Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 96. Aku Padamu


__ADS_3

Fabio mematung mendengar pertanyaan Lara. Malu, tapi mau. Bagaimana mungkin iya menjawab tidak karena sebenarnya ia sangat ingin. Namun, untuk menjawab ya justru Fabio merasa harga dirinya hilang.


"Kak Bi ... kenapa diam saja?"


"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Alfred."


Fabio beranjak dari tempat tidurnya. Pria itu ingin membersihkan tubuhnya dari darah yang ia gunakan untuk mengelabuhi Lara.


"Kak Bi ...." Tiba-tiba saja Lara menarik tangan Fabio. Karena pria itu belum berdiri sempurna, tarikan tangan Lara membuatnya tidak seimbang.


Hingga akhirnya Fabio kembali jatuh ke tempat tidur. Kali ini pria itu jatuh menindih tubuh Lara. Karena tidak mau membuat Lara merasa terhimpit, Fabio menopang tubuhnya dengan tangan. Kini Lara berbaring di bawah sambil memandang wajah Fabio. Fabio sendiri juga memandang wajah Lara tanpa berkedip. Untuk beberapa saat mereka memanfaatkan momen kesunyian itu saling memandang.


"Chubby, aku mencintaimu ...," ucap Fabio dengan suara yang pelan. Sudah saatnya ia mengatakan yang sebenarnya ia rasakan.


Lara mengukir senyuman mendengar apa yang dikatakan Fabio. Wanita itu mengusap pipi Fabio dengan tangan kanannya. "Kak Bi, aku juga mencintai Kak Bi. Maafkan aku karena telah membuat Kak Bi marah."


Fabio kembali mendekati wajah Lara. Kali ini ia tidak mau sampai gagal lagi. Di tahannya tubuhnya sendiri agar tetap pada posisinya sebelum akhirnya ke daratkan bibirnya di bibir Lara. Mereka berciuman dalam waktu yang cukup lama. Saling memiliki satu sama lain. Melampiaskan rasa cinta yang selama ini terpendam. Sebelum akhirnya wajah mereka saling memandang lagi. Ada senyuman di bibir masing-masing.


"Kapan kita menikah?" tanya Fabio. Sepertinya ia sudah tidak sabar memiliki Lara seutuhnya.


"Dua bulan lagi," jawab Lara.

__ADS_1


"Tidak, terlalu lama. 2 Minggu lagi."


"Terlalu cepat!" protes Lara. "Bagaimana kalau 1 bulan lagi?"


Fabio terlihat mempertimbangkan jawaban Lara. Ada raut wajah kurang setuju. Tetapi, ia juga tidak mau memaksa Lara. Kali ini Fabio mengalah. Ia serahkan semuanya kepada Lara.


"Baiklah. Satu bulan lagi. Tepatnya 30 hari dari sekarang."


"Oke, setuju." Lara tersenyum bahagia. Mendengar Fabio mengungkapkan cintanya seperti tadi membuat Lara mudah melupakan trauma yang sempat membuatnya takut. Kini wanita itu siap melangkah ke jenjang pernikahan bersama pria yang ia cintai.


...***...


"Aku harus bisa membawa Greta ke rumah ini," ucap Walter dengan wajah serius. "Aku tidak mau Alex dan Mark terus-menerus memanfaatkan Greta untuk membuat Nona Lara keluar dari mansion."


"Kedengarannya tidak mudah. Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Alfred mulai ragu.


"Aku yakin aku bisa membawa Greta ke mansion ini. Saat ini tujuan mereka adalah Nona Lara. Dengan begitu mereka tidak akan pernah tahu kalau sebenarnya kami sedang mengincar Greta. Dengan menggunakan nomor telepon yang tadi menghubungi Nona Lara, aku yakin bisa menemui Greta."


"Lalu, apa tugasku? Kenapa kau menceritakan semua ini kepadaku? Bukankah kau sendiri bisa mengatasinya? Aku tidak memiliki kemampuan apapun untuk membantumu."


"Dokter Alfred, bukankah ibu kandung Alex Moritz masih ada di rumah sakit jiwa? Kabar yang saya dengar, dokter yang mengurusnya adalah rekan anda. Saya juga memiliki tugas untuk anda. Saya minta agar anda memantau perkembangan Ny. Moritz. Saya ingin menggunakannya untuk menjebak Alex Moritz."

__ADS_1


"Tidak, Walter. Itu bukan ide yang bagus. Kabar yang pernah aku terima dari Lara. Alex Moritz tidak menyayangi ibu kandungnya. Bahkan saat Tuan Moritz dimakamkan, Alex Moritz sama sekali tidak menangis. Kau salah besar jika ingin memanfaatkan Ny. Moritz untuk menangkap Alex."


"Saya tidak akan mungkin salah, Dokter! Seburuk apapun hubungan antara Alex Moritz dan ibu kandungnya. Tetap saja ketika nanti Ny. Moritz sudah sembuh, pasti yang akan ia cari adalah Greta dan Alex Moritz. Saya akan membuat mereka berkumpul menjadi satu sebelum melakukan penyerangan. Setidaknya Mark tidak ada di sana."


"Kau yakin akan berhasil?" tanya Alfred lagi.


"Kemungkinannya hanya 60 persen. Tapi saya akan berjuang agar 60 persen itu bisa berhasil!" jawab Walter mantap.


"Walter, aku memiliki sedikit saran untuk Tuan Fabio. Tetapi aku tidak berani mengatakannya secara langsung," ucap Dokter Alfred dengan wajah serius.


"Ada apa, Dokter? Katakan saja."


"Kehidupan Lara yang dulu sangat tenang. Tidak ada darah seperti yang sekarang kalian lakukan. Aku sarankan, agar Lara tetap ada di mansion jika kalian sedang melakukan penyerangan. Dia tidak bersalah. Aku tidak mau dia sampai celaka."


"Anda meragukan kemampuan kami untuk melindungi Nona Lara?" tanya Walter kesal.


Dokter Alfred beranjak dari sofa. Pria itu melangkah mendekati jendela yang ada di depannya. "Aku dan Lara sudah seperti saudara. Kami sama-sama orang yang lemah. Satu peluru saja yang mendarat di tubuh kami mungkin kami akan tewas. Tidak seperti kalian. Aku hanya tidak mau kehilangan Lara. Dia sudah seperti adikku sendiri, Walter."


"Dok, anda bisa percayakan Nona Lara kepada kami. Kami akan menjaga Nona Lara dengan sabaik mungkin."


"Tidak tahu kenapa, aku merasa Lara tidak aman. Walau aku tahu Tuan Fabio sangat mencintainya, tetapi setelah tahu masalah yang mereka alami begitu rumit, aku takut Lara celaka. Semoga saja apa yang dikatakan Walter benar. Mereka bisa menjaga Lara dengan baik sampai mereka berhasil mengalahkan musuh!" gumam Alfred di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2