
Greta duduk dengan kaki tertekuk. Dia duduk di atas sofa yang ada di dekat jendela. Walau kini dia ada di kamar mewah dan luas, tetap saja rasanya tidak nyaman. Greta tahu kalau dia hanya dijadikan bahan untuk mendapatkan Lara. Greta sendiri tidak mau sampai hal itu terjadi. Walau Alex kakak kandungnya sendiri, tetapi dia lebih mendukung keputusan Lara untuk meninggalkan Alex.
"Apa Kak Alex berhasil menjebak Kak Lara? Bagaimana nasip Kak Lara kalau sampai tertangkap Kak Alex. Pria yang mirip dengan Kak Alex itu siapa? Sebenarnya dia beneran mirip atau sengaja merubah wajahnya seperti Kak Alex? Apa pakai topeng ya?" gumam Greta penuh tanda tanya.
Suara ketukan pintu terdengar dari depan. Greta menurunkan kedua kakinya. Ia berharap kalau Alex yang muncul di sana. Ia ingin membujuk kakak kandungnya lagi walau kemungkinannya kecil.
Ketika pintu terbuka, ternyata yang masuk seorang pelayan. Pelayan itu masuk dengan nampan yang berisi makan malam untuk Greta. Langkahnya sangat cepat. Ia segera meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.
"Apa Kak Alex sudah pulang?" tanya Greta dengan suara pelan.
__ADS_1
"Belum, Nona." Pelayan itu kembali melanjutkan pekerjaannya setelah menjawab pertanyaan Greta.
Greta melirik pintu yang terbuka. "Apa ini kesempatan untukku kabur dari kamar ini?" Greta mengatur napasnya. Ia memperhatikan pelayan itu lagi sebelum akhirnya.
"Maafkan aku!" Greta mendorong pelayan itu sampai terjatuh sebelum berlari kencang menuju ke pintu. Tidak lupa ia mengambil kunci kamar agar bisa mengunci pintu itu dari luar.
"Nona, jangan kabur!" teriak pelayan itu.
"Aku harus cepat. Jangan sampai ada yang dengar teriakan wanita ini." Greta berlari ke arah pintu samping. Ia tahu kalau di pintu depan akan ada banyak sekali pengawal yang berjaga. Tidak mau tertangkap, Greta memilih untuk kabur dari tempat yang tidak ada penjaganya.
__ADS_1
Ketika sudah tiba di dekat kolam renang, Greta terlihat semakin bingung. Ia bingung mau lari ke mana. Kolam renang itu ternyata di kelilingi tembok yang menjulang tinggi. Tidak ada jalan keluar selain kembali ke dalam atau memanjat tembok batu tersebut.
"Aku pasti bisa kabur dari tempat ini. Aku tidak mau sampai di kurung lagi," ujar Greta. Ia berlari mengelilingi kolam renang sebelum berdiri di depan tembok. Memang permukaannya tidak rata. Ada batu-batu besar yang bisa di gunakan Greta sebagai tempat memijakkan kaki.
"Nona, apa yang anda lakukan?"
Mendengar teriakkan pengawal itu membuat Greta menjadi tambah semangat untuk memanjat. Greta memang tidak memiliki keahlian dalam memanjat tebing. Tetapi dia pernah memanjatnya. Jadi, hal ini bukan yang pertama baginya. Walau tanpa menggunakan alat pengaman diri, ia tetap bertekad untuk kabur.
"Nona." Pengawal itu berlari hingga membuat Greta mempercepat gerakannya. Ia terus saja memanjat hingga berhasil tiba di pucuk tembok. Ketika memandang apa yang ada di balik tembok, kedua mata Greta melebar. Ia tidak menyangka kalau tembok itu berbatas dengan hutan. Jika dia melompat, itu sama saja seperti akan bunuh diri. Jurang yang begitu dalam dan mematikan itu membuat nyali Greta hilang. Hingga akhirnya ia memilih untuk berdiam diri di tempatnya berada. Sedangkan para pengawal sudah kebingungan memikirkan cara agar Greta segera turun.
__ADS_1
Dari lokasi yang tidak terlalu jauh, Walter tersenyum melihat tingkah laku Greta. Pria itu sampai geleng-geleng kepala melihat Greta berdiri di atas tembok yang membatasi antara rumah dan hutan.
"Bisa-bisanya dia memilih jalan kabur yang salah!," gumam Walter sebelum kembali mengamati Greta melalui teropong yang ia genggam.