Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 21. Ketahuan


__ADS_3

Lara sudah tiba di kantor Alex. Karena dia ke kantor dengan mobil dan supir pribadi milik keluarga Moritz, jadi kedatangan Lara di sambut baik sama sekuriti yang ada di perusahaan. Lara merasa bahagia karena di sana banyak sekali orang yang menghargainya sebagai istri bos.


Walau memang ada beberapa karyawan wanita yang mencibir Lara karena berat tubuhnya. Tetapi, semua itu tidak menjadi masalah bagi Lara. Karena kini hatinya sedang bahagia. Ia sudah tidak sabar melihat ekspresi Alex ketika dibawakan makanan. Ia berharap Alex bisa mulai mencintainya setelah memakan makanan tersebut.


"Nona, Tuan Alex ada di ruangannya. Anda bisa langsung datang ke lantai atas," ucap seorang wanita berpakaian rapi.


"Terima kasih," jawab Lara. "Tadinya aku pikir akan melewati banyak drama ketika ingin bertemu dengan Kak Alex. Ternyata semudah ini bertemu dengan Kak Alex. Semoga saja Kak Alex mau menghargai usahaku kali ini," gumam Lara di dalam hati.


Lara di bawa menuju ke lantai atas tempat ruangan kerja Alex berada. Debaran jantung Lara semakin tidak karuan ketika ia semakin dekat dengan Alex. Walau baru saja tadi malam Alex menghinanya habis-habisan. Tetapi Lara tidak mau menyerah. Ia ingin memperjuangkan suaminya agar tidak sampai jatuh ke tangan Fiona.


"Di sana ruangan Tuan Alex, Nona," ucap wanita yang mengantarkan Lara. Lara memandang wanita itu sejenak sebelum mengangguk. Ia melangkah sendirian menuju ke ruang kerja Alex. Sesekali Lara memandang keadaan sekitar sambil mengatur embusan napasnya agar tetap stabil. Lara memeriksa bekal yang ia bawa dan mengukir senyuman terbaiknya.


"Apa yang akan aku katakan setelah bertemu Kak Alex nanti?" gumam Lara di dalam hati. Ia memegang handle pintu dan mendorongnya secara perlahan.


Lara sengaja tidak mengetuk pintu lebih dulu karena ia ingin membuat kejutan untuk Alex. Setibanya di dalam ruangan Alex, Lara mengeryitkan dahi. Ruangan itu kosong. Lara sempat kecewa ketika tidak menemukan Alex ada di sana. Bahkan berpikir kalau wanita tadi hanya mengerjainya saja.


"Di mana Kak Alex?" gumam Lara.

__ADS_1


"Alex, pelan! Jangan seperti itu!" ucap suara wanita dari sudut ruangan.


Lara mematung. Ia kenal betul siapa pemilik suara itu. Lara berusaha menguatkan dirinya dan melanjutkan langkahnya untuk melihat apa yang terjadi. Semakin dekat, suara ******* itu semakin jelas terdengar. Tubuh Lara semakin gemetar. Hingga akhirnya, ia berhenti di depan pintu masuk sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Alex.


Lara benar-benar syok ketika melihat Alex dan Fiona sedang bercinta di sana. Mereka terlihat saling menikmati satu sama lain. Tanpa busana karena pakaian mereka telah berserak di lantai. Keduanya sama-sama tidak sadar kalau Lara telah ada di ruangan tersebut.


"Kak Alex ... Fiona?" lirih Lara dengan suara serak. Tiba-tiba saja kedua matanya terasa perih dan mulai memerah.


Hati Lara hancur berkeping-keping. Ia bahkan tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Lara segera berpaling dan berlari pergi meninggalkan ruangan itu. Kotak nasi yang tadi sudah ia persiapkan ia peluk erat-erat. Lara menangis sambil berlari menuju ke lift.


"Kak Alex. Ya, itu Kak Alex. Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu," lirih Lara dengan hati yang tersayat-sayat.


"Kak Alex ... kenapa Kak Alex tega melakukan semua ini?"


Lara memeluk kotak nasinya semakin erat. Bayang-bayang saat Alex dan Fiona bermesraan lagi-lagi mengiang di dalam ingatannya. Rasa cinta yang selama ini tumbuh di dalam hatinya mulai luntur. Rasa hormat terhadap Alex telah hilang. Lara sakit hati. Sangat-sangat sakit hati.


"Sepertinya Kak Alex tidak akan pernah bisa mencintaiku. Sepertinya hanya akan ada nama Fiona di hatinya. Hubungan mereka sudah sejauh itu. Bagaimana kalau Fiona Hamil?" Lara kembali menangis. "Ternyata sesakit ini melihat orang yang kita cintai bermesraan dengan orang lain. Dari begitu banyak orang di dunia ini, kenapa harus aku yang merasakan rasa sakit seperti ini?" umpat Lara. Ia menghapus air matanya yang menetes dengan deras. Dalam sekejap saja kedua matanya membengkak. Ini pertama kalinya ia menangis hingga separah ini setelah kedua orang tuanya meninggal.

__ADS_1


"Uhuk uhukk!"


Lara terdiam ketika mendengar seseorang batuk. Wanita itu segera menghapus air matanya dan bersikap sewajarnya. Ia tidak mau orang lain melihatnya seperti ini. Lara kembali menenangkan hatinya agar tidak menjadi bahan tertawaan orang lain.


Lara memandang ke samping kanan. Di sana ada seorang pria duduk dengan wajah dan tubuh dipenuhi luka. Pria itu terbatuk-batuk dengan kepala menunduk. Darah segar menetes dari dahinya. Pria itu terlihat sangat menyedihkan. Sama seperti yang kini Lara alami. Bedanya hati Lara yang sakit. Sedangkan pria itu tubuh dan wajahnya yang terasa sakit.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa wajahnya dipenuhi luka seperti itu? Apa dia baru saja bertengkar dengan seseorang?" gumam Lara di dalam hati. Ia memandang ke kiri dan ke depan. Tidak ada orang di sana. Bisa di bilang 20 meter dari tempat Lara duduk sunyi. Karena merasa kasihan, Lara memutuskan untuk menyapa pria itu lebih dulu.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?"


Pria itu mengangkat kepalanya. Ia mengeryitkan dahi melihat Lara. Ia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Lara.


"Tuan, anda mau minum?" Lara mengambil botol minum yang ada di dalam tas bekal. "Ini saya punya minum. Tapi, jika anda mau makan makanan yang ada di dalamnya juga gak masalah," tawar Lara.


Lara memberikan botol minum tersebut sebelum memberikan makanan spesial buatannya kepada pria asing tersebut. Tanpa mau menjawab pertanyaan Lara, pria itu menerima botol minum Lara dan meneguk isinya. Tidak lupa ia membersihkan wajahnya dengan sisa air minum yang ada di dalam botol tersebut. Bekal yang diberikan Lara ia letakkan di sampingnya.


Lara tersenyum. "Sepertinya hari ini masakanku tidak sia-sia. Makanan ini jatuh di tangan orang yang tepat. Sepertinya dia gelandangan yang habis bertengkar dan sangat kelaparan. Sebaiknya aku tinggal saja agar dia tidak malu menghabiskan makanan ini," gumam Lara.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan pria itu, Lara pergi meninggalkannya sendiri. Lara melangkah menuju ke perusahaan untuk menemui supir yang membawanya pergi. Lara ingin segera tiba di rumah dan melaporkan semua perbuatan Alex kepada Tuan Moritz.


__ADS_2