
Fiona tertawa puas mendengar cerita yang baru saja disampaikan oleh Hana. Ia merasa menang. Walau memang bukan seperti itu tujuan awalnya, tetapi mendengar Lara di usir dari rumah dengan cara yang begitu kasar membuat Fiona senang.
"Akhirnya ... wanita itu keluar dari rumah keluarga Moritz. Aku senang dia menderita!" ketus Fiona.
"Nona, bukan hanya itu saja. Tuan Alex juga telah menceraikan wanita kingkong itu. Tapi sayang, dia tidak mau tanda tangan. Sepertinya dia tidak mau cerai dari Tuan Alex. Dia sudah terlanjur cinta mati," jawab Hana.
"Bagaimana dengan Greta dan Ny. Moritz?"
"Sejak kepergian Tuan Moritz, Nyonya mengurung diri di kamar. Begitu juga dengan Greta. Hanya Tuan Alex yang sering pergi, Nona."
"Bagus. Aku akan memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan uang yang banyak. Sekarang Alex tidak memiliki alasan lagi ketika aku meminta yang padanya."
"Anda benar, Nona. Semoga anda berhasil!" ujar Hana. Panggilan telepon terputus. Fiona meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan wajah yang ceria.
"Tidak lama lagi aku akan menjadi kaya raya," gumam Fiona di dalam hati.
Tin tin
Fiona mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Wanita itu segera beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang datang. Saat baru beberapa langkah, Alex sudah muncul di sana. Pria itu mengukir senyum melihat Fiona yang semakin hari semakin menggoda.
"Alex, kau tidak bilang kalau mau datang."
"Fiona, aku sangat merindukanmu." Alex segera memeluk Fiona. Baginya hanya Fiona satu-satunya orang yang bisa memahami perasaannya saat ini.
"Aku juga. Maafkan aku karena tidak datang ke pemakaman Tuan Moritz. Aku takut membuat keributan di sana," dusta Fiona.
"Fiona, ada yang ingin aku katakan padamu." Wajah Alex terlihat sangat serius. Pria itu menarik tangan Fiona agar duduk bersama dengannya di sana.
"Ada apa?" tanya Fiona bingung.
__ADS_1
Mereka duduk di sofa yang sama. Alex memegang tangan Fiona dan menatap wajah wanita itu dengan saksama. "Fiona, menikahlah denganku," ucap Alex dengan bersungguh-sungguh.
Fiona kaget bukan main. Ia tidak menyangka kalau Alex akan mengajaknya menikah secepat ini. Selama ini Fiona hanya memanfaatkan Alex. Tidak pernah terbesit di benaknya untuk menikah dengan Alex. Apa lagi sampai memiliki anak.
"Menikah?"
"Ya, Fiona. Kita saling mencintai. Papa sudah tidak ada. Tidak ada yang bisa menghalangi hubungan kita lagi. Ini saatnya kita bersatu. Bukankah dari dulu ini impian kita? Menikah dan hidup bahagia?" ucap Alex dengan wajah penuh harap.
"Bagaimana dengan Lara?"
"Lara?" Alex tersenyum menghina. "Dia sudah pergi dari hidupku. Aku harap dia tidak pernah muncul di hadapanku lagi."
"Kalian sudah bercerai?" Fiona tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak Alex. Status pernikahan antara Alex dan Lara yang akan ia jadikan alasan menolak ajak Alex untuk menikah.
"Aku sudah mengurusnya. Tetapi dia tidak mau menandatangai surat perceraian itu!" jawab Alex dengan wajah kesal.
"Kalau begitu, kalian belum bercerai. Aku tidak mau menikah sebelum kalian bercerai," jawab Fiona.
"Alex, ini bukan tentang cinta. Tapi, soal harga diri. Aku tidak mau jadi istri ke dua. Kau ingin jadi yang pertama!"
Alex membisu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku akan membayar orang untuk menemukan keberadaan Lara. Setelah aku berhasil menemukannya, aku akan memaksanya menandatangani surat perceraian itu!" gumam Alex di dalam hati.
***
Greta keluar kamar dengan mata yang bengkak. Wanita itu melihat para pelayan sedang mengumpulkan barang-barang milik Lara. Namun, Greta sendiri tidak tahu kalau barang-barang yang dibereskan itu adalah barang-barang milik Lara.
"Milik siapa ini?"
"Semua barang ini milik Nona Lara, Nona," jawab salah satu pengawal.
__ADS_1
"Apa yang akan kalian lakukan dengan barang-barang milik Kak Lara?"
"Tuan Alex meminta kami membuang semua barang milik Nona Lara yang ada di kamar, Nona."
Greta terdiam. Ia mengangguk pelan. Walau sebenarnya ia sendiri merasa kasihan terhadap Lara, tetapi ia juga tidak mau sampai membela Lara apa lagi ada di pihak wanita itu.
"Sekarang, di mana Kak Alex?"
"Tuan Alex baru saja pergi, Nona."
Greta kembali membisu. Wanita itu ingin pergi ke kamar Nyonya Moritz dan melihat keadaan wanita paruh baya tersebut. Namun, perhatian Greta tertuju pada sebuah iPad yang ada di dalam keranjang baju.
"Apa itu juga milik Kak Lara?" tunjuk Greta.
"Benar, Nona."
"Berikan padaku," pinta Greta. Pelayan itu segera memberikan iPad milik Lara.
"Kami permisi dulu, Nona."
Greta hanya mengangguk. Ia berjalan ke sofa sambil mengaktifkan iPad milik Lara yang saat itu dalam keadaan mati. Setelah berhasil menghidupkan iPad tersebut, Greta mengeryitkan dahi.
"Bisa-bisanya dia tidak menggunakan password di iPad ini," gumam Greta. Dengan penuh antusias Greta melihat isi yang ada di dalam iPad tersebut.
Greta membuka galeri foto. Wanita itu tidak menyangka ketika melihat foto Lara waktu masih remaja. Tubuhnya tidak terlalu gemuk dan tidak juga kurus. Berat badan yang ideal. Dengan kulit putih dan wajah yang berseri, Lara justru terlihat seperti seorang model.
"Sebenarnya dia wanita yang cantik. Bahkan jauh lebih cantik jika dibandingkan Kak Fiona. Tapi sayang, sekarang tubuhnya tidak secantik dulu," gumam Greta.
Setelah bosan melihat foto-foto lama Lara, Greta memutuskan untuk membaca catatan yang ada di sana. Dari sekian banyak catatan yang tersimpan, Greta tertarik untuk membawa sebuah catatan yang berjudul. 'Gadis Cantik'
__ADS_1
Di jalan pulang aku menolong seorang wanita yang baru saja mengalami kecelakaan. Sayangnya aku tidak sempat melihat wajah wanita itu. Dari penampilannya, ia seperti wanita yang kaya raya. Gelangnya terjatuh. Aku ingin mengembalikan gelang ini kepadanya. Tetapi aku tidak tahu siapa namanya dan dimana rumahnya. Semoga saja dia tidak marah jika gelangnya aku simpan untuk sementara waktu.
Greta menutup mulutnya melihat foto gelang yang sangat tidak asing baginya. Kedua matanya berkaca-kaca. "Ternyata wanita berbadan besar yang pernah dikatakan suster itu adalah Kak Lara?"