Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 15. Kunjungan Fiona


__ADS_3

Pagi yang cerah dan hangat. Hari ini adalah hari minggu. Alex ada di rumah karena tidak ada rapat atau pertemuan apapun di luar seperti minggu-minggu sebelumnya. Pria itu memilih untuk olahraga di lantai bawah di dekat kolam renang. Lara duduk tidak jauh dari posisi Alex olahraga. Sambil mengunyah donat buatan koki, Lara terlihat bersemangat menemani suaminya olahraga. Tubuh atletis Alex sering kali menggoda iman Lara. Sayang, tubuh sempurna itu tidak bisa ia sentuh. Bahkan ingin ada di pelukan Alex saja bagi Lara itu sebuah mimpi. Entah kapan bisa terwujud.


Alex melirik Lara. Ia mendengus kesal melihat Lara hanya duduk tanpa melakukan apapun. Herannya lagi, wanita itu tidak bisa duduk tanpa ngemil. Ada donat yang tersaji di meja.


"Kak Alex, lihat siapa yang aku bawa!" teriak Greta dari kejauhan. Lara dan Alex sama-sama melihat ke tempat Greta berteriak.


Lara terlihat bingung melihat wanita cantik yang ada di samping Greta. Berbeda dengan Alex yang justru saat itu terlihat kaget dan panik.


"Fiona?" gumamnya yang hanya berani di dalam hati saja.


Greta membawa Fiona mendekati Alex. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan perasaan Lara. Memang sejauh ini Greta tidak tahu kalau Alex dan Fiona masih menjalin hubungan. Yang Greta tahu, Fiona adalah sosok wanita yang cocok menjadi kakak iparnya.


"Kak, tadi Greta jumpa Kak Fiona di butik. Karena sudah lama gak ngobrol, jadi Greta ajak ke rumah," ucap Greta menjelaskan.


"Fiona?" sahut Lara. Wanita itu berdiri dan mendekati Alex. Ia mengeryitkan dahi melihat wajah Fiona sebelum memperhatikannya penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sempurna. Ya, itulah yang terbesit di pikiran Lara.


Tubuh ramping, tinggi, rambut panjang, kulit putih, hidung mancung, mata boneka dan wajah yang cantik pastinya. Sejenak Lara berpikir kalau wanita yang berdiri di hadapannya adalah seorang bidadari.


"Hai, perkenalkan. Saya Fiona." Fiona mengulurkan tangannya di depan Lara. "Saya teman Alex. Kami rekan kerja." Fiona melirik Alex sekilas sebelum memandang Lara lagi.


Lara tersenyum manis. Ia membalas uluran tangan Fiona. "Saya Lara. ISTRI SAH KAK ALEX!" jawab Lara dengan tegas.


Tiba-tiba saja Alex memegang tangan Fiona dan membawanya pergi menjauh. Greta melipat tangannya di depan dada dan tersenyum bahagia. Sedangkan Lara. Ia sudah mulai merasakan ada yang aneh dari Fiona.


"Apa wanita itu yang semalam di telepon Hana? Namanya sama. Tetapi, apa benar dia Fiona yang sama?" gumam Lara di dalam hati.


"Kak Lara gak perlu takut. Kak Fiona orangnya baik. Dia wanita berpendidikan. Jadi, tidak akan mungkin melakukan hal yang merugikan orang lain. Hubungan Kak Fiona dan Kak Alex memang sangat dekat selama ini. Tetapi Papa meminta Kak Alex putus. Walaupun begitu, Kak Fiona tidak pernah dendam sama Kakak. Buktinya saja tadi dia masih mau berkenalan dengan kakak," jelas Greta yang seolah tahu kalau kini Lara sedang bingung.


"Oh, hanya mantan," sahut Lara.


Greta memilih duduk di salah kursi yang ada di dekat Lara. Mereka sama-sama melihat ke arah Alex dan Fiona yang kini tidak tahu sedang membahas apa.


"Fiona, kenapa kau ke sini? Bagaimana kalau ada yang melaporkannya sama papa?" Alex terlihat panik.


"Aku datang bersama Greta. Itu berarti tidak masalah kan?"

__ADS_1


"Kenapa kau mau? Jika kau ingin bertemu denganku, kita bisa atur ketemuan di luar," protes Alex.


"Aku ingin bertemu istrimu!"


"Untuk apa? Kau sudah pernah melihat wajahnya di pernikahan waktu itu."


"Saat itu tidak terlihat jelas. Aku ingin berkenalan langsung. Aku ingin tahu, seberapa cantik sainganku hingga Tuan Moritz yang terhormat itu lebih memilihnya untuk di jadikan menantu!" sahut Fiona dengan wajah kesal.


"Sayang, jangan marah," bujuk Alex. Ia tidak mau Fiona meninggalkannya. Bagaimanapun juga, hanya Fiona satu-satunya wanita yang sangat ia cintai detik ini.


"Kau menghindariku beberapa hari ini. Apa kau bersenang-senang dengannya?"


"Ada banyak pekerjaan di kantor. Aku juga tidak bisa menemuimu karena papa mengirim orang untuk mengikutiku," jawab Alex.


"Sejak dulu selalu itu saja alasannya!" Fiona memilih untuk menjauhi Alex. Wanita itu sudah tidak sabar untuk berbincang-bincang dengan Lara dan mencari cela untuk membuat wanita itu jelek di mata Alex.


Alex menghela napas kasar. Di hadapkan posisi sulit seperti ini membuatnya menjadi tidak tahu harus bagaimana.


"Lara, sepertinya kau sangat suka donat," ucap Fiona dengan tatapan meledek.


Lara yang saat itu sedang mengunyah donat hanya mengangguk pelan. "Ya. Ini sangat enak. Koki di rumah ini bisa memasak makanan apapun yang aku suka. Apa kau mau, Fiona?" Lara memberikan donat miliknya kepada Fiona.


"Baguslah. Aku juga tidak suka membagi milikku kepada orang lain," balas Lara gantian.


"Wanita ini. Sepertinya dia tidak selemah yang aku pikirkan," umpat Fiona di dalam hati.


"Kak Fiona, kakak mau minum apa?" tanya Greta mencairkan suasana.


"Jus jeruk," jawab Fiona.


"Baiklah. Greta minta pelayan buatkan jus jeruk buat kakak ya?" ucap Greta sebelum melangkah pergi.


"Terima kasih, Greta."


Lara hanya diam di tempatnya duduk. Sesekali ia memandang Alex yang saat itu lebih memilih untuk berenang. Pria itu terlihat menghindar dari Fiona. Ia sangat-sangat takut mendapat hukuman dari Tuan Moritz.

__ADS_1


"Lara, apa kau tidak suka berenang? Kenapa kau tidak menemani Alex berenang?" tanya Fiona. Ia memandang Alex dan melempar senyum terbaiknya.


"Aku sudah mandi," jawab Lara. Ia beranjak dari kursi yang ia duduki dan ikut berdiri di tepian kolam renang. Ia juga senang melihat suaminya berenang. Alex terlihat semakin tampan pagi itu.


"Ini saatnya," gumam Fiona.


Fiona mendekati Lara sebelum ia menjatuhkan tubuhnya ke kolam renang.


BYUURRR


Lara kaget melihat tubuh Fiona yang tiba-tiba saja terjatuh. Alex yang tidak sempat melihat kejadian jelasnya, segera berenang menolong Fiona. Pria itu tidak mau wanitanya sampai celaka.


"Fiona!" Alex mengangkat tubuh Fiona ke atas kolam. Ia segera membangunkan Fiona yang saat itu terlihat tidak sadarkan diri. "Fiona, bangun!"


Fiona terbangun setelah pingsan selama beberapa menit. Dari kejauhan, Greta berlari mendekati Fiona. Ia juga terlihat sangat cemas.


"Apa yang terjadi dengan Kak Fiona?" tanya Greta.


Alex menatap wajah Lara dengan wajah marah. "Kau mendorong Fiona?"


"Tidak. Aku tidak ada mendorong Fiona. Dia jatuh sendiri," jawab Lara apa adanya.


"Aku tidak tahu, sebenarnya apa salahku. Aku hanya bertanya padanya, kenapa dia tidak menemanimu berenang. Dia langsung mendorong tubuhku ke kolam," jawab Fiona.


Lara kaget bukan main mendengar pernyataan Fiona. Wanita itu tidak terima di fitnah seperti ini.


"Tapi aku tidak ada mendorongnya!" teriak Lara.


"Stop Lara!" Alex berdiri. Pria itu menatap wajah Lara dengan tatapan menikam. "Siapapun yang bersentuhan dengan tubuhmu yang besar ini pasti akan terjatuh."


"Tapi aku tidak mendorongnya!" teriak Lara lagi.


"Lara!" Alex mengangkat tangannya hendak menampar wajah Lara. Wanita itu terlalu menantang hingga Alex di pancing emosi.


"Kak Alex, sudah!" Greta menarik lengan Alex. "Bawa Kak Fiona ke kamar. Kak Fiona sudah kedinginan."

__ADS_1


Kedua mata Lara berkaca-kaca. Ia memandang Fiona sekilas sebelum berlari pergi. Perlakuan Alex saat ini sungguh membuat hatinya terluka.


Giona tersenyum tipis. Di dalam hatinya kini sudah bersorak gembira. "Tidak terlalu sulit," gumamnya di dalam hati.


__ADS_2