
"Apa? Kau keluar dari rumah itu karena takut dengan ancaman Lara?" seru Fiona dengan wajah yang begitu tegang. "Kenapa kau lemah sekali, Hana. Kenapa kau tidak melawannya?"
"Ya, Nona. Saya tidak berani melawan Nona Lara. Dia terlihat jauh berbeda. Sepertinya dia tidak mudah di tindas lagi sekarang. Penampilannya juga terlihat seperti wanita sukses." Hana menunduk dengan wajah sedih. "Sekarang saya tidak punya tempat tinggal. Saya juga tidak punya uang karena tadi saya tidak sempat meminta gaji saya bulan ini sama Nona Greta."
Fiona menghela napas kasar. "Lalu, apa urusannya denganku?" ketus Fiona tidak suka. "Jangan bilang kalau kau datang ke sini karena ingin meminta pekerjaan dariku. Jangan bermimpi, Hana. Hubungan di antara kita sebatas rekan bisnis! Tidak. Di bilang rekan bisnis terlalu mulia. Lebih tepatnya, kau adalah seorang budak. Aku menggajimu ketika kau berhasil melakukan apa yang aku perintahkan. Tapi sekarang, karena kau sudah tidak berguna lagi. Sepertinya aku tidak perlu repot-repot memikirkan nasipmu," jawab Fiona tanpa peduli perasaan Hana.
"Nona, saya mohim tolong saya." Hana menggeleng dengan wajah memelas. "Nona, jangan lakukan semua itu. Saya mohon, Nona. Tolong saya. Saya bisa bekerja di rumah ini sebagai pembantu anda," lirih Hana. "Saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan asalkan saya di beri tempat tinggal."
"Tidak! Hana, jika Alex datang ke sini dan melihatmu ada di sini. Dia akan curiga. Aku tidak mau membuat Alex berpikiran buruk. Aku tidak mau Alex sampai tahu kalau selama ini kau adalah mata-mata yang aku kirim untuk mengawasi keluarga Moritz!" tolak Fiona.
"Nona, tolong saya." Hana lagi-lagi rela berlutut agar bisa mendapatkan pekerjaan dari Fiona. Jika sampai tidak berhasil, ia akan menjadi gelandangan yang tidak memiliki tujuan hidup. Hana tidak mau nasipnya menyedihkan seperti itu.
"Tidak, Hana!" Fiona mendorong tubuh Hana hingga wanita itu terjatuh. "Aku tidak bisa menolongmu dan tidak akan bisa. Hubunganku dan Alex juga terancam putus sejak wanita itu muncul. Sebaiknya kau jangan menambah beban hidupku!" teriak Fiona. "Dasar budak tidak berguna!"
"Nona, hanya anda yang bisa menolong saya," lirih Hana dengan derai air mata yang memilukan.
"Tapi kali ini aku tidak bisa membantumu lagi, Hana." Fiona mengambil sejumlah uang dari dalam tasnya dan melempar lembaran uang itu ke wajah Hana. "Kau bisa gunakan uang itu untuk bertahan hidup selama beberapa minggu. Setelah itu, aku tidak mau tahu lagi. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan mau membantumu!"
Hana mengutip lembar demi lembar uang yang ada di lantai. Walau perlakuan Fiona sangat menyakitkan hati, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan yang itu, ia bisa bertahan hidup selama beberapa minggu.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini! Aku tidak mau sampai Alex melihatmu, Hana. Dasar budak tidak berguna!"
Hana menghapus air matanya. Setelah semua uang yang ada di lantai ia kutip, Hana kembali berdiri. Wanita itu melangkah pergi meninggalkan rumah Fiona. Sedangkan Fiona, ia segera masuk ke dalam dengan wajah jijik.
"Bikin masalah saja!" umpat Fiona sebelum membanting pintu.
"Saya pasti akan membalas perbuatan anda, Nona. Anda pikir anda siapa? Saya pastikan hidup anda akan lebih menderita daripada hidup saya!" umpat Hana di dalam hati.
Ketika Hana belum jauh dari rumah Fiona, sebuah mobil berhenti di depan rumah Fiona. Hana bersembunyi agar tidak terlihat. Seorang pria keluar dari mobil. Pria itu adalah Bram. Pria yang sudah lama menjalin hubungan dengan Fiona.
"Siapa dia? Kenapa dia masuk ke rumah Nona Fiona? Bahkan dia tidak mengetuk pintu lebih dulu," gumam Hana. Ia tersenyum ketika sudah menemukan titik terang untuk menghancurkan Fiona. "Sepertinya Nona Fiona memiliki hubungan spesial dengan pria itu. Baiklah. Kita lihat saja. Apa yang akan terjadi jika Tuan Alex sampai tahu kalau Nona Fiona selingkuh. Rumah ini milik Tuan Alex. Bahkan semua barang yang dimiliki Nona Fiona adalah milik Tuan Alex. Tuan Alex pasti akan mencampakkan Nona Fiona jika dia sampai tahu kalau Nona Fiona selingkuh dibelakangnya!"
...***...
"Sekali lagi ya. Aku tidak mau kau sakit," bujuk Alex dengan wajah penuh harap.
"Aku sudah kenyang, Kak," tolak Lara.
"Ayolah. Setelah ini sudah," bujuk Alex tanpa menyerah.
__ADS_1
Lara memandang makanan yang ada di sendok sebelum membuka mulutnya. "Apa seperti ini cara dia memperlakukan Fiona? Dia terlihat ahli membujuk wanita," gumam Lara di dalam hati.
"Oke, waktunya minum obat." Alex mengambil bulir obat dan memberikannya kepada Lara. Lara menerima obat tersebut. Namun, ia tidak langsung meminumnya. Ketika nanti Alex lengah, ia akan segera membuang bulir obat itu asal saja.
Tiba-tiba saja ponsel Alex berdering. Pria itu segera mengambil ponselnya dari dalam saku. Wajahnya tampak panik ketika nama Fiona terukir jelas di sana.
"Lara, Aku angkat telepon dulu ya."
Lara hanya mengangguk. Setelah Alex menjauh, Lara segera membuang buliran obat yang sempat ia genggam. Tanpa di beri tahu juga Lara sudah tahu kalau yang menghubungi Alex adalah Fiona.
Satu menit setelah Alex menjauh, pria itu segera bersiap. Ia memakai jas yang sempat di lepas dan berjalan mendekati Lara.
"Lara, aku harus ke kantor. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Apa kau tidak marah?"
Lara menggeleng dengan bibir tersenyum. "Kak Alex kerja yang giat ya. Biar Kak Alex bisa jadi orang sukses."
"Terima kasih, Sayang." Alex mengusap lembut pipi Lara. Ketika pria itu ingin mengecup Lara, dengan sigap Lara menghindar. Alex mematung. Ini pertama kalinya ia di tolak oleh seorang wanita. Namun, Alex tidak mau memaksa. Ia harus sabar agar berhasil meluluhkan hati Lara.
"Hubungi aku jika kau butuh bantuan."
__ADS_1
"Kak Alex hati-hati ya," ucap Lara. Alex mengangguk sebelum melangkah pergi. Lara menatap punggung Alex dengan tatapan penuh dendam.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menangis sedih di akhir cerita ini," gumam Lara di dalam hati.