Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 32. Mustahil


__ADS_3

Lara diam sejenak mendengar jawaban Fabio sebelum akhirnya tawanya pecah. Wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Fabio yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa badannya yang besar itu berubah menjadi seorang bidadari. Lara berpikir kalau Fabio mengatakan hal itu hanya untuk menghiburnya saja. Sekedar candaan yang tidak mungkin jadi serius.


“Ya, saya akan berubah menjadi bidadari yang cantik. Setelah itu saya akan datang menemui Kak Alex, menggodanya agar ia mau meninggalkan wanitanya itu. Saya akan membuat Alex jatuh cinta pada saya. Setelah itu saya yang akan menceraikannya,” sahut Lara.


“Ide yang bagus,” jawab Fabio dengan kepala mengangguk. “Walter, siapkan semuanya.”


“Baik, Boss.” Walter menunduk hormat sebelum memutar tubuhnya dan pergi dari sana.


Lara menopang kepalanya dengan tangan kanan. “Tuan, apa yang ingin dilakukan polisi itu?”


“Saya juga tidak tahu,” jawab Fabio. Ia beranjak dari sofa dan melirik jam di tangannya. “Nona, saya harus pergi. Ini ada peta yang bisa membantu anda agar tidak tersesat di rumah ini. Ada beberapa ruangan yang sebaiknya tidak anda datangi. Itu ruangan yang sangat berbahaya. Bahkan saya memelihara seekor singa yang sangat buas di rumah ini. Saya tidak mau anda sampai bertemu dengannya. Kebetulan sekali dia belum makan selama tiga hari,” ucap Fabio agar Lara mau menurut.


Lara menerima peta tersebut. Ia tersenyum ketika sudah tahu ke mana jalan keluar menuju pintu utama di depan. Mansion itu berbentuk sebuah persegi dengan kolam renang luas di tengahnya. “Terima kasih, Tuan.”


“Saya tidak bisa sering-sering menemui anda karena saya pria yang cukup sibuk. Saya harap apa yang anda inginkan bisa segera terkabulkan,” ucap Fabio lagi.


Lara mengangguk. “Terima kasih, Tuan. Jika saya tidak bertemu dengan anda, detik ini saya tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya.”


“Saya permisi dulu, Nona Lara. Semoga sukses!”


Lara mengangguk lagi. Ia mengukir senyuman dan menatap Fabio sampai hilang di balik pintu. “Apa maksudnya? Kenapa dia bilang semoga sukses. Sebenarnya apa yang akan aku lakukan?” gumam Lara bingung lagi. Ia kembali duduk dan memandang peta yang sudah ada di tangannya. Hari ini Lara lagi-lagi akan menjelajahi mansion mewah tersebut. 


Belum lama duduk, tiba-tiba pintu terbuka. Walter kembali masuk bersama dengan pasukan di belakangnya. Lima wanita dan lima pria. Lara kembali berdiri dengan wajah bingung. Ia memandang satu persatu wajah orang-orang itu dengan tatapan penuh tanya.


“Nona, mereka adalah orang-orang yang sudah saya persiapkan untuk membantu anda,” ucap Walter.


“Membantu saya?” Lara menunjuk wajahnya sendiri.

__ADS_1


“Benar, Nona. Mereka akan membantu anda untuk menurunkan berat badan anda,” jawab Walter.


Lara mematung. Sampai-sampai peta yang ada di tangannya terlepas. “Tuan Fabio tidak bercanda? Dia serius?”


***


Enam bulan kemudian.


Lara duduk di depan cermin dengan balutan dres pendek berwarna hitam. Punggungnya terbuka hingga memamerkan kulitnya yang putih dan bersih. Dua wanita ada di sisi kanan dan belakangya. Mereka memiliki tugas masing-masing. Yang satu merias wajah Lara yang satunya lagi merapikan rambut Lara. 


“Nona, semakin hari anda semakin cantik,” puji wanita yang ada di sisi kanan Lara.


“Apa anda masih mau diet, Nona?” tanya wanita yang dibelakang Lara.


Lata menggeleng pelan. “Tidak. Sepertinya sekaranglah waktunya. Saya akan pergi menemuinya. Saya sudah tidak sabar melihat ekspresinya ketika bertemu dengan saya nanti,” jawab Lara.


“Mantan suami anda tidak akan bisa mengenal anda, Nona. Wajah anda terlihat jauh berbeda.”


“Saya adalah Lara Alessandra!”


Pintu terbuka. Seorang pria berpakaian rapi muncul dan menunduk hormat kepada Lara. “Nona, mobil sudah siap.”


Lara beranjak dari kursi. Ia melangkah pergi meninggalkan kamar yang ia tiduri selama enam bulan terakhir ini. Sambil melangkah, Lara kembali membayangkan perlakuan jahat Alex waktu itu. “Kak Alex, malam ini kita akan bertemu. Saya ingin tahu, apa Kak Alex masih  berani merendahkan saya seperti saat itu? Lihatlah. Badut yang dulu anda tertawakan tidak lama lagi akan menertawakan anda!”


Lara turun ke lantai bawah dengan lift. Wanita itu berjalan menuju ke pintu utama. Langkahnya terlihat elegan layaknya model yang sedang berjalan di catwalk. Lara terlihat seperti wanita terhormat yang patut disegani. Semua barang yang melekat di tubuhnya adalah barang mahal dan mewah. 


Supir membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Lara. Tanpa bicara, Lara masuk ke dalam. Malam ini ia akan menemui Alex di salah satu hotel yang ada di pusat kota. Pria itu akan menghadiri acara makan malam di sana. Berdasarkan informasi yang Lara dapat, Alex akan datang bersama dengan Fiona. Bagi Lara ini adalah momen yang tepat untuk mempermalukan Fiona dan merebut Alex dari wanita itu.

__ADS_1


Lara memandang keluar jendela ketika mobil sudah melaju dengan kencang. “Di mana Tuan Fabio?” tanya Lara.


“Tuan Fabio akan kembali dua minggu lagi, Nona,” jawab pria yang duduk di samping supir. Pria itu bertugas menjaga Lara. Fabio tidak mau Lara sampai celaka ketika menjalani misi balas dendamnya. 


“Apa dia baik-baik saja?”


Pria yang ada di depan terdiam. “Nona, anda harus fokus dengan rencana anda.”


Lara kembali diam. Walau sekarang ia sudah berhasil menurunkan berat badannya dan berubah menjadi wanita yang sangat cantik, tetapi Lara tidak bisa tenang. Fabio menghilang tanpa kabar selama tiga bulan terakhir ini. Lara merasa khawatir. Ia ingin Fabio ada di depan matanya dalam keadaan baik-baik saja.


Tidak lama kemudian, mobil yang di tumpangi Lara tiba di depan hotel. Lara turun dan masuk ke dalam. Wanita itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alex dan Fiona. Beberapa pelayan hotel menyambut Lara dengan senyuman ramah. Lara datang dan membawa nama Fabio. Jelas saja kehadirannya sangat di hormati.


“Nona, pria yang anda cari ada di sana,” ucap pria yang sejak tadi menemani Lara.


Lara memandang Alex dan Fiona. Mereka sedang tertawa bahagia di sana. Seperti sedang membahas sesuatu yang menarik dengan rekan kerja Alex yang Lara sendiri tidak tahu siapa. Lata melangkah ke sana. Ia mengepal tas di genggamannya dengan debaran jantung tidak karuan.


“Aku harus berani. Aku tidak boleh lemah. Aku harus menang!” gumam Lata di dalam hati.


Fiona memandang Lara dengan dahi mengeryit. Wanita itu merasa seperti pernah melihat Lara, namun, ia tidak tahu kalau sebenarnya wanita cantik itu adalah Lara. Tapi, karena penampilan Lara yang terlihat seperti wanita kaya membuat Fiona melempar senyum ramah.



“Selamat malam, Nona,” sapa Fiona. “Apa itu gelang keluaran terbaru yang hanya ada tiga di dunia?” puji Fiona.


Lara memandang gelang di tangannya sebelum tersenyum kecil. “Ya, dan ketiga-tiganya ada di rumah saya,” jawab Lara dengan wajah angkuh.


Alex memutar tubuhnya mendengar jawaban Lara. Walau penampilan Lara berubah, tetapi Alex bisa mengenal jelas suara Lara. Pria itu mematung melihat wanita yang kini berdiri di depannya. Gelas yang ada di tangannya sampai terlepas.

__ADS_1


“Alex, apa yang kau lakukan?” protes Fiona.


Alex dan Lara saling menatap dalam waktu yang lama sebelum akhirnya Alex yang berucap lebih dulu. “Lara?”


__ADS_2