
Walter diam membisu memandang Fabio yang kini berdiri dihadapannya. Pria itu tidak tahu harus bagaimana. Semua sudah terjadi. Kini Lara tidak ada lagi di mansion tersebut. Walau sebenarnya mereka yakin kalau pasti bisa merebut Lara dari Alex Moritz. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa ceroboh. Harus selalu waspada. Pria yang kini membawa Lara memiliki masalah dengan kejiwaannya. Mereka tidak mau sampai Lara terluka.
"Kau yakin dengan semua informasi ini?" tanya Fabio kembali memastikan.
"Saya yakin, Bos. Saya dengar sendiri ketika dokter psikiater itu menjelaskan keadaan Alex Moritz kepada Dokter Alfred."
Fabio memutar tubuhnya dan mengusap wajah dengan tangan. Kini ia masih belum menemukan cara untuk menyelamatkan Lara. Bukan hanya melukai. Mungkin Alex bisa saja sampai membunuh Lara karena memang pria itu kini sangat terobsesi dengan Lara. Tidak mau Lara bahagia dengan pria lain.
Tadi sebelum pergi ke mansion, Walter dan Dokter Alfred sempat bertemu dengan seorang dokter yang ternyata pernah merawat Alex Moritz hingga pria itu sembuh.
"Alex Moritz adalah pasien saya. Saat usianya menginjak 20 tahun, dia mengalami depresi berat. Ketika kami melakukan observasi, kami berhasil menemukan penyebab Alex Moritz bisa sampai seperti itu. Tuan Moritz tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Putranya. Begitu juga dengan ibu kandungnya. Walau hidup bergelimang harta, tetapi batin Alex Moritz tidak pernah bahagia.
Biasanya, pasien yang mengalami gangguan mental seperti ini masih bisa disembuhkan. Selama kita memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih kepadanya, maka dia tidak akan ingat dengan penyakitnya. Tapi ada satu keadaan yang harus di hindari. Jangan sampai dia merasakan hal yang sama seperti dulu lagi.
Dia menjadi gila karena dulu tidak mendapat kasih sayang dari orang yang sangat dia sayangi. Yaitu ayah kandungnya sendiri. Jika suatu ketika dia merasakan hal seperti ini lagi. Diabaikan oleh orang yang sangat ia sayangi bahkan sangat ia cintai. Mungkin keadaannya bisa lebih parah dari yang dulu. Bukan hanya melukai dirinya sendiri saja. Mungkin ia tidak akan pernah sadar kalau ia sudah melukai orang yang ia sayangi. Bahkan orang-orang seperti ini sering berakhir menjadi kriminal yang begitu kejam. Tidak bisa di hadapi dengan kekerasan karena itu hanya akan membuatnya semakin kuat. Tidak pernah bisa berpikir jernih layaknya orang normal."
"Bos, sepertinya masalah ini yang sudah membuat Alex Moritz menjadi seorang pembunuh. Dengan membunuh dia bisa melampiaskan rasa kecewa yang ia rasakan," ucap Walter.
"Lalu, bagaimana dengan Alex yang satu lagi? Bukankah mereka ada dua? Bagaimana cara kita menangkap Alex yang palsu?" tanya Fabio tanpa memandang.
"Saya punya kabar terbaru, Bos. Rumah sakit yang merawat Mark sempat melihat Mark menjalani operasi plastik. Namun, tidak ada yang tahu seperti apa wajah Mark yang baru. Saya menyimpan curiga kalau pria yang kini menyerupai Alex Moritz adalah Mark."
__ADS_1
"Lalu, kenapa Mark harus memilih wajah Alex?" tanya Fabio lagi.
"Alasannya sangat mudah di tebak, Bos. Nona Lara berhubungan dengan Alex Moritz. Mark ingin balas dendam dengan cara memanfaatkan Nona Lara dan Alex Moritz. Mark tahu kalau kini Anda terlibat."
Fabio mengepal kuat tangannya. "Persiapkan semuanya. Kita berangkat sekarang!" Ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju ke lemari. Fabio mengambil senjata api miliknya sebelum memakai jaket hitam.
Walau jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi bukan lagi halangan bagi Fabio untuk menyelamatkan Lara.
Walter juga segera bersiap-siap. Pria itu tidak mau sampai terlambat menyelamatkan Lara.
...***...
Lara duduk di atas ranjang dengan wajah yang sedih. Walau sudah larut, tetapi dia belum bisa tidur nyenyak. Lara takut untuk memejamkan mata. Bukan tanpa alasan. Kini wanita itu berada di ranjang yang sama dengan Alex Moritz. Tangannya yang sebelah kiri di borgol dengan tangan Alex.
"Bagaimana ini? Bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari tempat ini?" gumam Lara di dalam hati.
Lara melihat kunci borgol yang tadi sempat dimasukkan Alex ke dalam saku. Wanita itu memberanikan diri untuk mengambil kunci tersebut secara diam-diam. Tangannya gemetaran. Tubuhnya tiba-tiba saja berkeringat padahal suhu di ruangan itu dingin.
Ketika Alex bergerak Lara kembali menahan gerakannya. Wanita itu memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang tidak karuan.
"Tenang. Aku harus tenang."
Lara kembali memasukkan tangannya ke dalam saku Alex. Ketika kunci itu berhasil ia genggam, Lara kebingungan untuk mengeluarkan tangannya sendiri. Alex merubah posisi tidurnya hingga Lara menjadi kebingungan. Namun, dengan penuh tekad Lara menarik tangannya dan kembali berbaring di ranjang. Kedua matanya terpejam agar Alex tidak curiga.
__ADS_1
Alex membuka kedua matanya dan memandang wajah Lara. Pria itu tersenyum sebelum mengusap pipi Lara. "I love you," ucap Alex sebelum memejamkan mata lagi. Pria itu meletakkan tangannya dan tangan Lara yang di borgol di atas perut.
Lara membuka matanya secara perlahan. "Bagaimana caranya untuk kabur dari sini?"
Lara menunggu hingga beberapa menit lamanya. Setelah memastikan Alex kembali nyenyak, Lara membuka borgol di tangannya dengan kunci yang tadi ia ambil. Perlahan dan hati-hati. Jangan sampai menimbulkan suara sedikitpun.
Ketika borgol itu berhasil terbuka, Lara tersenyum. Ia segera menarik tangannya dan menggantinya dengan tangan Alex. Lara memborgol tangan Alex dua-duanya sebelum melempar kunci borgol ke lantai.
"Aku harus segera kabur dari tempat ini," gumam Lara sebelum turun dari tempat tidur. Saat berlari menuju ke pintu, tiba-tiba saja wanita mematung karena kaget.
"LARA!" teriak Alex yang sudah terbangun dan duduk di atas tempat tidur. Pria itu menatap Lara dengan tatapan yang tajam. Lara memutar tubuhnya dan memberanikan diri memandang wajah Alex.
"Kak Alex sudah bangun?" tanya Lara penuh basa-basi.
"Kau mau kabur dariku?" ujar Alex. Pria itu turun dengan tangan terborgol. Ia berhenti di samping tempat tidur dan melepas borgol itu hanya dengan satu hentakan saja. Lara tidak mau mengulur waktu terlalu lama. Wanita itu segera membuka pintu kamar dan berlari kabur dari sana.
"Lara! Berhenti!" teriak Alex dari kamar sebelum berlari mengejar Lara.
...***...
Hai Reader... ini ada rekomendasi Novel temen author. Semoga suka.❤️
__ADS_1