Unperfect Wife

Unperfect Wife
112. Tepat Waktu


__ADS_3

"Walter!" teriak Lara sekencang-kencangnya. Wanita itu tidak rela jika sampai Walter mengambil tindakan seperti itu. Dia lelah melihat kematian. Bagi Lara, tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kematian. Masih ada banyak solusi untuk menyelesaikannya.


Walter menurunkan senjata apinya. Ternyata pria itu hanya menggertak saja. Tembakan yang dibuat Walter memang telah berhasil membuat Ny. Moritz mematung di tempatnya berdiri.


Alex juga berdiri sambil memegang lengan yang terluka. Ternyata pria itu hanya terluka di bagian tangannya saja. Ia sengaja pura-pura pingsan untuk memastikan siapa yang sudah berani menembaknya. Tadinya dia menuduh Fabio pelakunya. Tidak di sangka, kalau orang yang ingin melihat dia mati adalah wanita yang selama ini ia panggil mama.


"Mama tega bunuh Alex? Apa seburuk itu Alex di mata mama?" lirih Alex.


Ny. Moritz memutar tubuhnya dan memandang Alex dengan penuh kebencian. "Apa kau lupa? Kau sendiri yang meminta orang untuk membawaku ke rumah sakit jiwa. Kau tidak pernah mempedulikanku saat itu. Jadi, berhentilah memanggilku mama!" sahut Ny. Moritz.


Fabio hanya diam mendengarkan apa yang dibicarakan Ny. Moritz dan Alex. Lara sudah ia letakkan di belakang tubuhnya. Jika saja Ny. Moritz kembali mengincar Lara, mungkin orang yang pertama kali terkena tembak adalah Fabio.


"Ma, tenanglah," bujuk Alex. Ia melirik Walter. Sebenarnya tidak pernah ada kecocokan di antara mereka. Namun, entah kenapa tatapan Alex kali ini berhasil membuat Walter paham sebenarnya apa yang diminta pria itu. Secara perlahan Walter berjalan untuk menaklukkan Ny. Moritz. Mereka harus berhasil merampas senjata api tersebut.


"Kembalikan Greta! Kembalikan suamiku!" teriak Ny. Moritz.

__ADS_1


Alex masih berusaha mempertahankan Ny. Moritz agar tetap memandang wajahnya. Dengan begitu Walter bisa berhasil menangkap Ny. Moritz.


"Maafkan Alex, Ma. Alex tahu Alex salah."


"Maafmu tidak bisa mengembangkan mereka!" Ny. Moritz mengangkat senjata apinya. "Kau harus mati!"


Di waktu yang bersamaan, Walter berhasil membuat pistol yang ada di tangan Ny. Moritz terlepas. Pria itu juga mengamankan Ny. Moritz agar tidak bisa kabur.


Alex melangkah maju. Ia sendiri yang akan menangani Ny. Moritz. "Serahkan padaku!"


"Lepaskan saya! Saya ingin bebas!"


Lara menunduk karena tidak tega melihat pemandangan itu. Memang hatinya pernah di buat sakit hati oleh keluarga Moritz. Namun, melihat kehancuran keluarga Moritz hingga seperti itu tidak menjamin kalau Lara akan bahagia.


Alex melirik wajah Fabio sekilas ketika mereka berpapasan sebelum melangkah menuju ke mobil. Fabio tetap memasang ekspresi dingin seolah tidak ada masalah di sana. Ia memutar tubuhnya dan memandang Lara ketika Alex sudah benar-benar jauh dari posisi mereka.

__ADS_1


"Apa kau menangis?"


Lara menggeleng. "Kasihan Greta."


Fabio menarik tubuh Lara dan memeluknya. "Itu keputusannya. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri."


"Tapi, aku selalu merasa kalau aku pembawa sial di dalam keluarga Moritz."


"Sssttt. Jangan bicara seperti itu. Kau wanita yang membawa keberuntungan bagi semua orang. Keluarga Moritz hancur karena kesalahan mereka sendiri. Kau sama sekali tidak terlibat. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu seperti itu."


"Kak Bi, bawa aku pergi dari sini. Aku lelah ingin istirahat," pinta Lara.


Fabio mengangguk mendengar permintaan Lara. Pria itu mengangkat tubuh Lara ke dalam gendongan. "Kita pulang ya. Kau harus istirahat karena besok kita akan melalui hari yang sangat melelahkan.


Lara hanya diam membisu. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Fabio sebelum memejamkan mata. "Aku harap semua akan baik-baik saja di pesta pernikahan kami nanti."

__ADS_1


__ADS_2