
Semua orang yang ada di meja makan kaget mendengar teriakan Lara. Namun, tidak ada yang berani komentar apapun karena Tuan Moritz ada di sana. Lara tidak mau makanan-makanan lezat dihadapannya di buang dengan sia-sia. Sayang sekali rasanya. Biasanya Lara harus mengeluarkan uang banyak untuk memperoleh makanan yang ada di depannya.
“Baik, Nona.” Pelayan itu juga tidak berani melakukan tindakan apapun. Ia kembali mundur ke tempatnya semula. Membiarkan semua makanan yang ada di atas meja tetap pada tempatnya.
Lara tersenyum melihat aneka makanan di depannya. Tanpa pikir-pikir lagi, ia mengambil satu persatu makanan yang ada di hadapannya dan melahapnya dengan cepat. Bahkan hanya beberapa sendokan saja porsi permangkuk bisa habis ia buat.
Greta yang tadinya hanya fokus ke ponselnya kini memandang Lara dengan wajah kaget. Sama seperti ekspresi wajah Alex dan Ny. Moritz saat ini. Berbeda dengan Tuan Moritz yang tersenyum bahagia melihat tingkah laku menantunya. Lara membuat moodnya pagi ini kembali membaik. Tadinya ia merasa pusing karena baru saja bertengkar dengan istrinya di kamar. Melihat tingkah laku Lara seperti ini membuatnya lupa atas masalah yang ia hadapi.
“Lara, itu belum habis,” tawar Tuan Moritz lagi. Baru ini ia melihat langsung orang yang makan banyak tanpa malu-malu. Kepolosan Lara membuat Tuan Moritz bahagia karena ia tahu kalau Lara bukan tipe wanita yang munafik. Tidak pernah menutupi sifat buruknya di depan orang lain.
“Ya, Pa,” jawab Lara dengan mulut yang masih mengunyah makanan. Ia mengambil makanan yang masih utuh dan melahapnya dengan penuh semangat.
“Apa kau suka?”
Lara mengangguk. “Ini sangat enak, Pa!” jawab Lara mantap.
Hingga akhirnya Lara berhasil menghabiskan semua makanan yang terhidang di meja makan. Ia meneguk air putih dan bersandar dengan wajah kekenyangan. Ny. Moritz dibuat tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu memegang kepalanya dan memijatnya dengan lembut.
“Apa dia benar-benar manusia?” sindir Ny. Moritz.
“Aku ingin muntah melihatnya!” ketus Greta. Wanita itu segera pergi meninggalkan meja makan. Begitu juga dengan Ny. Moritz. Tersisa Alex, Tuan Moritz dan Lara di sana.
Lara membersihkan bibirnya dengan tisu. Ia senang bisa makan enak dan gratis. Namun, kini ia menyesal karena lagi-lagi harga dirinya hilang. “Maafkan Greta, Pa.”
__ADS_1
“Kenapa harus minta maaf? Papa senang karena akhirnya makanan ini tidak berakhir di tong sampah,” jawab Tuan Moritz. Ia memandang Alex yang sejak tadi membisu karena tidak tahu harus bicara apa. “Alex, nanti malam Tuan Hary mengundang papa dan mama untuk datang ke perjamuan makan malam. Tapi, papa harus menghadiri rapat penting malam ini. Papa minta kau yang datang ke kediaman Tuan Hary malam ini menggantikan Papa.”
“Baik, Pa.”
“Ajak Lara!” sambung Tuan Moritz lagi.
Alex memandang Lara sebelum menatap wajah Tuan Moritz lagi. “No, Pa!”
“Alex!” teriak Tuan Moritz marah.
“Pa, Lara tidak bisa ikut,” ucap Lara cepat. Ia tidak mau ada perdebatan di sana.
“Tapi, kenapa Lara?” Tuan Moritz curiga. “Apa Alex mengancammu?”
“Papa dengar sendiri kan?” sindir Alex.
Tuan Moritz tidak bisa memaksa lagi. “Baiklah. Tapi, ingat Alex! Lara istrimu. Kau harus tahu tugasmu sebagai seorang suami.”
“Baik, Pa,” jawab Alex malas.
“Lara, antar Alex ke depan. Mulai sekarang, Papa mau kau mengantar suamimu pergi bekerja dan selalu ada di rumah sebelum suamimu pulang kerja,” ucap Tuan Moritz.
“Baik, Pa.” Lara beranjak dari kursi. Ia berjalan mendekati Alex. Dari tatapan Alex saja ia sudah tahu kalau suaminya itu masih benci dan jijik padanya. Tapi, Lara yakin. Suatu saat pria itu pasti bisa menerimanya dan bersikap baik padanya. Tidak harus diperlakukan seperti seorang ratu. Di anggap ada saja keberadaanya sebagai seorang istri, Lara sudah senang.
__ADS_1
“Sini Kak. Biar Lara bawa tasnya,” pinta Lara.
Alex memberikan tas yang tadi ia genggam kepada Lara sebelum melangkah pergi. Lara segera mengikuti Alex dari belakang dengan langkah yang cepat. Sebenarnya ia sendiri tidak bisa berjalan-jalan setelah makan seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi.
“Aku janji! Aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku tidak akan mau memakan semua makanan yang ada di meja seperti tadi. Aku tidak mau terus-terusan memberi kesan jelek di mata Kak Alex,” gumam Lara di dalam hati.
***
Setibanya di depan pintu, Alex merampas tas yang ada di genggaman Lara. Pria itu menatap Lara dengan tatapan menyala-nyala. “Aku peringatkan padamu, Lara. Jangan pernah ceritakan sama Papa apa yang terjadi tadi malam! Aku juga tidak mau papa tahu, kalau sebenarnya aku sangat jijik padamu. Jika kau sampai berani mengatakan semuanya kepada Papa. Kau harus siap-siap menerima hukuman dariku! Apa kau paham?” bentak Alex.
“Lara mengerti Kak,” jawab Lara dengan kepala menunduk karena takut.
Alex mengelurkan sejumlah uang dari dompetnya. “Kau bisa gunakan ini untuk membeli pakaian dan segala kebutuhanmu! Aku tidak mau melihatmu memakai baju jelek seperti ini lagi.” Alex melangkah pergi. Namun ia berhenti lagi. “Oh, Ya. Satu lagi. Katakan sama Papa kalau aku menyuruhmu belanja baju dan keperluan lain hari ini!”
“Baik, Kak,” jawab Lara.
Alex segera masuk ke dalam mobil. Mobil itu segera melaju cepat meninggalkan rumah. Lara masih mematung di sana sambil memandang uang yang ada di tangannya. Lara sangat bahagia bisa mendapat uang dari suaminya. “Kak Alex ternyata cuek gitu tapi perhatian juga. Semoga saja ia segera sadar dan bisa segera mencintaiku,” gumam Lara penuh harap.
Di sisi lain, Hana tersenyum penuh arti melihat kejadian di pintu depan. Ia segera memberi tahu Fiona apa yang terjadi pagi ini. Tidak lupa ia memberi tahu wanita itu kalau malam pertama Alex dan Lara gagal.
“Nona, Tuan Alex memberi wanita itu uang yang banyak untuk belanja. Tadi di meja makan ia menghabiskan semua makanan yang tersaji. Sepertinya Tuan Alex semakin ilfeel padanya.” Hana merasa sangat puas bisa memberi informasi berguna seperti itu karena setiap informasi yang ia berikan, ia akan mendapat bonus yang besar dari Fiona.
“Baiklah. Setelah ini aku harus melakukan tugasku dengan baik. Aku harus bisa membuat wanita ini percaya kalau aku adalah satu-satunya orang baik yang bisa ia percaya di rumah ini. Dengan begitu aku akan tahu, apa saja yang ingin ia lakukan,” gumam Hana di dalam hati. Ia segera pergi dari sana karena takut ada yang melihat keberadaannya.
__ADS_1