
Lara duduk di dalam kamar Alex. Kamar itu masih sama. Warna catnya. Letak prabotnya. Bahkan karpet yang biasa di tiduri Lara juga masih ada di bawah. Lara mengeryitkan dahi ketika melihat karpet itu terbentang di lantai dekat tempat tidur. Ia kembali mengingat apa yang pernah ia alami setelah pernikahannya.
Kenangan buruk itu Lara ingat sampai sekarang. Bahkan hanya sekedar tidur di atas ranjang empuk itu saja tidak diperbolehkan. Lara mengusap seprei lembut yang kini ia duduki. Tiba-tiba saja wanita itu menjatuhkan tubuhnya dan memejamkan mata.
“Nona, sejak anda pergi dari rumah utama keluarga Moritz. Fiona tidak pernah muncul di rumah itu lagi. Bahkan Tuan Alex jarang pulang. Tuan Alex sering tidur di hotel. Dia pulang ke rumah hanya untuk berganti baju sebelum akhirnya pergi lagi. Kamar itu seperti tidak berpenghuni. Bahkan Tuan Alex lebih sering ada di rumah setelah beliau menikah dengan anda.”
Lara membuka kedua matanya. Kalimat yang diucapkan salah satu mantan pelayan yang pernah bekerja di rumah itu kembali mengiang di dalam ingatannya. Lara beranjak dan meninggalkan tempat tidur. Ia ingin menuju ke kamar tamu untuk melihat barang-barang miliknya. Setelah menemukan barang yang ia cari, Lara akan kembali pulang ke apartemen.
Lara keluar dari kamar Alex dan melangkah menuruni tangga. Tidak banyak yang ingin di lihat Lara selama dia ada di lantai dua. Lara menuruni anak tangga dengan cepat. Ia tidak mau bertemu Alex di rumah ini. Ketika sudah tiba di lantai bawah, Lara berhenti sejenak saat melihat rumah itu kini sudah sunyi. Suasananya terasa jauh berbeda. Tadinya ia masih melihat pelayan berlalu lalang. Ada yang sedang bersih-bersih rumah. Ada juga yang sibuk di dapur.
“Ternyata seperti ini cara orang berduit menindas orang yang lemah. Dalam sekejap, ia bisa merubah nasip seseorang,” gumam Lara di dalam hati. Ia segera masuk ke dalam kamar tamu.
Setelah tiba di dalam kamar, Lara melihat semua barangnya tertata rapi di dalam sana. Lara sempat kaget awalnya. Tadinya ia pikir barang-barangnya akan tertumpuk di satu tempat dalam keadaan berantakan. Ternyata apa yang ia lihat tidak sama dengan apa yang ia pikirkan.
“Apa Greta yang melakukan semua ini?” ucap Lara tidak percaya.
Walau jelas-jelas kamar itu tidak pernah ada yang menghuni. Tetapi, ruangan itu sangat rapi dan bersih. Tidak ada debu sedikitpun yang menempel. Buku, tas dan beberapa barang berharga milik Lara tertata rapi di meja.
Lara melangkah ke lemari. Ketika lemari itu terbuka, ada banyak baju milik Lara yang tergantung di sana. Bukan hanya barang milik Lara saja. Tetapi baju yang sempat ia beli dengan uang yang pernah di kasih Alex juga masih ada di lemari itu. Lara mengambil salah satu baju dan membawanya menuju ke cermin.
__ADS_1
Lara menempelkan gaun tersebut di tubuhnya dan melihat penampilannya di cermin. “Apa dulu tubuhku sebesar ini?” ucap Lara tidak percaya. Sebenarnya hingga detik ini Lara masih menganggap dirinya itu gemuk. Hanya saja bedanya ia tidak lagi merasa kesulitan ketika duduk dan ingin berdiri.
“Walau sekarang Kak Alex bilang dia cinta padaku, tapi aku tahu dia tidak tulus mencintaiku. Dia pria yang menyukai seorang wanita hanya karena fisik. Bukan karena hatinya benar-benar jatuh cinta padaku. Malam ini, aku akan membuat pesta Kak Alex menjadi semakin meriah. Aku pastikan pesta malam ini akan menjadi pesta paling berkesan yang akan ia ingat seumur hidupnya.”
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Alex berdiri di depan cermin untuk memeriksa penampilannya. Malam ini pria itu ingin tampil sempurna di depan Lara. Jas berwarna abu-abu dengan balutan kemeja berwarna putih menjadi pilihan Alex malam ini. Ia ingin terlihat sangat tampan di depan Lara. Baju yang ia kenakan juga ia pesan dari butik terkenal dengan harga yang begitu fantastis.
Beberapa karyawan dari butik tersebut terlihat sibuk membantu Alex. Alex sengaja tidak pulang ke rumah dan memilih untuk mengganti pakaiannya di butik yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen Lara. Ia tidak mau sampai terlambat menjemput Lara malam ini.
“Tuan, sudah selesai,” ucap karyawan butik yang sejak tadi membantu Alex bersiap-siap.
“Setelah selesai pesta, aku akan membawa Lara ke kamar hotel yang sudah aku pesan secara khusus. Aku bahkan sudah menyiapkan kejutan istimewa untuknya di sana. Aku yakin, Lara pasti akan bahagia dan mengagumiku.” Alex masuk ke dalam mobil. Pria itu terus saja memikirkan Lara sambil melajukan mobilnya. Di benak Alex, malam ini akan menjadi malam pertamanya bersama dengan Lara. Malam bahagia yang sudah sejak kemarin ia impikan.
Setibanya di apartemen Lara, Alex segera naik ke lantai atas. Ia terlihat tidak sabar. Langkahnya sangat terburu-buru. Alex berdiri dan menahan langkah kakinya ketika melihat Lara baru saja keluar dari kamar apartemennya. Seperti apa yang dipikirkan Alex, malam ini Lara terlihat sangat cantik.
“Sayang,” sapa Alex.
__ADS_1
Lara memiringkan kepalanya dan memandang ke arah Alex. Alisnya saling bertaut melihat Alex sudah ada di depan matanya. “Kak Alex, kok bisa ada di sini?”
“Aku ingin menjemput istriku. Apa itu salah?” ucap Alex dengan penuh percaya diri.
Lara diam sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Alex akan muncul di hadapannya seperti ini. Padahal, sebelum tiba di lokasi pesta masih ada banyak urusan yang ingin diselesaikan Lara.
“Sama sekali tidak salah, Kak. Lara senang Kak Alex ada di sini menjemput Lara," dusta Lara dengan wajah menyakinkan.
Alex segera menggandeng pinggang ramping Lara. Malam ini ia sangat-sangat kagum melihat penampilan Lara yang begitu cantik dan seksi. Bahkan berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan Fiona.
“Kau sangat cantik malam ini, Sayang.”
Alex mencium pipi Lara tanpa permisi. Lara mengepal kuat tangan kanannya sampai memutih. Ingin sekali ia melayangkan tamparan di wajah pria itu. Tetapi, Lara tidak mau rencananya sampai gagal. Maka dari itu ia berusaha menekan rasa marah yang sudah naik ke ubun-ubun.
“Kak Alex, ayo kita jalan,” ajak Lara. Ia tidak mau Alex sampai mencium wajahnya lagi. Hal itu sungguh menjijikkan bagi Lara.
Setelah tiba di parkiran, Lara dan Alex di buat kaget dengan kehadiran Fiona. Wanita itu berdiri di depan mobil Alex. Dia tidak sendirian, ada Hana di samping wanita itu. Hana terlihat takut. Sepertinya wanita itu ada di sana juga karena terpaksa.
“Fiona, berani sekali kau muncul di hadapanku setelah apa yang kau lakukan terhadap perusahaanku!” ketus Alex tidak suka.
__ADS_1