
Lara pergi dari rumah lamanya dengan hati yang pilu. Kini ia tidak tahu harus ke mana. Sambil menggenggam ponsel, Lara berharap temannya ada yang bisa di hubungi dan mau membantunya. Sebenarnya satu-satunya teman yang sudah pasti akan menolongnya adalah Dr. Alfred. Tetapi, pria itu akan menikah besok. Lara tidak mau merusak hari bahagia sahabatnya.
“Ke mana aku harus pergi?” Tiba-tiba saja pengendara sepeda menentang Lara. Hal itu membuat Lara oleng dan terjatuh dengan posisi berlutut. Kedua lututnya yang pertama kali menghantam jalan. Ponsel yang ia miliki melayang di udara sebelum mendarat di jalan lintas. Dalam sekejap, satu-satunya ponsel milik Lara terlindas mobil hingga remuk redam. Lara mematung melihat ponsel miliknya kini sudah tidak bisa digunakan lagi.
“Kakak, sini aku bantu,” ucap anak kecil yang berdiri di samping Lara. Lara memandang wajah anak kecil itu dan tersenyum pahit.
“Kau tidak akan bisa membantu tubuh kakak yang besar ini untuk kembali berdiri. Tubuhmu terlalu kecil,” jawab Lara.
Anak kecil itu mengambil tisu dan memberikannya kepada Lara. “Pasti rasanya sangat sakit. Kakak harus kuat,” ucap anak kecil itu sebelum pergi.
Kedua mata Lara kembali berkaca-kaca. Ia menatap tisu yang ada di genggaman tangannya dengan bibir gemetar. “Ya, rasanya sangat sakit.” Lara menekuk kedua kakinya dan melanjutkan tangisnya. Tidak peduli kini posisinya ada di pinggiran jalan. Setiap pengendara yang lewat pasti bisa melihatnya dengan jelas. “Aku tidak menyangka akan sesakit ini! Kenapa rasanya sakit sekali, Ma … Pa.”
Lara sama sekali tidak peduli dengan lututnya yang berdarah. Wanita itu sedang memikirkan hatinya. Hatinya terasa sakit. Bukan main sakitnya. Bahkan sekedar tangisan saja tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Lara terpuruk. Selain tidak memiliki tujuan, ia juga sudah kehilangan semangat.
“Sakit. Ini sakit! Aku tidak mau merasakan rasa sakit separah ini!” lirih Lara lagi.
Hujan turun dengan derasnya. Melihat Lara yang masih duduk dengan kepala menunduk dan kaki tertekuk membuat sebagian orang mengira Lara seorang pengemis. Memang saat itu pakaian Lara sangat kotor. Walau itu pakaian mahal yang pernah ia beli pakai uang Alex, tapi tetap saja. Dengan kondisi yang seperti ini, membuat siapa saja memandang Lara sebagai seorang pengemis.
“Hei, jangan duduk di depan tokoku. Jika kau terus-terusan ada di situ. Pelanggan tidak ada yang mau singgah!” teriak si pemilik toko yang kebetulan memang letaknya ada di depan Lara duduk.
Lara memandang wajah si pemilik toko sebelum beranjak dari sana. “Maaf.”
Lara memandang ke depan. Hujan yang lebat membuat pandangan Lara tidak luas. Ia ingin menyebrang jalan. Ponsel yang sudah remuk redam ia tinggalkan begitu saja. Mengutip ponsel yang telah rusak hanya akan membuat hatinya menjadi semakin sakit.
Karena tidak lihat-lihat jalan, Lara sampai tidak tahu kalau ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Lara muncul secara tiba-tiba hingga membuat mobil itu banting stir dan menabrak pembatas jalan. Beberapa mobil di belakang mobil itu ikut berhenti.
__ADS_1
Lara yang mulai panik karena sudah menyebabkan sebuah mobil kecelakaan hanya bisa diam mematung di tempatnya berdiri. Tiba-tiba saja keluar beberapa pria berpakaian serba hitam. Pria itu mengelilingi Lara dan mengeluarkan senjata. Mereka menodongkan senjata api ke arah Lara. Lara panik bukan main.
“Apa lagi sekarang?” gumam Lara di dalam hati.
“Hentikan!”
Mendengar suara seorang pria membuat semua pria yang tadi mengelilingi Lara menurunkan senjata api mereka. Seorang pria muncul dan menatap penampilan Lara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pria itu berjalan mendekat.
“Siapa Anda? Kenapa anda menghalangi jalan kami?” tanya pria itu dengan sorot mata menuduh.
“Saya … saya ….” Tubuh Lara gemetar. Bagaimana tidak. Semua orang yang ada di dekatnya kini orang-orang yang memiliki wajah sangar. Menakutkan. Lara seperti ingin dilahap hidup-hidup.
“JAWAB!”
“Lara. Saya Lara … Lara Alesandra. Wanita berusia 25 tahun. Yatim piatu. Sudah menikah. Belum memiliki anak. Saya-”
“Bos sudah di pindahkan ke mobil lain, Bos,” jawabnya.
Pria itu memandang wajah Lara lagi. “Sepertinya dia tidak sengaja melintas. Tidak ada tanda-tanda kalau dia adalah mata-mata. “Ayo kita harus segera pergi dari sini!” perintah pria itu sebelum membawa pasukannya kembali masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan Lara sendirian di sana.
Di dalam mobil yang tidak jauh dari posisi Lara berdiri, seorang pria menghentikan darah di dahinya karena kecelakaan mobil yang baru saja ia alami. Seorang pria yang ada di samping pria itu membantunya untuk menghentikan luka tersebut.
“Bos, apa perlu kita ke rumah sakit?”
“TIDAK!” tegasnya dengan wajah menahan marah. “Siapa dia? Kenapa dia bisa muncul tiba-tiba seperti tadi?” ujarnya dengan wajah tidak suka.
__ADS_1
“Hanya seorang wanita berbadan besar, Bos. Sepertinya dia tidak ada niat buat mencelakai anda,” jawab pria itu.
Pria itu meringis. Mungkin, jika orang biasa yang mengalami luka seperti apa yang ia rasakan orang itu sudah pingsan. Tetapi dia tidak. Ia tetap bertahan karena baginya luka itu masih tergolong luka kecil.
Lara kembali melintas ketika melihat mobil-mobil itu tidak juga berjalan. Ia tidak mau terus-terusan kehujanan seperti itu. Tetapi, di saat ada di tengah jalan. Lara merasa pusing. Tubuhnya oyong. Lara memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
“Kepalaku,” lirih Lara.
Lara tergeletak di tengah jalan tepat di depan mobil yang membawa pria yang dipenuhi luka tadi. Supir yang ada di depan menghela napas kasar ketika melihat orang yang menghalangi jalan mereka adalah orang yang sama.
“Kenapa tidak jalan?” protes pria itu.
“Bos, wanita itu kini pingsan di jalan,” jawab sang supir.
“Singkirkan. Apa harus aku yang menyingkirkannya?”
Supir itu menaikan alisnya. Ia mengambil ponsel dari saku untuk menghubungi orang-orang yang ada di mobil belakang. “Turunlah dan singkirkan wanita ini. Sepertinya kalian harus berlima. Jika sendirian tidak akan sanggup,” ucap pria itu.
“Sebenarnya sebesar apa wanita itu? Kenapa kalian payah sekali!” protes pria yang di panggil bos tadi. Dia mulai kesal. Hingga akhirnya ia turun dari mobil untuk memeriksa sendiri wanita yang sudah menyebabkannya menabrak pembatas jalan dan menghalangi jalannya.
Pria itu mematung melihat Lara pingsan di jalan. Ia berjongkok dan menyingkirkan rambut Lara yang menutupi wajah. “Chubby,” gumamnya pelan.
“Bos, anda kenal? Siapa Chubby?”
Pria itu kembali berdiri dan menghela napas. “Bawa dia ke mansion.”
__ADS_1
“Ke Mansion, Bos?” tanya pria itu tidak percaya.
“Sekarang!” sambungnya tanpa mau menjelaskan.