
Ketika Lara tengah asyik memikirkan penyakit yang kini di derita Fabio. Namun, Fabio sendiri terlihat sedang kebingungan. Ia memegang dadanya yang lagi-lagi berdebar tak menentu. Pria itu masih tetap menyangkal apa yang dikatakan Alfred. Ia merasa kalau dirinya tidak sedang jatuh cinta. Fabio tidak suka jatuh cinta karena baginya wanita hanya merepotkan saja. Misinya terlalu berbahaya. Ia tidak mau menjadi lemah hanya karena seorang wanita.
"Sepertinya jantungku kumat lagi. Mana Alfred sudah ku usir lagi," gumam Fabio di dalam hati.
"Kak Bi," sapa Lara. Ia menatap wajah Fabio dengan serius. "Kak Bi baik-baik saja?"
Fabio melirik Lara sekilas sebelum mengangguk pelan. "Apa kau sudah makan?"
Lara menggeleng pelan. "Lara khawatir sama keadaan Kak Bi. Jadi Lara menunda jam makan Lara. Kalau Kak Bi, apa uda makan?" Wajah Lara kelihatan sangat khawatir. Ia benar-benar tidak mau kalau Fabio beneran sakit.
"Belum. Ayo kita makan," ajak Fabio dengan wajah cuek. Ia berjalan lebih dulu menuju ke meja makan.
Lara mengikuti Fabio dari belakang tanpa berani bertanya apa-apa lagi. Masih ada rasa segan untuk bersikap terlalu akrab kepada Fabio. Lara sadar diri, posisinya di rumah itu siapa. Dia hanya wanita yang kebetulan beruntung bisa dapat pertolongan Fabio. Lara tidak mau berharap lebih. Apa lagi sampai jatuh cinta dan pacaran sama Fabio.
Di depan, Alfred dan Walter justru duduk di kursi yang letaknya tidak terlalu jauh dari kolam ikan. Di halaman depan mansion ada kolam ikan yang dilengkapi dengan miniatur air terjun. Duduk di sana sambil menunggu seseorang pulang adalah pilihan yang tepat. Sayangnya, sejauh ini belum ada yang duduk di kursi tersebut untuk menunggu seseorang. Justru kursi itu berdebu karena jarang digunakan.
"Apa Tuan Fabio jatuh cinta pada Lara?" tanya Alfred.
"Sepertinya iya. Akhir-akhir ini aku lihat tingkah lakunya menjadi aneh. Dia tidak seperti biasa," jawab Walter.
__ADS_1
"Sejak kapan mereka bertemu?"
"Enam bulan yang lalu. Tetapi saat itu mereka tidak terlalu dekat. Setelah Bos kembali ke mansion ini dan bertemu dengan Nona Lara yang sekarang. Ia jadi lebih sering mengabaikan tugasnya. Lebih sering ngikuti kemana Nona Lara pergi. Bahkan rela habiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk memastikan Nona Lara sudah tidur atau belum," jawab Walter apa adanya.
"Bagaimana dengan Lara? Apa Lara menunjukkan hal yang sama?" tanya Alfred penasaran.
"Sepertinya tidak. Nona Lara memandang Bos Fabio sebagai sosok pahlawan. Bukan sebagai pria yang ia cintai. Justru, di situlah saya merasa khawatir. Bukankah cinta tidak bisa di paksakan? Saya takut, Nona Lara tidak pernah bisa membalas cinta Bos Fabio. Hal itu akan membuat Bos Fabio patah hati di jatuh cinta perdananya."
"Tidak akan pernah terjadi. Aku akan membuat mereka menyatu. Soal Lara akan menjadi urusanku. Bagaimana?" tawar Alfred.
"Kedengarannya tidak mudah. Bahkan membayangkannya saja sudah terasa sulit. Bos Fabio tidak akan pernah mau mengaku kalau dia sudah jatuh cinta. Apa kau ingin membuat Nona Lara yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu?"
"Tentu saja tidak. Aku akan buat Bos kita yang ungkapin lebih dulu."
"Bukankah selama ini kau mengurus perusahaan milik Tuan Fabio?"
"Ya."
"Aku akan buat Lara bekerja di perusahaan tersebut."
__ADS_1
"Kenapa kau menjauhkan mereka?" Walter mengeryit tidak setuju.
"Aku bukan menjauhkan mereka. Aku hanya membuat mereka semakin dekat. Aku yakin, selama Lara bekerja di perusahaan itu Tuan Fabio pasti akan sering muncul di perusahaan. Beri Lara posisi yang bisa membuatnya selalu dekat dengan Tuan Fabio."
"Baiklah. Aku mengerti sekarang. Apa Nona Lara wanita yang pintar?"
"Dia wanita yang pintar cuma terkadang suka malas. Tapi kali ini aku berani menjamin kalau Lara akan rajin bekerja dan tidak merugikan perusahaan."
"Baiklah. Aku akan segera memasukkan Nona Lara ke perusahaan dalam waktu dekat. Sepertinya Nona Lara juga tidak bisa pergi dari rumah ini. Dia pasti bosan jika tidak melakukan kegiatan apapun."
Walter dan Alfred kerja sama untuk menyatukan Fabio dan Lara. Mungkin bagi sebagian pekerja di rumah itu menikah atau tidaknya Fabio tidak menjadi hal yang penting bagi mereka. Namun, pemikiran Walter dan Alfred berbeda. Mereka percaya kalau setelah Fabio menikah, pria itu akan menjadi dirinya sendiri. Apa lagi jika dia menikah dengan wanita yang ia cintai.
Selama ini Fabio sudah hidup di tengah genangan darah. Mereka ingin Fabio menjauh dari genangan darah tersebut. Mereka ingin hidup Fabio lebih berwarna. Hanya Lara satu-satunya harapan mereka untuk memujudkan impian mereka tersebut. Karena sejauh ini, belum ada wanita yang berhasil menaklukkan hati sang big Boss.
Di sisi lain, Greta duduk di atas kasur sambil membawa surat yang di tuliskan oleh Lara. Tidak banyak memang yang dikatakan Lara di dalam surat tersebut. Namun, dari surat itu Greta bisa tahu kalau Lara sudah berhasil membalaskan sakit hatinya. Tetapi Lara tidak mau Greta dan Ny. Moritz ikut menderita.
"Kak Lara menyimpan uang papa dan memberikannya kepadaku. Jika saja Kak Lara bukan wanita yang baik. Dia pasti akan menghabiskan uang ini untuk keperluannya sendiri. Toh aku dan Kak Alex juga tidak akan tahu. Tetapi di surat ini kenapa Kak Lara memintaku untuk tinggal di rumah lama Kak Lara? Kenapa dia tidak membiarkanku tinggal di apartemen yang pernah di belikan papa? Apa Kak Lara takut Kak Alex tahu kalau aku ada di pihak Kak Lara? Dengan begitu Kak Alex pasti akan marah dan menuduhku yang bukan-bukan? Apa lagi jika Kak Alex sampai tahu soal uang ini. Pasti Kak Alex akan merampasnya."
Greta meletakkan surat tersebut di atas meja. Kini wanita itu ada di salah satu hotel bintang lima. Ia sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah utama. Tetapi sebelum berangkat seseorang memberikan surat tersebut. Greta memutuskan untuk membacanya sekarang sebelum pulang.
__ADS_1
Tadinya Greta juga sempat salah paham ketika mendengar kabar kalau Lara telah meletakkan ibu kandungnya di rumah sakit jiwa. Tetapi, setelah membaca penjelasan yang dituliskan Lara. Greta mulai paham. Semua ini untuk kebaikan dirinya dan Ibu kandungnya. Lara hanya ingin yang terbaik untuk mereka berdua. Lara tidak mau mereka berdua sampai celaka dan sengsara.
"Baiklah. Aku akan ikut apa yang sudah direncanakan Kak Lara. Aku juga gak mau sampai bertemu dengan Kak Fiona. Bukannya Apartemenku dekat dengan rumah Kak Fiona?" gumam Greta. Ia belum tahu kalau sebenarnya Fiona sudah tiada. Ia masih berpikiran kalau Alex dan Fiona masih menjalin hubungan.