencang dan berhambur ke dalam pelukan Fabio. "Kenapa Kak Bi menakutiku seperti tadi? Aku hampir saja menembak Kak Bi tadi," protes Lara ketika tubuhnya sudah ada di dalam pelukan Fabio.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin melihat kemampuanmu Lara. Kata Walter pukulan dan tembakanmu sudah lulus tes. Aku hanya ingin melihat kemampuan mengemudimu."
"Aku bisa karena terpaksa. Sebenarnya aku tidak sehebat yang kak Bi bayangkan."
Fabio melirik jam di tangannya. Alisnya saling bertaut. "Sudah waktunya. Ayo kita pergi."
"Ke mana?" Lara mengernyitkan dahi.
"Ke suatu tempat." Fabio membuka pintu mobil dan membiarkan Lara masuk ke dalam. Ia memandang wajah Walter sejenak sebelum masuk ke dalam mobil.
Walter melipat kedua tangannya ketika Fabio melakukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Ia bersandar di depan mobil sambil mengusap wajahnya yang mulai terasa perih.
"Bisa-bisanya Bos Fabio meninggalkanku begitu saja. Padahal jelas-jelas aku yang paling banyak berkorban di sini," umpat Walter di dalam hati.
__ADS_1
Hai reader .... ini ada rekomendasi Novel temen author. Semoga suka ya.