
Alfred berdiri di depan Walter dan Greta. Pria itu mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada Walter. Jelas saja Walter sendiri menjadi penasaran. Sebenarnya apa isi di dalam surat tersebut.
"Apa ini?"
"Kau bisa membaca isinya sendiri!" sahut Dokter Alfred tanpa tertarik untuk menjelaskan. Greta memilih diam sambil mencari tahu sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh dua pria yang ada di hadapannya. Sambil menunggu reaksi yang diberikan Walter, Greta mulai merasa sesuatu yang aneh.
"Sepertinya aku pernah melihat dokter ini. Tapi dimana?" gumam Greta di dalam hati.
Walter membaca surat itu dengan sebaik mungkin. Tidak ada satu kalimat pun yang terlewat. Hingga pada akhirnya, ekspresi pria itu membuat khawatir semua orang.
"Dia sudah sembuh?" Walter tersenyum sebelum mengangguk.
"Sekarang dimana dia?"
"Saya membawanya ke rumah. Sepertinya semua rencana kita akan berjalan lancar," jawab Dokter Alfred penuh percaya diri.
"Tapi, kenapa bisa secepat itu?"
Dokter Alfred memandang wajah Greta sebelum menjelaskan. "Karena sebenarnya dia tidak gila. Dia hanya syok saja ketika mengetahui kehancuran keluarganya sendiri."
__ADS_1
Greta mengeryitkan dahinya. "Maaf, dok. Kenapa anda melihat saya seperti itu?"
"Nona, apa anda mau membantu kami?"
"Membantu? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Greta semakin bingung.
"Sebaiknya Nona Greta segera masuk saja ke dalam. Masalah ini kita bicarakan nanti."
"Baiklah," jawab Greta sedikit malas. Wanita itu segera masuk ke dalam karena penasaran sebenarnya siapa yang sudah menunggunya di dalam. Setelah Greta masuk, Walter dan Alfred saling memandang satu sama lain.
"Jangan katakan apapun padanya. Kita belum tahu, sebenarnya dia ada di pihak siapa."
"Tapi orang yang kita bahas tadi adalah ibu kandungnya. Sebagai anak dia berhak tahu kabar terbaru ibu kandungnya," sahut Dokter Alfred.
"Oke, baiklah. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Jaga Nyonya Moritz. Pastikan dia tetap ada di rumah dokter sampai nanti kami memikirkan cara untuk menangkap Alex. Tadi Bos Fabio bilang. Kalau dia ingin semua keadaan tetap tenang sampai beberapa hari."
Dokter Alfred memandang ke arah lain. "Tapi, aku merasa keadaan kalian tidak akan pernah tenang."
__ADS_1
Di dalam mansion, Greta berdiri sambil memandang kanan dan kiri. Ia terlihat seperti orang kebingungan. Mansion itu sangat luas. Dia tidak tahu harus kemana. Ketika mendengar tawa seorang wanita, Greta memutuskan untuk melangkah menuju ke sumber suara tersebut. Langkahnya sangat pelan dan hati-hati.
"Bukannya itu suara Kak Lara?" gumamnya di dalam hati. Greta melangkah lebih cepat lagi. Ketika ia tiba di sebuah ruangan mewah yang sangat luas, Greta berhenti sambil memandang ke depan. Di sana ia melihat Lara dan Fabio sedang bersenda gurau. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Ada senyum manis di wajah Greta. Ia sangat senang bisa melihat kakak iparnya lagi.
"Kak Lara," ucap Greta.
Lara dan Fabio memandang ke arah Greta. Orang yang paling bahagia saat itu adalah Lara. Dengan penuh semangat ia berdiri dari sofa yang ia duduki. "Greta."
Greta sampai menangis karena bahagia. Ini sebuah kejutan yang membuatnya sangat-sangat bahagia. Ingin sekali rasanya ia mengungkapkan ribuan terima kasih kepada Walter karena sudah membawanya bertemu dengan Lara.
Lara berjalan mendekati Greta. Begitu juga dengan Greta yang kini berlari mendekati Lara. Dua wanita itu saling berpelukan. Mereka terlihat sama-sama bahagia.
"Kak Lara. Greta senang bisa bertemu kakak lagi."
"Kakak juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Kakak sangat mengkhawatirkanmu tadi. Apa Alex melakukan sesuatu padamu?"
Greta menggeleng pelan. "Kak, dimana ini? Tempat apa ini?"
"Ini ...." Greta memandang wajah Fabio sekilas sebelum memandang Greta lagi. "Greta, siapa yang sudah membawamu ke mari?"
__ADS_1
"Pinky boy!" ketus Greta.
Lara mengernyitkan dahinya. "Pinky Boy? Siapa!"