
Alex melangkah masuk ke dalam rumah Fiona. Pria itu memiliki kunci cadangan jadi kapan saja ia ingin masuk, ia bisa melakukannya. Bahkan baju Alex lebih banyak di rumah itu daripada di rumah utama keluarga Moritz.
Fiona turun dan berdiri di ujung tangga. Wanita itu mengukir senyum melihat Alex sudah tiba di rumahnya. Sambutan Fiona terlihat begitu hangat. Seperti seseorang yang sudah lama tidak bertemu kekasihnya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Seharian ini kau ke mana saja? Di hubungi juga tidak bisa," rengek Fiona. Wanita seksi itu segera mengalungkan tangannya di leher Alex. Ia ingin bermanja-manja dengan kekasihnya.
"Aku sibuk!" Alex melepas tangan Fiona. Pria itu berjalan ke arah sofa sambil melonggarkan dasinya. Biasanya dia akan segera mencium Fiona dan membawa wanita itu ke kamar. Tapi kali ini tidak. Alex terlihat dingin hingga membuat Fiona semakin was-was.
"Apa diperusahaan ada masalah besar?" tanya Fiona.
"Tidak!"
"Lalu, kenapa wajahmu kusut seperti itu?" Fiona duduk di samping Alex. Wanita itu tidak menyerah. Ia berjuang keras agar Alex kembali masuk ke dalam rayuannya.
"Ada yang ingin aku katakan, Fiona." Alex menatap wajah Fiona dengan tatapan yang begitu serius hingga akhirnya membuat Fiona menjadi gelisah.
"Ada apa? Kau terlihat sangat lelah. Mau aku pijat?" Fiona segera berdiri dan berusaha merayu Alex. Namun, dengan cepat Alex menarik tangan Fiona hingga wanita itu kembali duduk di sofa.
"Aku ...." Alex masih terlihat ragu. Ia tidak tahu keputusan yang ia ambil sudah benar atau belum.
"Ada apa?" Fiona semakin bingung dan takut ketika Alex menggantung ucapannya.
"Aku ingin mengakhiri semua ini!"
Deg.
Fiona mematung. Bahkan mau bernapas saja terasa sulit. Momen seperti ini adalah momen yang paling ia takuti selama ini.
__ADS_1
"Maksudmu, karena Lara sudah kembali kau ingin mempercepat proses perceraiannya agar kita bisa segera menikah?" Fiona memegang tangan Alex. "Sayang, aku sudah siap. Aku mau menikah denganmu. Aku akan menjadi istri yang patuh dan membanggakan suami. Aku yakin, setelah menikah hidup kita akan semakin bahagia."
"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Lara. Aku ingin ... kita putus!" ucap Alex.
Fiona tertawa menyedihkan. "Putus kau bilang?"
Alex beranjak dari sofa. Memasukkan tangannya ke dalam saku. "Ya. Sepertinya pilihan papa tidak pernah salah. Lara wanita baik dan cantik. Aku sudah salah menilainya selama ini. Lara memberiku kesempatan terakhir. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu," ucap Alex tanpa memandang.
"TIDAK!" Fiona berdiri. "Aku tidak mau kita putus!" tolak Fiona. Ia merangkul lengan Alex. "Aku sudah terlanjur cinta mati sama kamu Alex. Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku. Kenapa kau tega melakukan semua ini kepadaku?"
Alex terdiam. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan tangan. Alex juga tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Memang hubungan kasih di antara mereka sudah cukup lama terjalin. Bisa di bilang, Fiona satu-satunya wanita yang tahu bagaimana sulitnya ia menjalani hidup. Tetapi, Alex juga harus memilih. Ia tidak mau kehilangan Lara.
"Beri aku kesempatan. Aku bisa berubah menjadi lebih cantik dari wanita itu. Aku bisa menurunkan berat badanku juga. Tapi, jangan tinggalkan aku. Aku mohon," lirih Fiona masih dengan wajah tidak terima.
"Fiona, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Soal rumah ini, aku serahkan kepadamu. Aku akan mengurus surat-suratnya agar jatuh ke tanganmu. Anggap saja ini adalah bentuk permintaan maaf ku."
Bram sudah memutuskan hubungan mereka beberapa waktu yang lalu. Hal yang paling menyakitkan bagi Fiona, dia ditinggalkan dalam keadaan hamil. Fiona hamil anak Bram. Namun pria itu tidak mau mengakuinya. Sepertinya Bram juga sudah bertemu dengan wanita pujaannya hingga ia lebih memilih untuk meninggalkan Fiona.
"Aku hamil!" ujar Fiona di tengah-tengah keheningan.
Alex memiringkan kepalanya dan menatap Fiona dengan wajah tidak percaya. "Hamil?"
Fiona menghapus air mata yang menetes. "Ya. Aku hamil. Dan ini anakmu, Alex!"
Alex terlihat frustasi. Pria itu tidak menyangka kalau akan sesulit ini untuk lepas dari Fiona. Padahal tadinya ia pikir semua akan berjalan lancar.
"Kenapa kau bisa hamil, Fiona? Kau meminta uang untuk memeriksakan dirimu ke dokter agar kau tidak hamil. Tapi sekarang, kenapa sampai seperti ini?"
__ADS_1
"Karena aku tahu pada akhirnya kau akan meninggalkanku," jawab Fiona dengan air mata yang mulai deras. "Aku tidak mau anak ini tidak memiliki ayah. Aku mau kau ceraikan Lara dan menikah denganku, Alex!"
"Tidak! Aku tidak bisa. Aku tidak mau menikah denganmu Fiona. Aku ingin kembali dengan Lara!"
"Lalu bagaimana dengan anak ini?" teriak Fiona dengan suara serak.
Alex memejamkan mata dengan wajah kusut. "Gugurkan anak ini. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan mau menikahimu. Jika kau tetap mempertahankan anak ini, itu terserah kau saja. Aku mungkin bisa membiayai anak ini sampai dia lahir. Tapi, jangan pernah berharap untuk aku mengakui anak ini adalah anakku!"
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alex. Fiona merasa sakit hati mendengar jawaban Alex. Walau memang sebenarnya anak itu bukan anak Alex. Tetapi tetap saja jawaban Alex terdengar sangat menyakitkan.
"Kau pria brengsek!" umpat Fiona.
"Maafkan aku, Fiona. Tapi, aku harus pergi. Kau bisa memilih. Mau menggugurkan anak ini atau mempertahankannya. Tetapi, apapun keputusannya. Aku tetap tidak bisa bersama denganmu lagi." Alex melangkah pergi meninggalkan Fiona.
"Alex, jangan pergi!" teriak Fiona. Tetapi Alex tidak peduli. Pria itu pergi begitu saja tanpa peduli dengan teriakan dan Isak tangis Fiona. "Alex! Kembali ...."
Fiona terjatuh di lantai. Wanita itu menunduk meratapi nasip hidupnya yang begitu menyedihkan. Ia kini telah kehilangan pria yang pernah memuja dan memperlakukannya seperti seorang ratu. Bahkan kehilangan pria yang menjadi ayah biologis dari anak yang ia kandung.
"Lara! Ini semua gara-gara wanita itu. Aku akan memberinya pelajaran. Aku akan membuatnya menderita. Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaanku!" umpat Fiona penuh dendam.
Dari balik jendela, Hana tertawa bahagia. Ia merasa puas melihat penderitaan yang kini dirasakan Fiona. Padahal belum lama ia mengutuk mantan majikannya itu.
"Ini belum ada apa-apanya. Dia masih kaya. Aku akan kirimkan video saat Nona Fiona bertengkar dengan kekasihnya yang bernama Bram itu ke Tuan Alex. Aku yakin, setelah Tuan Alex melihat rekaman ini. Dia pasti akan mengambil semua harta yang sudah ia berikan kepada Nona Fiona. Tidak jadi membuat surat rumah ini atas nama Nona Fiona," ucap Hana. Ia segera mengirim video tersebut ke Alex. Wajahnya kini terlihat sangat bersemangat. "Setelah ini, Nona Fiona akan menjadi gembel! Hahahaha!" Hana terlihat puas. Ia segera pergi sebelum Fiona menyadari keberadaannya.
_Terkadang budak yang pernah kita anggap lemah bisa berubah menjadi monster yang mematikan. Bersikaplah sewajarnya. Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar jahat_
__ADS_1
Vote, Like, Komen Jika mau sering-sering Crazy Up😘