
Lara membuka matanya secara perlahan dengan kondisi tubuh yang masih sakit. Kakinya terasa berdenyut. Kepalanya seperti ditarik-tarik. Bahkan perutnya juga mual karena semalam seharian tidak makan dan kena hujan. Ketika menyadari kini dirinya berbaring di atas ranjang yang empuk dan kamar mewah, Lara terkejut. Wanita berbadan besar itu segera duduk di atas tempat tidur dengan wajah tidak percaya.
“Di mana ini?” bisiknya.
“Di kamar,” jawab seseorang.
Lara memiringkan kepalanya ke kiri dan melihat pria berpakaian rapi berdiri di samping sofa. Pria itu melempar senyum ke Lara. Lara mengeryitkan dahi. Ia seperti pernah melihat pria itu. Tapi, ia ragu kalau memang pria yang kini ada di depannya adalah pria yang sama. Penampilan mereka terlihat jauh berbeda.
“Chubby, kau sudah sadar?” tanya pria itu.
“Chubby? Siapa Chubby?” tanya Lara bingung.
“Ehm, maksudku.” Pria itu salah tingkah. Ia memejamkan matanya sejenak. “Anda sudah sadar, Nona ….” Pria itu menahan kalimatnya menunggu Lara menjawab namanya.
“Lara. Nama saya Lara,” jawab Lara.
Pria itu mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati Lara. “Perkenalkan, nama saya Fabio,” ucap pria itu memperkenalkan diri.
Lara melirik tangan pria itu dengan perasaan takut-takut sebelum membalas uluran tangannya.
“Saya Lara Alessandra,” jawab Lara pelan. “Kalau boleh saya tahu, kenapa anda membawa saya ke tempat ini? Di mana ini?”
“Ini rumah saya,” jawab Fabio.
“Rumah anda?” Lara masih tidak percaya. Kamar yang kini ia tempati luasnya melebihi luas kamarnya yang lama. Tidak bisa dibayangkan bagaimana besar dan luasnya rumah tersebut.
“Ya,” jawab Fabio.
“Kenapa anda membawa saya ke sini?”
“Karena ….” Fabio memikirkan sesuatu. Pria itu diam sejenak. “Aku tidak mungkin bilang kalau dia yang menyebabkan aku kecelakaan tadi malam. Jika aku memberi tahunya, dia akan jadi segan. Aku tidak jadi balas budi,” gumam Fabio di dalam hati.
“Tuan Fabio, apa kita pernah bertemu?” tanya Lara lagi. Padahal pertanyaannya yang tadi saja belum di jawab.
“Ya, pernah.” Fabio berjalan ke arah meja hias yang tersusun benda-benda kaca di dalamnya. Pria itu mengambil kotak nasi dan botol minum yang pernah diberikan Lara kepadanya.
__ADS_1
“Mungkin dua benda ini bisa mengingatkan anda dengan saya,” ucap Fabio.
Lara lagi-lagi mematung. Ia tidak percaya kalau orang yang ia tolong semalam adalah pria kaya raya dan terhormat. Bukan pria brandal yang habis berkelahi seperti dipikiran Lara.
“Anda, pria berandal itu?” tanya Lara memastikan.
“Berandal?” Fabio mengeryitkan dahi.
Lara menutup mulutnya. “Maafkan saya.” Lara menunduk dengan rasa bersalah.
Fabio tertawa kecil. “Tidak masalah. Saya memang berandal!” jawab Fabio. “Kalau saya boleh tahu, kenapa anda bisa sampai pingsan di jalan? Saya tidak tahu di mana rumah anda. Maka dari itu saya membawa anda ke mari.”
“Rumah?” Wajah Lara kembali sedih. Bahkan dalam hitungan detik saja, buliran air mata sudah menggenang di matanya. “Saya tidak punya tempat tinggal.”
Bersamaan dengan itu, air mata kembali menetes. Lara berusaha tegar dan menghapus air mata di pipinya. Ia tidak mau terlihat sedih lagi. Walau memang sebenarnya hatinya kini belum rela melupakan semua kejahatan yang Alex lakukan terhadapnya.
“Sepertinya dia baru saja memiliki masalah yang berat. Sebaiknya aku tidak mendesaknya dulu,” gumam Fabio di dalam hati.
“Maafkan saya. Tidak seharusnya saya merepotkan anda,” ucap Lara dengan senyuman yang di paksa.
“Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih. Jika anda tidak memberikan minum dan makanan kepada saya kemarin, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya,” sahut Fabio.
“Anda terlalu membesar-besarkan hal kecil. Itu hanya makanan murahan yang tidak ada artinya. Sedangkan anda, terlihat seperti pria yang bisa mendapatkan makanan apapun yang anda inginkan.”
“Ya. Tapi, semua yang saya miliki tidak ada gunanya kemarin!”
“Apa saya boleh minta sesuatu?” ucap Lara dengan wajah memohon.
“Boleh. Katakan. Apa yang anda inginkan? Saya akan mengabulkannya,” jawab Fabio cepat.
“Bolehkan saya bekerja di rumah ini? Saya butuh uang dan tempat tinggal. Untuk saat ini saya ingin menghilang dari seseorang. Saya tidak mau bertemu dengannya dulu,” pinta Lara.
“Bekerja?” Fabio menautkan kedua alisnya.
“Apa permintaan itu terlalu sulit untuk dikabulkan? Kenapa dia memasang ekspresi seperti itu? Kelihatannya dia marah,” gumam Lara di dalam hati.
__ADS_1
“Jika anda keberatan, tidak di gaji juga tidak apa-apa.”
“Nona Lara. Anda tidak perlu bekerja. Anda boleh tinggal di rumah ini sampai kapanpun. Jika anda bosan, anda baru boleh pergi.”
“Benarkah?” Wajah Lara berseri.
“Ya,” jawab Fabio setuju.
“Terima kasih, Tuan. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Fabio memandang wajah Lara dengan bibir tersenyum. “Ternyata dia wanita yang periang. Tidak sesedih yang aku pikirkan,” gumam Fabio di dalam hati.
Lara memandang ke depan. “Aku harus bisa memikirkan cara agar bisa membuat Dia harus membayar semua yang sudah dia perbuat. Tidak hanya Kak Alex. Aku ingin semua orang yang menyakitiku merasakan apa yang pernah aku rasakan. Aku tidak akan pernah memiliki niat jahat seperti ini jika tidak ada yang mulai,” umpat Lara di dalam hati.
“Oh ya, Nona. Ini jam yang ditemukan pelayan di saku anda. Saya pikir jam ini sangat berharga bagi anda,” ucap Fabio. Pria itu memberikan jam peninggalan Tuan Moritz kepada Lara.
“Papa,” lirih Lara. Ia menerima jam itu dan menggenggamnya. Kekuatannya bertambah ketika ia membayangkan wajah Tuan Moritz sebelum pergi untuk selama-lamanya.
“Nona, saya pergi dulu. Jika bosan anda bisa keluar kamar. Saya akan meminta satu pelayan untuk menemani anda dan menyiapkan segala hal yang anda butuhkan.”
“Tidak, Tuan. Jangan seperti itu. Saya tidak sespesial yang anda pikirkan. Saya tidak sanggup membalas kebaikan anda,” tolak Lara dengan rasa segan.
“Nona, saya sudah pikirkan semua ini. Jika kemarin anda tidak ada di sana, mungkin detik ini saya tidak akan bisa berdiri di sini,” ucap Fabio tanpa mau menjelaskan sebenarnya apa yang telah terjadi.
“Tetapi ....”
“Saya pergi dulu. Ada urusan yang harus saya selesaikan.” Fabio melangkah pergi meninggalkan kamar yang ditempati Lara. Pria itu melirik jam yang ada di pergelangan tangannya sebelum menghela napas kasar. “Aku terlambat lima menit!”
Lara memandang punggung Fabio hingga pria itu menghilang. Setelah pintu tertutup, Lara memandang jam tangan yang ada di genggamannya.
"Pa, apa jam ini adalah jam keberuntungan? Ada pria baik yang menolongku tanpa mempermasalahkan penampilanku. Walau sebenarnya aku tidak tahu, dia pria baik atau bukan. Tetapi, setidaknya hari ini Lara tidak pusing lagi memikirkan tempat tinggal."
__ADS_1