
Lara berdiri di depan makam Fiona. Wanita itu baru saja meletakkan bunga yang ia bawa di depan batu nisan yang bertuliskan nama Fiona. Sambil memandang kuburan Fiona, wanita itu berusaha memaafkan kesalahan yang pernah diperbuat oleh wanita tersebut. Senyum indah terukir di bibir Lara ketika ia telah sanggup memaafkannya.
"Lara." Alex baru saja tiba di sana. Pria itu sendiri awalnya bingung kenapa Lara mengajaknya bertemu di pemakaman. Apa lagi di makam Fiona. Jelas-jelas Fiona adalah orang yang pernah menyakiti hati Lara.
Lara memutar tubuhnya dan memandang Alex. Wanita itu menatap Alex tanpa ekspresi hingga membuat Alex menerka-nerka sebenarnya apa tujuan Lara mengajaknya bertemu di tempat ini? Apa Lara akan menjebaknya?
"Di hari itu, Greta sempat mengucapkan sesuatu yang sangat penting. Aku pikir aku harus mengatakannya kepada anda agar anda tahu kenapa Greta berkorban hingga seperti itu."
"Apa yang dikatakan Greta?" tanya Alex tidak sabar.
"Greta bilang kalau anda bukan bagian dari keluarga Moritz. Karena suatu kesalahan, Ny. Moritz mengandung anda. Tetapi, semua keluarga tidak pernah mempermasalahkan hal itu awalnya. Tetapi, lama kelamaan Tuan Moritz mulai membuat jarak dengan anda. Greta sempat mendengar pertengkaran antara Tuan Moritz dan Ny. Moritz yang sempat mengatakan kalau anda bukan darah daging mereka. Greta tidak mengatakan kepada saya detail ceritanya. Dia hanya berkata, hidup anda sejak dulu sudah menderita. Selalu di salahkan. Tidak pernah di anggap ada. Pengorbanan yang ia lakukan semalam karena dia sangat menyayangi anda. Dia tidak mau sampai anda terluka apa lagi sampai celaka. Sebaiknya jangan sia-siakan pengorbanan yang sudah dilakukan Greta. Dia melakukan semua itu bukan tanpa tujuan."
__ADS_1
"Aku akan berubah jika kau kembali padaku," sahut Alex. "Aku janji akan berubah. Aku bahkan sama sekali tidak peduli dengan statusku di mata keluarga Moritz. Aku hanya peduli tentangmu Lara!"
"Maaf, semua sudah tidak sama seperti dulu. Gelas yang pecah tidak akan bisa dibentuk lagi seperti semula. Kita menang tidak berjodoh," jawab Lara.
"Kita berjodoh. Kita pernah menikah. Lara, kembalilah padaku."
"Tadinya saya pikir Anda bisa di ajak bicara baik-baik. Tetapi, saya salah. Anda bilang anda sudah berubah? Bagaimana bisa anda mengajak wanita lain menikah di depan kuburan wanita yang pernah anda tiduri?"
Alex mematung mendengar jawaban Lara. Pria itu memandang kuburan Greta dengan bibir membisu.
"Tunggu!" teriak Alex. Hal itu membuat Lara kembali berhenti. Dia memandang wajah Alex gang saat itu jaraknya tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri.
__ADS_1
"Walau sekali saja. Apa benar kau pernah mencintaiku? Aku ingin dengar langsung dari bibirmu Lara."
Lara diam untuk beberapa saat. Wanita itu memandang Alex dengan saksama sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku telah jatuh cinta kepada pria yang salah. Cintaku sangat besar saat itu hingga membuatku menjadi wanita paling bodoh di dunia ini."
"Kenapa kau tidak mau mengulang semuanya dari awal lagi Lara? Kau pernah mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu sekarang."
"Karena anda hanya pantas dijadikan masa lalu dan pelajaran di dalam hidup anda. Anda tidak cocok untuk dijadikan masa depan!" sahut Lara santai saja.
"Kau mencintai Fabio?"
__ADS_1
"Jelas saja. Bahkan rasa cintanya jauh lebih besar jika dibandingkan ketika saya jatuh cinta pada Anda dulu."
Alex tertawa. Pria itu memegang pergelangan tangan Lara dengan erat. "Bagaimana kalau kita mati bersama? Bukankah itu menandakan kalau cinta kita sehidup semati?"