Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 86. Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Yang baca bab sebelumnya masih gantung, baca ulang ya. semalam ada kesalahan.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke mansion. Sejak masuk dan duduk, baik Fabio maupun Lara memilih untuk diam. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Kini justru hubungan mereka terlihat renggang. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka terlihat seperti orang yang saling mencintai.


Setelah memasuki halaman mansion, Fabio segera memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk. Pria itu diam sejenak sebelum memandang ke arah Lara. Belum sempat ia mengucapkan satu katapun, tiba-tiba Lara turun dan berlari masuk.


"Apa aku salah?" gumam Fabio di dalam hati.


Walter yang kebetulan berada tidak jauh dari posisi mobil Fabio berhenti segera berlari menyambut kedatangan Fabio. Pria itu juga bingung ketika melihat Lara berlari masuk ke dalam mansion dengan wajah murung.


"Bos, apa semua baik-baik saja?" tanya Walter.


Fabio memandang Walter sejenak sebelum bersandar di mobil. Pria itu masih enggan untuk masuk ke dalam mansion. Dengan satu tangan di dalam saku, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Walter, kenapa wanita mudah sekali marah?"


Walter mengeryitkan dahinya. "Apa maksud Anda ... Nona Lara marah sama anda Bos?"


"Sepertinya dia marah padaku," jawab Fabio sedih.


"Bukankah tadi semua terlihat baik-baik saja? Apa yang sudah anda lakukan hingga membuat Nona Lara marah Bos?"


Fabio memandang Walter beberapa detik sebelum memandang ke depan. Ia kembali mengingat apa yang terjadi di bukit tadi hingga membuat Lara marah.


*

__ADS_1


"Kenapa Kak Bi bertanya seperti itu?"


"Aku juga ingin tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Chubby ...." Fabio merendahkan nada bicaranya agar Lara tidak emosi.


"Dengan cara mengajak menikah? Kak Bi, aku belum bisa melupakan semua masa laluku. Sekarang dengan mudahnya Kak Bi mengajakku menikah! Apa setelah beberapa Minggu Kak Bi akan menceraikanku hingga aku jadi janda dua kali!" teriak Lara.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menuduhku sejahat itu? Kau menyamakanku dengan Alex Moritz?"


"Karena dulu pernikahan kami berlangsung begitu cepat. Aku trauma kak. Trauma! Aku gak mau jatuh ke lubang yang sama. Di depan di beri janji manis lalu setelahnya di beri sakit yang begitu menyiksa. Aku takut kak."


Fabio memegang tangan Lara untuk menyakinkannya kalau ia benar-benar serius. "Aku tidak seperti itu. Aku akan menjagamu dengan sebaik mungkin."


"Apa alasan kak Bi mengajak Lara menikah?"


"Kalau Kak Bi gak punya jawaban untuk mengajak Lara menikah. Jangan pernah katakan kata-kata pernikahan lagi!"


Lara berlari ke dalam mobil. Wanita itu tidak mau bicara dengan Fabio lagi. Di mata Lara, Fabio menganggap dirinya sebagai wanita yang mudah jatuh cinta. Padahal sebenarnya Lara tidak seperti itu. Trauma yang ia dapat akibat pernikahannya dengan Alex gagal membuatnya sulit untuk membuka hati dan mencoba untuk menikah lagi. Di mata Lara memang Fabio pria yang baik. Tapi, selama ini ia memandang Fabio bukan sebagai pria yang ia cintai melainkan pria baik yang selalu menjadi pahlawannya.


***


Walter memijat dahinya mendengar cerita singkat Fabio. Kini pria itu sudah tahu apa yang menyebabkan Lara marah. Ia sendiri juga tidak bisa menyalahkan Fabio. Tujuan pria itu mengajak Lara menikah sudah jelas. Ia tidak mau sampai Lara jatuh cinta kepada pria lain.


Fabio ingin memiliki Lara seutuhnya. Hanya saja cara yang dilakukan Fabio salah. Pria itu terlalu terburu-buru mengajak Lara untuk menikah. Padahal di antara mereka tidak ada status apapun. Bahkan pacaran saja tidak. Jelas saja Lara menjadi salah paham kepada Fabio.


"Bos, anda tidak bisa memaksa Nona Lara," ucap Walter dengan suara pelan.

__ADS_1


"Maksudmu aku terlalu memaksa!" Fabio mengeryitkan dahi dengan wajah yang serius. Tentu saja ia menganggap dirinya benar karena memang selama ini Fabio bukan tipe pria yang suka mengulur waktu jika ingin mendapatkan segala sesuatu yang ia inginkan.


"Nona Lara seorang wanita, Bos. Bukan senjata yang bisa kita dapatkan ketika kita menginginkannya," jelas Walter lagi agar Fabio paham.


"Kau menyamakan Chubbyku dengan senjata?" protes Fabio.


Walter menghela napas. Ia memijat pangkal hidungnya sambil memikirkan jawaban yang pas agar Fabio bisa mengerti.


"Nona Lara butuh cinta ... Bukan ajakan menikah."


"Cinta? Apa itu cinta? Bukankah pernikahan sudah bisa menjawab kalau seseorang itu sedang jatuh cinta?"


"Tidak semua orang mengerti, Bos ... Apa lagi jika wanitanya seperti Nona Lara. Nona Lara memiliki trauma dalam sebuah pernikahan. Tidak mudah baginya untuk menikah lagi. Anda harus membuat Nona Lara yakin kau anda sangat mencintainya." Walter diam sejenak. Pria itu memandang Fabio dengan tatapan menuduh. "Bos, apa benar anda mencintai Nona Lara?"


Fabio mengeluarkan tangannya. Sebenarnya tidak ada senjata yang ia genggam. Namun ketika melihat Fabio mengeluarkan tangannya dari saku membuat Walter takut. Ia pikir Fabio mengeluarkan senjata.


"Bos, maafkan saya!" ujar Walter dengan kepala menunduk.


"Pikirkan cara agar Lara bisa tahu kalau aku sangat mencintainya," perintah Fabio sebelum berlalu pergi. Ia masuk ke dalam mansion dengan langkah yang sangat tenang. Walter mengangkat kepalanya sebelum menggeleng pelan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku juga tidak tahu caranya!" Tiba-tiba Walter ingat dengan Dokter Alfred. Pria itu tersenyum sebelum mengambil ponselnya dari dalam saku.


Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman saya ya.


__ADS_1


__ADS_2