
Ny. Moritz mengaduk gula yang baru saja ia masukkan ke dalam gelas berisi teh. Sambil mengaduk, wanita paruh baya itu memandang ke depan. Tatapannya kosong. Kabar kepergian Greta tidak bisa ia terima begitu saja. Bahkan hingga detik ini ia masih berpikir kalau anak perempuannya itu masih hidup.
Sama seperti kepergian Tuan Moritz. Kini lagi-lagi jiwa Ny. Moritz terguncang. Wanita itu bahkan tidak bisa berbicara lagi karena seolah-olah dia bisu.
Alex yang sejak tadi juga ada di sana memandang ibu kandungnya dalam diam. Ia sendiri juga kacau. Tidak tahu harus bagaimana. Undangan pernikahan Lara dan Fabio telah tergeletak di atas meja. Harapannya untuk mendapatkan Lara seperti sudah tidak ada lagi.
"Ma," sapa Alex pelan. Nadanya sangat pelan. Bisa di bilang hanya mereka berdua yang mendengarnya.
"Greta dimana?" sahut Ny. Moritz yang masih terus saja mengaduk minumannya.
Alex menunduk dengan tangan terkepal kuat. Hatinya mulai tidak sanggup untuk tenang. Pria itu beranjak dari kursi dan mendekati Ny. Moritz. Ia berlutut sambil memegang kedua tangan ibu kandungnya.
"Maafkan Alex, Ma. Ini semua salah Alex. Coba saja sejak awal Alex gak pernah berambisi untuk mendapatkan Lara, mungkin saat ini Greta masih bersama kita. Maafkan Alex Ma."
"DIMANA GRETA!" teriak Ny. Moritz semakin menjadi.
"Ma, Greta sudah tidak ada di dunia ini," jawab Alex.
"Dimana kuburannya?" sahut Ny. Moritz lagi.
__ADS_1
Alex kembali diam. Bahkan untuk mengenang kuburannya saja tidak bisa. "Seharusnya Alex yang pergi Ma. Greta masih muda. Masa depannya masih panjang. Maafkan Alex Ma ...."
Kedua mata Ny. Moritz berkaca-kaca. Sejenak wanita itu bisa menerima semua yang dikatakan Alex dengan akal sehat. Namun terkadang ia berubah gila saat kondisi tertentu.
"Greta sudah tidak ada?"
Alex mengangguk. "Semua salah Alex ma."
"Kau...." Ny. Moritz tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bibirnya terlalu kaku. "Kau yang sudah menyebabkan Greta pergi?"
Alex mengangguk lagi. Hal itu membuat emosi Ny. Moritz memuncak hingga wanita paruh baya itu mendorong Alex hingga terjatuh.
"Kau jahat Alex! Kenapa kau membunuh anakku!" teriak Ny. Moritz.
Ny. Moritz kembali menangis sebelum beranjak dari kursi. Wanita itu tidak mau menjelaskan apapun kecuali pergi.
"Ma!" Namun, bukan Alex namanya jika menyerah begitu saja. Pria itu beranjak dari kursi dan berlari mengejar Ny. Moritz. "Ma, katakan yang sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar Alex bukan anak kandung mama?"
"Pergi!" teriak Ny. Moritz. Tidak mau melihat Ny. Moritz histeris lagi, Alex memilih untuk melepaskan tangan Ny. Moritz dan membiarkan wanita itu pergi.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Alex masih penasaran dengan sepenggal kalimat yang baru saja terucap. Pria itu segera melangkah menuju ke kamar Greta. Ia berharap bisa menemukan petunjuk di sana.
Setibanya di dalam kamar Greta, Alex mengacak-acak meja pribadi Greta yang berisi foto dan buku-buku kuliah. Pria itu menemukan sebuah diary berwarna biru muda yang di tumpuk di atas buku lainnya. Alex mengambil buku itu berharap menemukan petunjuk di sana. Sayangnya lembar demi lembar sudah ia baca tapi tidak ada sesuatu yang berarti di sana. Isi di diary itu hanya curhatan Greta yang menurutnya sama sekali tidak penting.
Alex meletakkan diary itu kembali ke meja. Ia memperhatikan foto Greta dengan saksama sebelum tersenyum. "Greta, maafkan kakak."
Deringan ponsel itu membuat lamunan Alex pecah. Pria itu semakin kaget ketika melihat nama di layar ponselnya adalah Greta. Jelas-jelas Greta sudah tidak ada. Dengan cepat ia angkat panggilan masuk itu.
"Greta?" celetuk Alex penuh harap.
"Ini aku. Lara ...."
"Lara?" ucap Alex masih tidak percaya.
"Apa kita bisa bertemu?"
Alex diam sejenak. Besok adalah pernikahan Lara dan Fabio. Sepertinya kalau hari ini mereka bertemu juga tidak akan membuahkan hasil apapun. Toh Lara akan tetap menikah dengan Fabio. Tapi, Alex sendiri ingin mengatakan sesuatu kepada Lara sebelum wanita itu menikah.
"Baiklah."
__ADS_1
"Aku akan kirim tempatnya," ucap Lara sebelum panggilan telepon itu terputus. Alex menggenggam ponselnya dengan senyuman pahit.
"Lara ?"