Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 76. Jackal?


__ADS_3

~Terkadang aku berubah menjadi bodoh dan lemah ketika aku sedang jatuh cinta hanya untuk mengetahui, apa kau juga mencintaiku?~ Alex Moritz



Fabio segera turun dari mobil. Saat Fabio berdiri di sana, seluruh anak buah Fabio juga keluar. Bahkan karena terlalu luas dan besarnya mansion, sampai-sampai tidak ada yang tahu kalau Alex sudah berbuat kekacauan. Camera cctv berhasil ia rusak. Membunuh tanpa menyentuh. Hingga melangkah tanpa suara. Alex Moritz. Pria itu sangat handal. Baginya justru Fabio tidak ada apa-apanya.


"Lepaskan dia!" teriak Fabio. Pria itu menatap tajam wajah Alex. Walau baginya bertarung adalah hal yang biasa, tetapi kini ada nyawa yang harus ia lindungi.


"Tidak! Dia istriku!" ketus Alex cepat. "Dia Lara Alessandra! Istriku! Selama ini aku mencarinya. Aku merindukannya. Apa kau pikir aku bisa diam saja ketika tahu kalau wanita yang aku cintai tidur di rumah pria lain?"


"Kalian sudah bercerai. Lepaskan dia! Jika kau ingin bertarung, kau bisa lepaskan dia lebih dulu dan hadapi aku!" Fabio melirik anak buahnya. Ia ingin memastikan semua orang agar tidak berbuat ceroboh hingga nanti membuat Lara terluka.


Alex mengukir senyuman. "Hanya pria pengecut yang beraninya main keroyokan. Kau tidak pernah menghadapi aku secara langsung! Kau pikir selama ini anak buahmu saja cukup menghadapiku." Alex tertawa. "Aku mengalah! Bukan kalah!" sambung Alex lagi.


"Siapa kau sebenarnya?" Sorot mata Fabio semakin tajam.


"Jackal!"


Fabio melebarkan kedua matanya. "Jackal?"


...***...

__ADS_1


Mark datang menemui Alex. Pria itu tahu kalau hari ini Walter akan datang untuk menangkap Alex Moritz. Ia ingin memperingati Alex untuk segera kabur agar tidak tertangkap. Ketika tiba di hotel justru Mark dibuat kaget oleh Alex. Alex meletakkan sebuah belati di dalam laci yang ada di dekat tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mark.


Alex kaget bukan main melihat Mark ada di kamar tersebut. Namun, ekspresi wajahnya berubah tenang ketika tahu kalau Mark bukan musuh yang harus ia takuti.


"Kenapa kau masuk tanpa permisi?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Mark mendekati Alex. Pria itu menarik laci tersebut untuk melihat isi di dalamnya. Pria itu semakin kaget ketika melihat pistol, peluru, dan senjata tajam lainnya ada di dalam sana. Tersusun sangat rapi. "Ini milikmu? Kau bisa menggunakannya?"


Alex melangkah ke jendela. "Kenapa? Apa kau sama seperti pria itu? Memandangku sebagai pecundang yang tidak bisa apa-apa?"


Mark terlihat bahagia. Ia tidak menyangka kalau Alex adalah orang yang hebat. Berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan selama ini.


"Ya," jawab Alex cepat.


"Siapa kau sebenarnya?" Mark berdiri di samping Alex. Ia ingin tahu sebenarnya siapa yang menjadi rekan kerja samanya kali ini.


"Jackal!" jawab Alex.


Mark melebarkan kedua matanya. Seorang pembunuh yang terkenal kejam dan ahli strategi itu kini ada di depan matanya. Memang bagi orang seperti Mark, Jackal bukan hal yang menakutkan. Selama ia tidak membuat Jackal marah, maka semua akan baik-baik saja. Tetapi, identitas Jackal sangat rahasia. Tidak ada yang tahu dimana dan siapa dia sebenarnya. Gerakannya sangat halus yang membuat semua musuhnya tewas tanpa sebab.

__ADS_1


"Kau bercanda!" sambung Mark lagi. "Kenapa selama ini kau diam saja. Kau bertingkah seperti orang bodoh?"


"Aku hanya ingin tahu, sebenarnya siapa orang yang sudah berani mengajakku kerja sama." Alex memutar tubuhnya dan segera menodongkan senjata apinya di dahi Mark.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Mark kaget. "Sial, ternyata pecundang ini bukan orang sembarangan. Aku harus hati-hati mulai dari sekarang. Pantas saja ia terlihat biasa saja ketika aku membunuh mantan pacarnya dan pembantu sialan itu. Ternyata dia sendiri sudah terbiasa membunuh orang lain," gumam Mark di dalam hati.


"Bukankah hal seperti ini yang nantinya akan aku dapatkan? Kau menjebakku. Kau tidak peduli apa yang akan terjadi padaku ketika nanti Fabio berhasil menangkapku, bukan?" ucap Alex dengan sorot mata yang tajam. Berbeda dengan apa yang selama ini di lihat Mark.


"Maafkan aku!" Mark tidak bisa membela diri. Ia yakin kalau Alex sudah tahu semua rencana yang kini sudah ia susun rapi di dalam ingatannya. Mark hanya bisa pasrah dan mengakui apa yang pernah ia ucapkan.


"Aku tidak memiliki urusan apapun denganmu. Aku tahu kalau anak buah Fabio selalu ada dimanapun Lara pergi selama ini. Aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Lara. Aku ingin membawanya pergi meninggalkan kota ini." Alex menurunkan senjata apinya. "Pikirkan caranya!"


"Itu sangat mudah. Sebentar lagi Walter akan datang untuk menangkapmu. Kau hanya perlu berakting seperti orang bodoh saja nanti. Ketika kau tiba di mansion, kau bisa mencari cara agar bisa bertemu dengan Lara. Besok pagi aku juga akan datang untuk membantumu kabur dari sana. Pastikan Lara sudah ada di tanganmu sebelum aku tiba," jawab Mark.


"Aku tidak mau kita muncul bersamaan. Aku ingin kau membawa Greta pergi ke tempat yang sangat jauh. Di sana aku akan mempertemukan Greta dan Lara. Aku akan membuat Lara tetap nyaman selama berada di dekatku!" Alex melangkah ke pintu menuju ke ruang tengah. "Satu lagi, orang yang ada di dekatmu bukan orang yang bisa dipercaya. Jadi, bertingkahlah seolah kau tidak tahu tantang identitas asliku."


"Baiklah jika seperti itu yang kau inginkan."


Mark masih tidak menyangka kalau pria yang berdiri di depannya adalah seorang pembunuh. "Jangan pernah lupa kalau kita memiliki musuh yang sama. Selama ini kau bertindak sendirian. Jadikan aku rekan untuk membalaskan rasa cemburu itu!" ujar Mark agar Alex mau bekerja sama dengannya untuk mengalahkan Fabio.


Alex hanya mengangguk sebelum melanjutkan langkah kakinya. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan dendam yang ada di antara Fabio dan Mark. Yang ada dipikiran Alex hanya satu. Bagaimana caranya agar ia bisa membawa Lara kembali ke sisinya.

__ADS_1


Ini rekomendasi Novel temen author ya. Yuk di baca kalau sinopsisnya sesuai selera.😘



__ADS_2