Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 62. Ajakan Fabio


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke mansion, wajah Lara terlihat murung. Donat, kentang goreng dan makanan lezat lainnya yang hampir saja ia beli tadi kini hilang begitu saja. Lara gagal menikmati makanan itu setelah enam bulan menahan selera. Setelah tiba di mansion, ia hanya akan melihat salad, daging dan beberapa menu sehat lainnya. Itu sangat membosankan hingga membuat nafsu makan Lara hilang. 


“Ini semua karena Kak Alex! Coba saja Kak Alex tidak muncul dan menculikku seperti tadi. Pasti sekarang aku lagi duduk manis makan donat,” gumam Lara di dalam hati. “Dia memang pria tidak berguna. Bisanya Cuma merusak kebahagiaan orang lain saja,” umpat Lara di dalam hati.


Fabio melirik Lara dengan wajah bingung. “Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Apa dia sedang memikirkan pria tadi? Bagaimana caranya agar aku bisa tahu apa yang dia pikirkan?” gumam Alex di dalam hati juga. Semua  hanya berani bicara di dalam hati. Mau bicara langsung yang satu gengsi yang satu lagi takut.


“Bos, kita pulang?” tanya Walter. Ia tidak mau sampai salah jalan lagi seperti tadi. 


“Kita ke mall,” jawab Fabio.


Lara segera memiringkan tubuhnya dan memandang Fabio dengan tatapan tidak percaya. “Ke mall?” Wajah Lara berseri.


“Ternyata dia murung karena tidak jadi berbelanja? Baiklah. Sekarang aku akan membuatnya kembali senang,” batin Fabio. “Ya. Apa kau suka?”


Lara mengangguk cepat. “Kak Bi juga mau beli sesuatu?”


Fabio diam sejenak. Ia kembali ingat dengan jawaban ketika tadi Walter bertanya. “Aku mau beli kemeja,” jawab Fabio.


“Baiklah. Nanti Lara bantuin pilih ya?” tanya Lara penuh semangat. Fabio hanya mengangguk dengan senyuman. Walter juga tersenyum membayangkan apa yang terjadi di belakang sana.


“Indahnya jatuh cinta,” sindirnya pelan. Ketika Fabio melempar tatapan tajam melalui cermin, Walter bersikap pura-pura tidak tahu.


Butuh waktu beberapa jam sebelum mobil yang ditumpangi Lara tiba di parkiran sebuah mall mewah yang ada di luar kota. Lara tidak menyangka kalau Fabio akan membawanya ke mall itu. Selain lokasinya lumayan jauh. Lara juga menjadi kelaparan karena kelamaan di jalan. Apa lagi tadi di mansion ia tidak sempat sarapan. Hari juga sudah sore. Kini Lara sendiri tidak tahu harus berbelanja apa.


“Kak, kenapa mall nya jauh sekali?” protes Lara sedikit cemberut. Ia memegang perutnya yang mulai keroncongan.


Fabio melepas kaca matanya dan tersenyum. “Kau lapar, Chubby?”


Lara mengangguk. “Jika terlalu jauh kita akan pulang kemalaman.”


“Siapa bilang kita akan pulang?” jawab Fabio santai.


“Maksud Kak Bi apa?” 


“Chubby, malam ini kita akan jalan-jalan di kota ini. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini.”

__ADS_1


Lara memandang keluar sejenak sebelum memandang ke arah Fabio lagi. “Ayo kita turun.”


Fabio dan Lara turun bersamaan. Sedangkan Walter, pria itu sudah turun lebih dulu dan menghilang entah ke mana. Lara tidak tahu apa yang ingin dilakukan Walter hingga pria itu segera berlari seperti tadi.


“Kak, ke mana Walter?” 


“Walter?” Fabio memandang ke arah lift. “Mungkin dia mau ke toilet.”


“Ya udah, ayo kita masuk,” ajak Lara. Wanita itu menggandeng lengan Fabio tanpa permisi. Ia terlihat sangat menikmati momen kebersamaannya bersama Fabio. Memang seperti itu Lara memperlakukan siapapun yang sudah ia anggap orang  baik. Lara memperlakukan semua orang baik seperti saudaranya. Ia butuh sosok seperti itu ketika kedua orang tuanya sudah tiada di dunia ini. Biasanya Alfred yang selalu mendapat perlakuan manja seperti itu dari Lara. Namun, setelah Alfred jatuh cinta kepada istrinya yang sekarang, Lara mulai jaga jarak. Kini justru Fabio yang menjadi pengganti Alfred. Bedanya, Alfred murni menganggap Lara sosok adik yang sangat ia sayangi, sedangkan Fabio memandang Lara sebagai wanita yang sangat spesial.


“Kenapa jantungku sakit lagi? Sebenarnya sakit seperti apa ini? Kenapa datangnya ketika Lara ada di dekatku saja?” protes Fabio di dalam hati. 


Di dalam gedung mall, Walter berdiri di depan puluhan pria berseragam serba hitam dengan wajah yang serius. Pria itu terlihat memeriksa satu persatu bawahannya yang kini berbaris di depannya.


“Kalian hanya punya waktu lima menit. Pastikan semua orang yang ada di mall ini tidak mengenal Bos Fabio. Jika sampai ada yang menyapa atau memperlakukan Bos Fabio seperti biasanya, maka aku akan menghukum kalian. Tadi Bos Fabio sempat mengirim pesan. Ia tidak mau sampai Nona Lara tahu kalau mall ini milik Bos Fabio. Apa kalian mengerti?” 


“Mengerti, Bos.”


“Oke, cepat laksanakan!” 


Semua yang ada di depan Walter segera berpencar. Mereka ingin mengunjungi toko-toko yang ada di mall tersebut. Mereka ingin memberi tahu semua orang yang ada di mall agar bersikap biasa saja terhadap Fabio. Bahkan seolah-olah tidak kenal.


“Itu Walter. Apa dia tidak jadi ke toilet?” tunjuk Lara kepada Walter yang kini berjalan ke arahnya.


Fabio memandang ke kanan dan ke kiri. Semua sudah seperti yang ia harapkan. Tidak ada satu orangpun yang menunduk hormat ketika ia ada di sana. “Mungkin dia sudah selesai.”


Walter menunduk hormat di depan Fabio dan Lara. “Bos, anda ingin mengunjungi toko yang mana lebih dulu?”


Fabio memandang wajah Lara. “Kau ingin makan sesuatu?”


“Apa aku boleh membeli sesuatu yang aku suka, Kak Bi? Satu saja,” pinta Lara dengan wajah memohon.


“Sesuatu? Apa?” Fabio  mengeryit.


“Donat,” jawab Lara dengan suara pelan. Sedikit takut.

__ADS_1


“Hanya itu?” tanya Fabio kembali memastikan.


“Apa boleh tambah lagi?” tanya Lara dengan wajah manja.


“Tentu saja boleh. Hari ini kau boleh membeli apapun yang kau inginkan, Chubby. Entah itu makanan, minuman, atau belanjaan apapun. Aku akan membayarnya!”


Lara melebarkan kedua matanya karena terlalu gembira. “Kak Bi serius?” 


“Iya, Chubby?”


Lara mendekati Fabio dan mendaratkan kecupan di pipi pria itu tanpa sadar. Ia sangat-sangat senang karena kebebasan yang ia harapkan kini dapat ia rasakan. Walau mungkin semua hanya berlaku malam ini saja. 


Fabio dan Walter sama-sama mematung melihat apa yang baru saja dilakukan Lara. Wajah Fabio memerah karena malu. Sedangkan Walter memilih untuk menunduk dan menahan senyum. Jika saja wanita itu bukan Lara, mungkin detik ini wanita itu tidak akan bisa melanjutkan hidupnya. Bukan hanya sampai mencium pipi Fabio. Mendekati Fabio saja, jika Fabio tidak suka maka bisa fatal akibatnya.


Lara berlari kegirangan mencari toko yang menjual donat. Wanita itu sudah tidak sabar untuk melahap donat. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang baru saja ia lakukan terhadap Fabio. Baginya Fabio seperti sosok kakak yang sangat-sangat ia sayangi dan ia hargai.


“Bos, are you oke?” tanya Walter sedikit berbisik ketika Fabio hanya diam mematung tanpa mampu berjalan lagi. “Apa perlu saya panggilkan dokter Alfred?”


Fabio menatap Walter dengan tatapan menikam. “Pastikan kau tidak melihat apa yang baru saja terjadi! Jika kau sampai mengingatnya bahkan terus menerus memikirkannya, maka aku akan menghukummu Walter. Anggap yang  baru saja terjadi, tidak pernah terjadi! Apa kau paham?”


“Paham, Bos.” Walter menunduk ketika Fabio berlalu begitu saja. Setelah jaraknya dengan Fabio ada beberapa meter, pria itu kembali tersenyum. “Kenapa sekarang setiap kali Bos Fabio marah aku tidak takut lagi?”


“WALTER!” teriak Fabio ketika Walter tidak juga jalan. Hal itu membuat Walter segera berlari mengejar Fabio. 


“Ya, Bos!”


Hai reader, kali ini aku bawain novel temenku yang ada di Noveltoon juga pastinya. Sambil nunggu up Lara, kalian bisa baca novel ini ya.



Kehadiran seorang anak, adalah kebahagiaan bagi sepasang suami istri, dan hal itu pula-lah yang paling dinanti oleh Haura dan Theo. Tapi sayangnya setelah tiga tahun pernikahan mereka, tangisan bayi tak juga hadir di dalam rumah tangga keduanyanya.


Theo menyalahkan Haura karena wanita itu tidak bisa memberinya seorang anak. Hingga dia tega meninggalkan Haura, dan memilih menikahi wanita yang jauh lebih muda, yang ia anggap bisa memberinya keturunan.


Saat Haura terpuruk, dan ingin mengakhiri hidup dari atas jembatan pusat Kota Tadpole, sebuah tangan hangat seorang pria menyelamatkan dirinya dari ambang kematian.

__ADS_1


Setelah perceraian itu, Haura bangkit dan bersumpah akan menuntut balas, pada Theo suaminya. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai Marketing di salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Negara ini. Saat Haura tahu siapa bosnya—wanita dua puluh enam tahun itu sangat terkejut.


"Apakah kau lupa, siapa aku?" tanya lelaki itu dengan ekspresi dingin.


__ADS_2