Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 11. Terpeleset


__ADS_3

Malam harinya. Lara duduk di sofa sambil menunggu Alex pulang kerja. Ia sudah tidak sabar melihat ekspresi Alex ketika melihat penampilannya malam ini. Lara memakai gaun baru yang ia beli di mall tadi siang. Gaun itu terlihat cantik dan pas di tubuh Lara. 


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau Alex akan pulang.


"Kenapa Kak Alex tidak pulang-pulang ya. Ini kan sudah malam," gumam Lara di dalam hati. 


Sejak kejadian tadi sore, Lara tidak ada keluar kamar lagi. Ia juga tidak mau makan malam sebelum Alex pulang. Ia ingin makan malam bersama dengan suaminya. Tuan dan Ny. Moritz sudah pergi makan malam di luar sedangkan Greta belum pulang sejak pergi tadi sore. Lara tidak mau makan malam sendirian di meja makan.


"Aku tunggu Kak Alex di sana saja."


Mata Lara mulai ngantuk. Berulang kali ia menguap saat menunggu Alex pulang. Wanita itu berbaring di lantai beralaskan karpet bulu dan mencari posisi nyamannya. Hingga tidak lama kemudian Lara tertidur. Kini bukan Lara yang menonton televisi tetapi televisi yang menonton Lara.


***


Saat tidur Lara sedang lelap-lelapnya, Alex muncul di sana. Pria itu mengeryitkan dahi melihat Lara tidur di karpet yang ada di dekat tempat tidur.


"Ternyata dia wanita yang patuh. Aku bilang jangan tidur di tempat tidur ia tidak berani tidur di sana," gumam Alex di dalam hati. Ia mematikan televisi sebelum melepas jas dan dasi yang ia gunakan. 


Lara tersentak bangun dan segera duduk. Ia memandang Alex dan mulai panik karena tidak tahu sejak kapan Alex berdiri di sana.


"Kak Alex sudah pulang?"


Alex memandang wajah Lara sekilas sebelum menjawab. "Ya. Apa tadi kau jadi belanja?"

__ADS_1


"Ya, kak. Lara membeli beberapa baju dan rok," jawab Lara penuh semangat. "Apa kakak mau lihat?"


"Tidak!" jawab Alex singkat. Hal itu membuat wajah Lara berubah sedih.


Lara melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. "Kenapa Kak Alex pulangnya malam sekali?"


"Apa kau lupa? Malam ini aku harus datang ke perjamuan makan malam yang di adakan Tuan Hery!" ketus Alex.


Lara diam sejenak. Tadinya ia pikir Alex akan pulang dulu ke rumah dan mengganti pakaiannya sebelum pergi ke perjamuan itu. Ternyata suaminya pergi langsung ke perjamuan tanpa pulang dulu ke rumah.


"Kak Alex mau mandi?" tanya Lara ketika Alex melepas semua pakaian yang ia kenakan. Pria itu tidak peduli kalau ada Lara di sana. Kini hanya celana boxer saja yang menempel di tubuh Alex. Pria itu ingin berendam di kamar mandi untuk melepas rasa lelahnya karena seharian bekerja.


"Hmmm," gumamnya malas.


Alex menghela napas kasar. Ia mengambil ponselnya dan mencarger ponsel itu di atas nakas. Setelahnya ia berjalan ke kamar mandi. Ia tidak mau sampai Lara salah memasukkan aroma terapi.


Di dalam kamar mandi, Lara melamun memikirkan hidupnya yang sekarang. Senyum yang ia miliki terlihat di paksakan. Semua yang ia lakukan harus ia pikir-pikir lebih dulu. Lara sedih hidup seperti ini. Tadinya ia pikir menikah akan membuat hidupnya lebih bahagia. Ternyata menikah membuat hidupnya semakin menderita.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Alex. 


Karena terlalu lama melamun, Lara sampai tidak sadar kalau air di bak mandi sudah tumpah-ruah. Wanita itu panik dan segera mematikan kran air. Ia berdiri untuk meminta maaf. Sayangnya, lantai yang licin membuat Lara terpeleset. Wanita itu berhambur ke arah Alex.


Alex melebarkan kedua matanya ketika tubuh besar Lara semakin dekat dengannya. Hingga akhirnya, mereka berdua sama-sama terjatuh di lantai yang basah. Alex ada di bawah tubuh Lara. Untuk sejenak suasana di kamar mandi berubah hening.

__ADS_1


Lara memandang wajah Alex dari jarak yang begitu dekat. Ini pertama kalinya ia bisa melihat wajah Alex sejelas ini. Rasa cinta di dalam hatinya semakin bertambah. Lara semakin tergila-gila dengan suaminya yang super cuek itu.


"Kak Alex. Wajahnya tampan sekali. Walau belum mandi Kak Alex masih tetap wangi. Apa benar dia suamiku? Pria tampan ini suamiku?" gumam Lara di dalam hati dengan wajah berseri.


Berbeda dengan apa yang dipikirkan Alex. Alex justru terlihat sesak napas karena tertind*ih tubuh Lara yang besar. Pria itu berusaha bergerak dan mendorong tubuh Lara. Tetapi, ia kesulitan karena kedua kakinya terkunci di kaki Lara dan tangannya juga tertimpa lengan Lara yang gemuk.


"Kau ingin membunuh suamimu, Lara!" ujar Alex dengan suara kesakitan.


Lara tersadar. Ia segera menyingkir dari tubuh Alex. Wanita itu duduk di lantai dan memalingkan wajahnya. Ia sangat malu karena telah melakukan hal itu kepada Alex. "Maafkan Lara, Kak."


Alex menghela napas kasar. Ia sudah kehabisan kata-kata. Pria itu memandang bak mandi yang ada di depannya sebelum berdiri. "Pergi dari sini! Aku mau mandi!"


Lara mengangguk. Ia berdiri dan pergi dengan kepala menunduk. Alex memandang tubuh Lara dengan saksama. 


"Dia memiliki wajah yang cantik sebenarnya. Kulitnya putih dan bersih. Hanya tubuhnya saja yang besar. Memakai pakaian branded seperti itu membuatnya tidak terlihat seperti wanita kampung," gumam Alex di dalam hati. "Tapi, jika dibandingkan dengan Fiona. Ia tidak ada apa-apanya. Tetap Fiona wanita terbaik yang pernah aku temukan." Alex masuk ke dalam bak mandi untuk berendam. Pria itu tidak mau memikirkan apapun tentang Lara karena Lara memang bukan tipe wanita idamannya.


Lara mengganti pakaiannya yang basah dengan baju tidur. Ia memegang perutnya yang terasa sangat lapar. Wajahnya frustasi ketika melihat cermin yang ada di depan matanya. Tubuhnya yang besar seolah sedang mengejek wajahnya yang kini terlihat sedih.


"Apa salah wanita gemuk jatuh cinta kepada pria yang tampan seperti Kak Alex? Apapun yang aku lakukan tidak pernah mendapat pujian dari kak Alex. Padahal ini baju terbaik yang aku beli tadi siang. Tapi, Kak Alex sama sekali tidak memandangku. Ia bahkan terlihat semakin jijik dan risih bila dekat-dekat denganku," lirih Lara. Ia segera mengganti pakaiannya sebelum memutuskan tidur. Walau dalam keadaan lapar, tetapi Lara tetap memutuskan untuk tidak makan, malam ini.


Saat sedang mengganti pakaiannya. Lara mendengar suara ponsel Alex berdering. Wanita itu segera mengganti pakaiannya dan berjalan ke arah nakas. Ia mengeryitkan dahi melihat nama Fiona ad di layar ponselnya Alex.


"Fiona? Siapa Fiona? Kenapa malam-malam begini menelpon Kak Alex." Lara mengambil ponsel Alex. Ingin sekali ia mengangkat panggilan masuk itu. Sayangnya belum sempat di angkat, panggilan teleponnya sudah mati. Lara meletakkan ponsel itu kembali ke nakas. 

__ADS_1


"Mungkin Fiona ini rekan kerja Kak Alex. Aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh," gumam Lara lagi. Ia kembali ke karpet untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.


__ADS_2