
Lara melangkah mundur ketika seseorang menggedor-gedor pintu tersebut. Ia semakin panik. Lara bersandar di dinding yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Buliran air mata mengalir karena memang saat itu Lara sangat-sangat takut. Bukan hanya gedoran saja yang ia dengar. Lara juga mendengar suara tembakan yang begitu mengerikan hingga membuat perasaan Lara semakin tidak karuan.
“Kak Bi.” Lara berlari ke kamar mandi ketika melihat handle pintu itu bergerak-gerak. Lara takut jika pria jahat itu berhasil masuk dan melukainya. Ketika tiba di dalam kamar mandi, Lara terlihat bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya orang yang bisa ia harapkan tidak ada di sana.
“Bagaimana ini?”
Lara ingat dengan senjata api yang tadi sempat di berikan Fabio. Wanita itu mengeluarkan senjata apinya. Ia memegang senjata itu sambil membayangkan bagaimana cara Walter menggunakan senjata tersebut. Rada canggung memang ketika memegang benda berbahaya yang seumur hidupnya Lara belum pernah memegangnya.
“Aku hanya perlu menekan ini maka pelurunya akan keluar,” ucap Lara penuh keyakinan. Ia mengambil ponselnya dan mencari cara menggunakan senjata api di google. Sungguh kabar baik. Dengan cepat Lara menemukan tutorial menggunakan senjata api yang bentuknya tidak jauh beda dari senjata yang kini ia genggam. Lara kini memiliki keberanian untuk melawan musuh. Walau ia sendiri tidak tahu, endingnya akan menang atau kalah.
Suara yang begitu ribut membuat Lara kembali waspada. Ia yakin kalau pria jahat itu sudah berhasil masuk ke dalam kamar. Pintu kamar itu seperti sudah berhasil di bobol. Lara melangkah mundur dan menjaga jarak dengan pintu kamar mandi. Kunci kamar mandi itu tidak seberapa. Mungkin hanya sekali tendang saja sudah terbuka.
“Melawan atau mati,” ujar Lara dengan suara pelan. Tangannya gemetar hebat. Tubuhnya kini basah karena keringat. Lara menatap ke arah pintu tanpa berkedip. Namun, tiba-tiba saja suara itu hilang. Seperti tidak ada orang lagi di luar sana. Lara menurunkan senjatanya perlahan. Ia ingin memastikan kalau musuhnya memang sudah tidak ada di dalam kamar tersebut. Lara berjalan maju selangkah demi selangkah. Napasnya putus-putus. Ketika Lara sudah semakin dekat, tiba-tiba pintu tersebut terbuka lebar.
Secara spontan Lara mengangkat senjata api itu dan menekan pelatuknya dengan mata terpejam.
DUARRR
“Chubby,” lirih Fabio.
Lara mengintip dengan perasaan ragu. Namun, ketika melihat Fabio yang berdiri di sana napasnya kembali lega. Lara melempar senjata api itu ke lantai dan berlari memeluk Fabio. Wanita itu memeluk Fabio dengan sangat-sangat erat karena tidak mau ditinggal lagi. Kini hatinya sudah jauh lebih tenang jika dibandingkan detik-detik sebelumnya.
Fabio mengangkat tangannya dan memeluk Lara dengan erat. Pria itu membenamkan wajahnya yang sudah dipenuhi luka di dalam rambut Lara. Lengannya mengeluarkan darah segar hingga membuat gaun yang dikenakan Lara berubah menjadi warna merah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Fabio. Ia memeriksa tubuh Lara untuk memastikan kalau tidak ada luka di tubuh Lara.
“Kak, Lara baik-baik saja.” Lara melihat luka yang ada di lengan Fabio. “Kak Bi, apa tembakan tadi membuat tangan kakak terluka?” tanya Lara dengan wajah bersalah.
__ADS_1
Fabio menggeleng. “Setidaknya tembakanmu tepat sasaran. Itu berarti aku tidak perlu khawatir meninggalkanmu sendirian lagi.”
“Maafkan Lara, Kak. Jangan tinggalkan Lara lagi. Lara takut.” Lara kembali memeluk Fabio. Kini ia tidak tahu harus berlindung ke mana lagi. Sedangkan Fabio, hanya bisa tersenyum dan mengusap rambut Lara.
“Chubby,” gumamnya di dalam hati.
***
Langit telah gelap menandakan hari sudah malam. Suasana malam itu terlihat sangat cerah. Bintang-bintang bersinar terang di angkasa walau bulan masih terlihat malu-malu untuk muncul.
Di dalam mobil, Lara masih terlihat trauma dengan apa yang terjadi tadi. Ia berharap semua itu hanya sebuah mimpi buruk. Lara tidak sanggup jika harus dihadapkan dengan kejadian yang sama seperti tadi, Selain menegangkan juga sangat menguras emosi.
“Chubby, kau baik-baik saja?” tanya Fabio. Pria itu sesekali memandang wajah Lara sebelum kembali fokus dengan laju kemudinya.
“Kak Bi, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Lara penuh harap. Ia juga ingin tahu, kemana Fabio pergi dan kenapa pria itu bisa muncul di kamar hotel dengan waktu yang begitu singkat.
“Kak Bi …. jangan bicara seperti itu. Lara jadi takut,” lirih Lara.
“Baiklah. Tapi, kau juga tidak boleh memasang wajah sedih seperti itu. Chubby, apapun yang akan aku lakukan semua itu demi kebaikanmu. Keselamatanmu. Kau harus percaya, kalau aku tidak akan pernah membiarkanmu sampai terluka dan menderita!”
“Terima kasih, Kak. Kak Bi sosok kakak yang sempurna,” ucap Lara dengan senyuman kecil. Fabio hanya diam dan kembali fokus dengan laju mobilnya.
“Tidak tahu kenapa. Ketika Lara bilang kalau aku ini adalah sosok kakak yang sempurna, Tiba-tiba ada rasa tidak terima di dalam hatiku. Sebenarnya aku ini kenapa?” gumam Fabio di dalam hati.
Lara menghela napas panjang. Tiba-tiba ia kembali ingat dengan Walter. “Kak, dimana Walter? Apa dia baik-baik saja?”
“Ada misi penting yang harus ia selesaikan malam ini juga!” jawab Fabio sebelum menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Alex mengotak-ngatik layar ponselnya dengan wajah bosan. Tadi siang ketika mobil yang ditumpangi Lara sudah menjauh, anak buah Fabio melepas cengkraman mereka. Mereka sama sekali tidak peduli dengan nasip Alex. Setelah berhasil membuat mobil Alex rusak, mereka pergi. Alex harus pulang dengan taksi.
Kini pria itu kembali membayangkan kemesraan yang terjadi antara Lara dan Fabio. Hatinya cemburu. Ini bukan hanya sekedar perasaan serakah karena Lara sudah cantik. Tetapi, rasa cinta. Alex mulai merasakan cinta yang rasa itu sendiri tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Alex tidak bisa melihat wanita yang ia cintai bersama dengan pria lain. Apa lagi sampai tersenyum bahagia bersama pria lain. Ia ingin hanya dirinya yang bisa membahagiakan Lara.
“Ketika dengan Fiona dulu, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Apa hubunganku dengan Fiona hanya nafsu semata? Apa benar tidak ada cinta di antara kami? Tetapi, kenapa saat itu aku sangat takut kehilangan Fiona?” Alex meletakkan ponselnya di meja dan memandang ke jendela. “Ketika aku ada di dekat Lara, belum pernah aku merasakan rasa bahagia yang seperti ini. Rasa ini seperti sesuatu yang sangat asing. Aku cemburu. Sangat cemburu melihat Lara bersama pria itu. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Sepertinya tidak ada harapan lagi untuk kami bersama.”
Alex mengusap wajahnya dengan tangan. Ia bersandar dengan wajah yang frustasi. “Aku sudah membuat Fiona dan Hana tewas karena takut mereka menghalangi keinginanku untuk bersatu bersama Lara. Ternyata aku salah. Justru lawanku yang sesungguhnya adalah Fabio. Bukan Fiona atau Hana. Aku sama saja dengan pria mafia itu. Aku ini seorang pembunuh. Apa aku mundur saja?”
Alex menggeleng pelan. “Tidak. Aku harus bisa mendapatkan hati Lara. Aku sangat mencintainya. Ini benar-benar cinta. Ya. Aku sangat mencintainya. Aku harus buktikan kepada Lara kalau aku benar-benar sudah berubah dan ingin menjadi suaminya lagi,” gumam Alex penuh semangat.
Ponsel Alex berdering. Alex segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Hallo, siapa ini?” tanya Alex karena nomor yang menghubunginya adalah nomor baru.
“Aku Mark. Alex, seorang pria akan menjemputmu. Kau ikut saja. Kita harus bertemu.”
Panggilan terputus.
“Hallo, Mark. Tapi, aku tidak bisa. Hallo!” Alex mengumpat kesal ketika tahu panggilan telepon tersebut sudah berakhir. Ia menghela napas kasar sebelum beranjak dari sana.
“Apa lagi sekarang? Apa yang ingin dia bicarakan? Kenapa hidupnya selalu merepotkan!” Alex mengambil jaket cokelat yang terletak di sandaran sofa.
Tok tok
“Cepat sekali,” gumam Alex. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melangkah ke arah pintu. Alex membuka pintu tersebut dengan lebar tanpa mau mengintip siapa yang datang.
Tiba-tiba saja sebuah balok kayu mendarat di kepala Alex. Pria itu terjatuh di lantai tanpa sempat melihat wajah orang yang baru saja memukul kepalanya.
__ADS_1