
Greta dan Lara memandang ke depan ketika mereka baru saja tiba di kantor polisi. Orang-orang berseragam polisi terlihat berlalu lalang ke sana ke mari. Ini pertama kalinya bagi Lara menginjakkan kakinya di kantor polisi. Greta mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi nomor seseorang.
"Greta, kau yakin mereka bisa membantumu?" tanya Lara mulai ragu. Melihat wajah polisi itu saja membuat Lara sedikit ragu. Entah itu karena dia khawatir dengan keselamatan Walter dan Fabio entah karena Lara takut terlibat lebih jauh dalam masalah hilangnya Alex Moritz.
"Ya, Kak. Mereka pasti bisa membantuku," jawab Greta cepat. Ia segera melekatkan ponselnya di telinga. "Lagian kita tidak ada pilihan lain selain ke sini bukan? Kita sudah punya bukti yang memudahkan polisi untuk menentukan orang-orang yang ada di foto ini."
Lara menghela napas panjang. "Bagaimana kalau Kak Bi juga ikut terseret nanti? Apa aku pulang aja ya? Tapi kasihan Greta. Jika bukan aku, siapa lagi yang menemaninya," gumam Lara di dalam hati.
"Aku tunggu di depan ya. Aku takut masuk ke dalam." Greta memutuskan panggilan teleponnya setelah selesai. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Mengukir senyuman sambil memandang wajah Lara.
"Kak Lara makin cantik aja," puji Greta.
Lara tersenyum. "Kau juga cantik, Greta." Lara memandang ke depan. "Apa itu temanmu, Greta?" tunjuk Lara pada pria yang kini berjalan mendekati posisi mereka berada. Greta mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Ya, Kak. Dia teman Greta." Greta tersenyum bahagia dan melambaikan tangan. Sedangkan Lara hanya bisa memandang ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingung.
"Hai, Rock. Apa kabar?" sapa Greta dengan senyum mengembang.
"Greta. Kabarku baik. Bagaimana denganmu?" Greta dan polisi pria itu berpelukan sejenak sebelum mereka tertawa bersama.
"Keadaanku kurang baik, Rock."
"Ada apa? Aku kaget ketika tadi membaca pesannya. Siapa yang hilang?" Wajah polisi itu mulai serius.
"Kak Alex. Kau harus lihat ini." Greta mengambil ponselnya dan menunjukkan bukti yang sudah pernah ia ambil. Ternyata Greta tidak hanya memiliki bukti berupa foto saja. Ada rekaman video 10 detik yang sempat ia ambil sebelum Alex di seret paksa.
Rock memandang wajah Greta dan menggeleng kepala. "Sepertinya kami tidak bisa membantumu kali ini. Pria ini bukan pria sembarangan. Bahkan pimpinan kami di kantor ini saja tidak berani mengusiknya," jawab pria itu dengan wajah tidak berani.
"Tapi kenapa? Bukankah kalian polisi? Kalian harus membantu kami. Masyarakat lemah!" protes Greta tidak setuju.
"Greta, Maafkan aku. Jika kau tidak mau berada dalam bahaya. Sebaiknya lupakan saja semua. Mungkin Kak Alex memang tidak akan pernah kembali." Pria itu mengatupkan tangannya sebelum pergi meninggalkan Greta dan Lara begitu saja. Ia terlihat tidak berani untuk ikut campur atas masalah yang dibuat oleh Black Dragon.
"Rock!" teriak Greta. "Kenapa kau tidak mau membantuku? Kau polisi!"
Lara diam membisu dengan pikirannya sendiri. "Apa polisi itu tahu Walter adalah anak buah Kak Bi? Ketua mafia yang katanya terkenal sangat kejam? Apa benar semua orang di kota ini takut dengan Kak Bi?" gumam Lara di dalam hati.
__ADS_1
"Kak, bagaimana ini?" Greta memandang wajah Lara dengan genangan air mata yang sudah siap untuk menetes. "Kak Lara, Greta gak mau Kak Alex kenapa-kenapa."
Lara memeluk Greta dan mengusap bahunya. "Sabar, Greta. Kita pasti bisa menemukan Kak Alex," ucap Lara dengan suara lembut. "Jangan nangis lagi."
"Greta?"
Lara dan Greta melepas pelukan mereka ketika mendengar suara seseorang. Greta memiringkan kepalanya ke kiri dan melihat sosok pria yang sejak kemarin ia cari berdiri di sana.
"Kak Alex?" Greta tersenyum dan berlari kencang untuk memeluk Alex. Wanita itu sangat senang bisa melihat kakak kandungnya berdiri di sana dalam keadaan sehat.
Sedangkan Lara memilih untuk memalingkan wajahnya. Bagaimanapun juga, sakit hati di hatinya masih belum sembuh. Dendam itu masih ada.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Kak, Greta khawatir sama Kak Alex." Greta memandang wajah Alex dengan saksama. "Kak Alex sakit? Kenapa suaranya beda?"
Alex berdehem pelan. "Ya. Tenggorokanku sakit." Ia melempar tatapan ke arah Lara dan tersenyum. Tetapi Lara sama sekali tidak tertarik.
"Greta, karena Kak Alex sudah ada di sini sepertinya kakak harus pergi."
Lara mengangguk sebelum melangkah ke mobil. Wanita itu sama sekali tidak curiga kalau sebenarnya Alex yang kini bersama Greta adalah Alex palsu. Pria jahat yang memiliki rencana licik untuk mengalahkan Fabio Cassano.
Lara memandang ke arah Greta lagi sebelum melajukan mobilnya. "Aku sempat salah paham dengan Walter. Sepertinya aku salah lihat. Mungkin memang kebetulan wajah pria di foto itu mirip dengan Walter. Buktinya saja tadi malam aku tidak menemukan Kak Alex ada di mansion. Sekarang keadaan Kak Alex baik-baik saja. Tidak ada sedikitpun luka di wajahnya," gumam Lara di dalam hati. Kini wanita itu melajukan mobilnya menuju ke perusahaan milik Fabio.
...***...
Fabio mengangkat senjata apinya dan menembak ke depan untuk mengincar botol yang tersusun rapi di atas meja. Pria itu berusaha menenangkan pikirannya agar rasa cemburunya tidak terasa menyiksa. Setiap kali membayangkan ekspresi wajah Lara yang terlihat sangat mengkhawatirkan Alex membuat hatinya sakit. Walter yang juga ikut latihan menembak bersikap seolah dia tidak tahu apa yang dirasakan bos nya. Padahal sudah jelas-jelas ia mengerti apa saja yang kini big Boss itu pikirkan.
"Bos, saya belum berhasil menemukan persembunyian Mark. Sejak kejadian malam itu, dia hilang tanpa jejak. Tetapi saya juga tidak menemukan tubuh Mark yang tewas terbakar. Itu berarti, Mark masih hidup."
"Kebakaran malam itu sangat mengerikan. Tadinya aku pikir Mark akan hangus terbakar." Fabio memasukkan peluru demi peluru ke dalam senjatanya. "Ternyata dia pria yang memiliki banyak nyawa. Keberuntungan masih berpihak padanya."
Ketika Walter ingin melanjutkan obrolannya bersama Fabio, tiba-tiba seseorang menghubunginya. Deringan ponsel itu membuat Walter mengumpat. Ia mengangkat panggilan telepon itu di dekat Fabio.
"Ada apa?" tanya Walter. Ia tahu kalau hari ini perusahaan tidak sibuk. Walter tidak suka dihubungi ketika ia sedang bersama Fabio seperti ini.
__ADS_1
"Tuan, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda," ucap wanita yang menjadi sekretaris Walter di perusahaan.
"Wanita? Aku tidak ada janji dengan siapapun hari ini," sangkal Walter.
"Namanya Lara, Tuan."
"Lara? Apa maksudmu Lara Alessandra?" ujar Walter setengah berteriak.
Fabio yang saat itu sedang siap-siap mengincar botol dengan senjata Laras panjangnya memilih untuk menahan gerakannya. Mendengar nama Lara disebut Walter membuatnya sangat khawatir. Fabio ingin memastikan dulu apa wanita pujaannya itu baik-baik saja.
"Bawa Nona Lara ke ruang pribadi Tuan Fabio. Saya akan segera tiba di sana." Walter memutuskan panggilan teleponnya.
Fabio melirik wajah Walter dengan ekspresi yang seolah cuek. Padahal sebenarnya ia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya dilakukan Lara saat ini.
"Bos, Nona Lara ada di perusahaan," ucap Walter apa adanya.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" Fabio menarik pelatuk senjatanya hingga terdengar suara tembakan yang memekakan telinga.
"Anda tidak mau bertemu dengan Nona Lara, Bos?"
Fabio diam sejenak. Ia meletakkan senjata api itu di atas meja dan mengambil minuman kaleng miliknya. "Tidak."
Walter berusaha tetap tenang. "Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu Bos. Saya harus menemui Nona Lara di perusahaan."
Fabio mengangguk. Pria itu meletakkan minuman kalengnya di meja sebelum melanjutkan latihan menembaknya.
Walter memandang punggung Fabio sejenak sebelum melanjutkan langkah kakinya. "Kita lihat saja nanti. Siapa yang duluan sampai," gumam Walter di dalam hati. Ia yakin Fabio tidak akan bertahan di tempat itu setelah tahu dimana Lara berada saat ini.
**Hai reader ...
Senengnya author dari semalam sampai hari ini update banyak Mulu. Jangan lupa vote, like dan komennya.
Oh ya, sambil nunggu update selanjutnya. Kalian bisa baca karya temen author ini. Kalian bisa baca di aplikasi Noveltoon. Semoga kalian suka ya.🤗😘**
__ADS_1