Unperfect Wife

Unperfect Wife
111. Tetap Siaga


__ADS_3

Lara melebarkan kedua matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan Alex. Walter sendiri semakin waspada dengan senjata apinya ketika pria itu melihat Alex telah berani memegang tangan Lara dan mencegah Lara pergi. Sekali tarik saja mungkin Alex akan tewas karena peluru yang dilepas Walter mendarat di kepala pria itu.


"Kau takut?" ledek Alex.


Lara berusaha tetap tenang walau kini debaran jantungnya sudah tidak karuan. "Tidak. Karena cinta yang sesungguhnya merelakan. Bukan memaksa!"


Alex tersenyum tipis. "Kau benar." Pria itu melepaskan tangan Lara. "Maafkan aku Lara karena sudah membuatmu takut."


Alex melangkah menuju ke makam Fiona. Lara masih berdiri di posisinya. Wanita itu menunda keinginannya untuk pergi karena ia ingin melihat sebenarnya apa yang akan dikatakan Alex di depan makam Fiona.


Alex berjongkok di sana dan mengusap batu nisan Fiona hingga bersih. "Maafkan aku Fiona. Tidak seharusnya aku membiarkanmu di bunuh dengan cara seperti ini. Maafkan aku karena sudah membuatmu merasakan sakit. Terima kasih atas waktu yang sudah kau berikan padaku. Terima kasih."


Alex berdiri dan melangkahkan kakinya pergi menjauhi makam Fiona. Pria itu tersenyum sambil memandang ke depan dan melangkah perlahan.


"Aku bisa membuatnya pergi bersamaku meninggalkan dunia yang kejam ini. Tetapi, aku tidak mau menyakitinya untuk yang kedua kali. Aku akan merelakannya bahagia dengan pria lain. Tapi, jangan paksa aku untuk melihat kebahagiaannya. Aku akan pergi meninggalkan kota ini," gumam Alex di dalam hati.


Lara memandang punggung Alex sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu juga ingin pergi. Setidaknya apa yang ia dengar dari Greta sudah ia sampaikan kepada Alex. Ketika beberapa meter melangkah, Lara di kagetkan dengan suara tembakan yang begitu memekakkan telinga. Hal itu membuat Lara mematung di tempatnya. Ia bahkan tidak berani memutar tubuhnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang sana.

__ADS_1


Fabio yang baru saja muncul segera menarik Lara ke dalam pelukan. Pria itu memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca.


"Walter!" teriak Fabio.


Walter muncul dan menunduk hormat di hadapan Fabio. Pria itu memegang senjata api hingga akhirnya membuat Lara salah sangka.


"Kau yang menembaknya?" tuduh Lara.


"Tidak, Nona," sangkal Walter.


"Kita harus pergi. Tempat ini tidak aman," ajak Fabio.


"Bagaimana dengannya, bos?" tanya Walter bingung.


"Periksa. Apa dia masih hidup atau tidak!"


"Kalian mau pergi kemana?" teriakan seorang wanita membuat langkah Fabio dan Lara terhenti. Mereka memandang ke samping tepatnya di balik pohon besar yang letaknya tidak jauh dari makan. "Kalian semua harus mati!"

__ADS_1


Satu hal yang tidak di duga. Ny. Moritz berdiri di sana dengan senjata api di tangannya. Entah dari mana ia mendapatkan senjata berbahaya itu. Ia kali ini menodongkan senjata api itu ke arah Lara.


"Kalian yang sudah menyebabkan putriku tewas. Kalian semua harus bertanggung jawab!" teriak Ny. Moritz. Wanita paruh baya itu kembali depresi. Ia semakin tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang begitu menyakitkan. Keluarga lengkap yang selama ini ia banggakan telah hancur.


"Kita bisa bicara baik-baik. Letakkan senjata itu Nyonya," bujuk Walter.


"Tidak!" Ny. Moritz menarik pelatuk senjata api itu. Memang peluru itu meleset karena memang Ny. Moritz bukan ahli dalam menembak. Tadi dia menembak Alex dan mengenai tubuh pria itu semata-mata hanya kebetulan saja.


Walter mengangkat senjata apinya. Ia sendiri tidak bisa sabar. Kalau saja nanti peluru itu sampai mendarat di tubuh Fabio atau Lara. Walter akan merasa menjadi pengawal yang tidak berguna.


"Walter, jangan lakukan itu," pinta Lara tidak tega. Walter menatap wajah Ny. Moritz yang saat itu sudah siap menembaknya senjata apinya ke arah Lara.


"Maafkan saya Nona. Kali ini saya harus mengambil tindakan," batin Walter.


DUARRR


"Entah apa yang akan terjadi pada hidupku jika tadi pria itu benar-benar mengajakmu pergi bersamanya."

__ADS_1


__ADS_2