Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 98. Usaha Walter


__ADS_3

Greta menggerutu ketika kembali ke dalam kamar. Wanita itu merasa lelah untuk berteriak. Tadi seharusnya ia tidak perlu turun. Bertahan di atas tembok sampai ia bisa memikirkan jalan keluar.


"Kenapa ular itu harus muncul di depanku! Aku pasti bisa memikirkan cara untuk kabur dari sini kalau ular itu tidak muncul di hadapanku!" umpat Greta.


Saat Greta berjalan mondar-mandir, tiba-tiba terdengar seseorang berjalan mendekatinya. Greta segera berputar dengan wajah waspada. Kedua matanya melebar melihat sosok pria asing ada di dalam kamar yang ia tempati.


Pria itu adalah Walter. Ketika semua pengawal sibuk menyelamatkan Greta agar turun tanpa cedera, di saat itu juga Walter mengambil kesempatan untuk bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Tanpa pikir panjang, ia sudah bisa menebak dimana Greta di sekap.


"Siapa anda?"


Walter tetap santai. Ia berjalan mendekati sofa yang ada di dekat Greta. Hal itu membuat Greta mundur dan semakin takut. "Saya malaikat penolong yang dikirimkan langit untuk menolong anda, Nona."


"Percaya diri sekali anda. Saya tidak mau percaya dengan siapapun. Di rumah ini tidak ada yang bisa di percaya!" ketus Greta dengan wajah galaknya.


"Termasuk kakak kandung anda sendiri?" ledek Walter. Pria itu duduk di sofa dengan kedua tangan direntangkan. Kedua kakinya di letakkan di atas meja.


"Tidak sopan sekali anda! Turunkan kaki anda?" Greta mendorong kaki Walter dengan menggunakan kaki. Hal itu membuat Walter menaikkan satu alisnya. Belum ada wanita yang seberani Greta. Menendang kakinya dengan menggunakan kaki. "Anda pikir anda siapa!"


"Saya?" Walter beranjak dari sofa. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya kasih waktu lima menit untuk berpikir. Jika ingin ikut ayo. Jika tidak itu pilihan anda."

__ADS_1


Walter berjalan ke jendela. Ia sama sekali tidak ada niat untuk merayu Greta agar mau ikut dengannya. Walau sebenarnya tujuan utamanya ada di rumah itu adalah untuk membawa Greta pergi.


Greta memandang ke pintu sebelum memandang punggung Walter lagi. Walau ada rasa ragu-ragu karena ia tidak kenal siapa pria asing yang mengajaknya pergi, tetapi tetap saja ia memiliki keinginan untuk kabur dari rumah tersebut.


"Tunggu! Aku ikut!" teriak Greta. Wanita itu berlari mengejar Walter. Walter terlihat bahagia karena kini Greta sudah bersama dengannya.


...***...


Lara dan Fabio duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Mereka duduk di sofa yang sama. Jaraknya juga sangat dekat. Tetapi keduanya terlihat seperti tidak saling kenal. Memandang ke televisi yang jelas-jelas mereka sendiri tidak paham dengan apa yang mereka lihat.


Sudah hampir setengah jam posisi mereka seperti itu. Tanpa bicara tanpa bergerak. Mematung seperti batu. Keduanya sama-sama bingung harus bagaimana. Di tambah lagi kini mereka sudah memutuskan untuk segera menikah. Rasanya jarak di antara mereka sudah semakin dekat. Tetapi rasa canggung mereka semakin besar.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kenapa Kak Bi diam saja sejak tadi," gumam Lara di dalam hati. Ia memandang wajah Fabio yang saat itu melirik ke arah Lara juga. "Kak Bi mau minum cokelat panas?"


Lara mengangguk. "Cuaca dingin seperti ini cocok sekali jika di temani dengan cokelat panas. Lara mau ke dapur untuk buat cokelat panas. Jika Kak Bi juga mau, Lara akan buatkan satu untuk Kak Bi."


"Kedengarannya enak. Aku mau satu," jawab Fabio.


"Lara ke dapur dulu ya," pamit Lara.

__ADS_1


Saat wanita itu ingin beranjak, tiba-tiba Fabio memegang tangan Lara dan menuntun wanita itu agar duduk lagi. "Biar chef saja yang membuatnya. Kau tetap duduk di sini temani aku," perintah Fabio. Memang kebetulan Chet yang bekerja di mansion itu berdiri tidak jauh dari posisi Lara dan Fabio berada.


Lara kembali duduk di sofa. "Buatan chef tidak enak kak."


"Benarkah?" Fabio mengeryitkan dahinya. "Mereka chef ternama. Di seleksi dulu sebelum bekerja di mansion ini."


"Karena chef tidak tahu resep rahasia yang bisa membuat cokelat itu menjadi lezat," jawab Lara lagi. Ia sebenarnya segan mengatakan kalimat seperti itu. Kesannya terlalu percaya diri.


"Apa ada resep rahasianya?" tanya Fabio lagi.


"Ya. Kak Bi mau tahu?"


Fabio mengangguk pelan dengan wajah penasaran. "Katakan padaku."


"Cokelat panas yang Lara buat di tambah dengan bumbu cinta," bisik Lara dengan wajah yang serius.


Wanita itu langsung tersenyum setelah mengatakan resep rahasia yang ia miliki.


Fabio menatap wajah Lara dengan serius selama beberapa detik sebelum akhirnya ikut tersenyum. "Chubby ... kenapa kau sangat menggemaskan," puji Fabio. Pria itu mencubit pipi Lara karena gemas. "Baiklah, kalau begitu ayo kita buat sama-sama. Bukankah rasanya akan semakin lezat jika di tambah dengan dua cinta?"

__ADS_1


Lara tertawa geli mendengar perkataan Fabio. "Ayo kita ke dapur."


Chef yang berdiri tidak jauh dari posisi Lara dan Fabio berada memilih untuk mengikuti mereka berdua ke dapur. Walau mereka percaya jika Lara bisa memasak, tetap saja mereka perlu mengawasi Lara dan Fabio. Walau harus mengawasi dari jarak yang tidak terlalu dekat.


__ADS_2