
Fabio sudah ada di ruang kerja. Sebenarnya dia merasa malas berkunjung ke ruangan itu. Semua masalah yang terjadi di perusahaan sudah ia serahkan kepada Walter. Kini pria itulah pemimpin di perusahaan yang ia miliki. Walter bukan sekedar orang kepercayaan Fabio saja. Tetapi, pria itu sudah di anggap sebagai sosok saudara bagi Fabio.
Namun, Walter sempat mengatakan kalau ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting di ruangan itu. Mau tidak mau Fabio terpaksa melangkahkan kakinya ke ruangan tersebut. Padahal Fabio sendiri inginnya terus berada di samping Lara. Bermanja-manja dengan wanita yang baru dia nikahi .
Sambil membayangkan wajah cantik Lara, Fabio tidak lagi konsentrasi ketika Walter masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kado. Kado tersebut adalah kado dari Alex Moritz yang sama sekali belum sempat di ceritakan oleh Walter. Walter mengambil kado itu yang kemarin malam sempat tergeletak di atas meja karena ingin memberikannya langsung kepada Fabio.
"Selamat pagi, Bos. Bagaimana kabar anda?" sapa Walter. Memang sepertinya kehadiran Walter sama sekali tidak di anggap. Fabio tidak kunjung menjawab salam sapa dari Walter. Pria itu masih asyik tersenyum sendiri dengan wajah yang bahagia.
Walter mengeryitkan dahi. Namun, kali ini dia tidak berani mengatakan Fabio gila. Pria itu baru saja menikah dengan wanita yang dicintai. Jelas saja kebahagiaan Fabio pasti menjadi sempurna. Walter meletakkan kado di atas meja dan duduk di kursi.
Entah kenapa tiba-tiba saja pria itu memikirkan sebuah ide untuk memecahkan lamunan Fabio. Sebuah berlatih kesayangan milik Fabio yang tergeletak di meja ingin dia curi. Biasanya Walter tidak pernah berhasil mengambilnya. Dalam keadaan apapun, Fabio pasti memiliki firasat untuk cepat-cepat memegang belatih tersebut.
"Bos," sapa Walter lagi.
Sambil memandang Fabio, pria itu meletakkan tangannya di meja dan mulai mendekati belati. Dengan sigap Fabio mengambil belatih tersebut dan menatap tajam Walter. Tangan Walter yang kini berjarak beberapa centi dari belatih masih mematung di posisinya. Sebuah kertas yang kebetulan ada di dekat tangan Walter menjadi alasan terbaik yang ia gunakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Bukankah pagi ini sangat panas, Bos?" ucap Walter. Ia mengambil kertas tersebut dan tertawa kecil.
Fabio menghela napas dan menyimpan berlatihnya di dalam laci. "Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Ini soal Alex Moritz, bos."
"Apa dia melakukan sesuatu?"
"Dia mengirim kado ini untuk Nona Lara, Bos." Walter mendorong kado tersebut. Fabio menaikan satu alisnya melihat kado tersebut.
"Apa isinya?"
"Pakaian, Bos."
Fabio masih belum mau menerimanya. Apa lagi sampai membukanya. "Berikan saja langsung kepada Lara. Aku percaya pada Lara. Nanti dia yang akan menentukan, apa yang harus dia lakukan terhadap hadiah dari Alex Moritz."
"Tapi, Bos. Ini bukan baju biasa."
"Apa maksudmu bukan baju biasa? Apa bajunya anti peluru?"
"Jangankan peluru. Angin saja bisa tembus, Bos."
__ADS_1
Fabio bersandar diiringi helaan napas kasar. "Walter, apa maksudmu?"
"Akan saya perlihatkan, Bos." Walter membuka tutupnya dan mengambil lingerie hitam tersebut. Pria itu memegang lingerie tersebut di depan Fabio hingga membuat Fabio melebarkan kedua matanya.
"Apa ini? Dia mau istriku di tonton semua orang?" protes Fabio tidak terima.
"Bos, ini pakaian dinas."
"Pakaian dinas kau bilang? Perusahaan mana yang memberlakukan pakaian dinas seperti ini?" sahut Fabio lagi. Dia masih tidak habis pikir dengan pakaian tipis dan pendek yang kini ada di depannya. Sudah bagian dadanya terbuka. Bagian perutnya dan punggung juga terlihat. Belum lagi kalau pakaian itu sampai tersangkut, sudah pasti langsung sobek karena terlalu tipis.
Walter diam sejenak. Tadinya dia pikir Fabio akan paham kalau dinas yang dimaksud Walter seperti apa. Namun, ternyata walau sudah menikah tidak membuat Fabio menjadi pria yang semakin cerdas.
"Dinas malam, Bos."
"Dinas malam?"
"Ya, bersama pasangan," sahut Walter lagi. Kali ini pria itu menahan senyum seolah sedang meledek Fabio.
"Jelaskan dengan jelas. Jangan berbelit-belit, Walter!" ketus Fabio mulai geram.
"Chubbyku tidak mengenakan pakaian seperti ini tadi malam," sahut Fabio keceplosan.
"Bos, ini lingerie. Gunanya untuk menggoda pasangan," jelas Walter lagi. Berharap penjelasannya kali ini bisa membuat Fabio mengerti.
"Dari mana kau tahu? Apa kau pernah bercinta dengan wanita?" tanya Fabio cepat.
Walter kali ini terdiam seribu bahasa.
"Lalu, apa tujuan Alex Moritz mengirim pakaian ini? Dia ingin Lara memakai pakaian ini untuk menggodaku? Apa dia sudah benar-benar merelakan Lara?"
"Bos, sepertinya ada tujuan tertentu Alex mengirimkan pakaian ini."
"Apa?"
"Saya juga tidak tahu, Bos. Hanya Nona Lara yang tahu. Tetapi, dugaan pertama saya. Pakaian ini yang dipakai Nona Lara saat mereka malam pertama dulu."
Wajah Fabio memerah. Padahal dia sadar kalau Lara adalah janda. Wanita yang sebelumnya pernah menikah dengan pria lain. Namun, entah kenapa membayangkan masa di mana Lara masih menjadi istri Alex membuatnya cemburu.
__ADS_1
"Berikan pakaian ini kepadaku. Aku akan memberikannya langsung kepada Lara," ujar Fabio. Pria itu beranjak dari kursi dan segera membawa lingerie tersebut menuju ke kamar.
...***...
Di dalam kamar, Lara baru saja selesai merapikan tempat tidurnya. Meminta pelayan untuk membereskan rasanya dia segan. Tempat tidur itu terus saja berantakan setiap kali Fabio muncul di hadapannya. Sambil tersenyum Lara melangkah menuju ke sofa. Langkahnya terhenti ketika pintu terbuka dan Fabio muncul di dalam kamar.
"Chubby," ucap Fabio. Pria itu melangkah sambil menggenggam lingerie hitam di tangannya.
"Sudah selesai?" tanya Lara. Alisnya saling bertaut melihat sesuatu yang ada di genggaman Fabio. "Apa itu Kak Bi?"
"Ini ...." Entah kenapa Fabio tiba-tiba berubah pikiran. Pria itu memutuskan lebih baik tidak tahu kenangan masa lalu lingerie tersebut daripada harus mendengar ceritanya sekarang. "Tidak penting. Hanya kain untuk membersihkan meja," sahutnya sebelum mengecup pipi Lara.
Lara yang sudah sangat penasaran merebut paksa lingerie tersebut. Hingga akhirnya lingerie itu ada di tangannya. Dengan cepat Lara membukanya dan memperhatikan lingerie tersebut dengan mata melebar.
"Darimana kak Bi dapatkan pakaian ini?"
Fabio memandang lingerie itu sebelum memandang Lara lagi. "Kau ingat akan sesuatu?"
"Ya," sahut Lara cepat.
"Siapa? Alex?" Fabio semakin cemburu.
Lara mengernyitkan dahinya. Dia sendiri kaget kenapa Fabio sampai membawa nama Alex dalam obrolan mereka.
"Alex yang memberi pakaian ini. Untukmu!" jelas Fabio sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Lara diam sejenak. Sebenarnya hal yang diingat Lara ketika dia melihat lingerie itu adalah ketika Alex menghinanya dan mengatainya sebagai ikan paus. Namun, Lara tidak mau membahas masa lalu lagi. Ia tersenyum dan melemparkan lingerie itu di lantai. Dengan manja Lara duduk di atas pangkuan Fabio.
"Itu baju yang jelek. Aku akan beli baju yang lebih bagus," ucap Lara dengan senyuman.
"Kau tidak menyukainya?"
Lara menggeleng. "Sepertinya warna merah lebih bagus."
Fabio tersenyum. "Ya. Ayo kita ke mall. Kita belanja yang banyak." Lara hanya mengangguk setuju. Wanita itu memandang lingerie yang ada di lantai sekilas sebelum memandang Fabio lagi.
"Warnanya sama seperti lingerie yang pernah aku pakai dulu. Apa Kak Alex sengaja mengirimkannya agar aku dan Kak Bi salah paham?" gumam Lara di dalam hati.
__ADS_1