Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 95. Hadiah Tanpa Harga


__ADS_3

Setelah Alfred dan Walter pergi, Lara segera mencubit perut Fabio dengan begitu kuat. Ia lampiaskan rasa kesalnya karena sudah di bohongi. Wanita itu bahkan mengambil bantal yang ada di dekatnya lalu memukul wajah Fabio dengan bantal tersebut.


"Kak Bi jahat! Kenapa Kak Bi bohong!" teriak Lara.


"Chubby, maafkan aku. Ini semua ide Alfred. Salahkan dia jika kau ingin marah!" sahut Fabio sambil menutup wajahnya dengan tangan.


Lara menahan gerakannya. Ia memandang Fabio dengan mata menyipit. "Kak Bi, semua orang yang ada di rumah ini. Tidak berani melakukan tindakan apapun tanpa ada persetujuan dari Kak Bi. Termasuk Alfred. Aku yakin, Kak Bi yang menyuruh Alfred melalukan semua ini."


"Ya, aku memang memintanya untuk membantuku. Tapi aku tidak pernah bilang kalau dia harus membentak mu seperti tadi." Fabio mengambil tangan Lara dan mengusapnya. "Chubby, apa kau sakit hati ketika Alfred memarahimu seperti tadi?"


Lara menggeleng sambil tersenyum. "Alfred memang sering memarahiku. Tapi, aku tahu dia seperti itu karena ingin yang terbaik untukku. Dia sahabat terbaikku kak."


"Dan dia dokter terbaik yang aku punya. Tanpa dia mungkin aku tidak bisa ada di hadapanmu seperti ini," jawab Fabio dengan suara yang lembut. Pria itu memandang Lara sangat lama. Hingga akhirnya membuat Lara salah tingkah.


Lara memalingkan wajahnya ketika Fabio terus saja memandangnya sambil tersenyum. Memang tatapan big Boss mafia itu selalu saja bisa membuat Lara menjadi grogi.


"Kak Bi ... kenapa Kak Bi terus memandangku seperti itu?" gumam Lara di dalam hati.


"Chubby ... terima kasih."


Lara hanya tersenyum membalas jawaban Fabio. Namun, ketika dia ingat dengan Greta, lagi-lagi wajahnya berubah serius.


"Kak Bi, lalu bagaimana dengan Greta?"


Senyum Fabio juga luntur ketika Lara membahas hal yang sama. Pria itu terlihat tidak suka jika harus membahas sesuatu yang berhubungan dengan Alex.

__ADS_1


"Semua hanya jebakan. Greta tidak ada di tempat itu."


"Kak Bi, apa Kak Bi mau bantu Lara?" pinta Lara dengan wajah memohon.


"Apa?"


"Kak Bi ... tolong selamatkan Greta dari Alex Moritz. Dia tidak bersalah. Memang saat itu dia sempat jahat. Tapi kini dia sudah berubah. Kak Bi, tolong Lara."


Fabio diam sejenak seperti sedang mempertimbangkan permintaan Lara. "Hadiah apa yang aku dapat jika aku berhasil membawa Greta ke mansion ini?"


Lara mengernyitkan dahi. "Hadiah? Kak Bi mau hadiah?"


"Ya. Tapi hadiah yang tidak bisa di beli. Chubby, kau pasti tahu aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Jadi, aku tidak menerima hadiah yang dibeli dengan uang."


"Lalu, hadiah yang seperti apa?" tanya Lara bingung.


Lara terlihat berpikir. Wanita itu ingin Fabio segera menolong Greta. Tetapi dia tidak tahu harus memberi hadiah apa sama Fabio. Permintaan Fabio membuatnya sangat pusing.


"Hadiah yang tidak bisa di beli?" gumam Lara di dalam hati. Fabio sendiri masih asyik memandang wajah Lara dengan senyuman penuh arti.


"Kak Bi, aku gak tahu. Sebutkan saja apa yang Kak Bi inginkan!"


"Kau yakin tidak akan menyesal?" Fabio mendekati Lara.


"Menyesal? Sebenarnya apa yang Kak Bi inginkan?" tanya Lara setengah berbisik.

__ADS_1


Fabio mengincar bibir Lara. Pria itu mendekati wajah Lara semakin dekat lagi agar bisa menyentuh bibir merah tersebut. Lara sendiri hanya bisa mematung melihat Fabio mendekati wajahnya. Kedua matanya secara otomatis terpejam. Wanita itu siap menerima apapun yang akan dilakukan Fabio. Hingga ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Alfred kembali muncul untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.


Mendengar suara pintu terbuka, Fabio dan Lara sama-sama menjauh. Sedangkan Alfred yang sempat melihat apa yang terjadi hanya bisa berdiri dengan wajah menyesal.


"Aku mau ambil ...." Ucapannya tertahan. Pria itu mencari barang miliknya yang tertinggal. "Itu dia. Ada di sana." Alfred segera mengambil barangnya agar bisa segera keluar dari kamar tersebut.


Lara memandang Alfred dengan wajah yang serius. "Alfred, apa kau bisa membantuku?" tanya Lara.


Alfred yang terlihat terburu-buru memilih untuk mendengarkan apa yang di katakan Lara. "Ada apa?"


"Alfred, apa contoh hadiah yang tidak bisa di beli dengan uang?"


"Hadiah yang dibeli tanpa menggunakan uang?" Alfred memandang wajah Fabio. Tatapan pria itu membuat Alfred mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Fabio.


"Ya. Apa kau bisa membantu?"


"Itu sangat mudah Lara. Bahkan ada banyak," jawab Alfred.


"Contohnya?"


Alfred berdehem pelan. "Berciuman atau pelukan hangat misalnya," jawab Alfred dengan wajah yang serius. "Kalau boleh aku tahu, kau ingin memberikan hadiah itu kepada siapa?"


Lara memandang wajah Fabio sebelum memandang Alfred lagi. "Tidak ada," jawabnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu. Silahkan di lanjutkan," ujar Alfred dengan senyuman manis. Pria itu mempercepat langkah kakinya takut Fabio berteriak akan memotong gajinya karena ia sudah masuk tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


Lara memandang Fabio lagi ketika Alfred sudah tidak ada. "Kak Bi mau di cium?"


__ADS_2