Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 93. Disengaja


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian, Lara memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang harus ia lakukan. Tetapi, ia juga tidak tenang di kamar saja. Teriakan Greta terus saja mengiang di dalam ingatannya. Ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Greta saat ini. Wanita itu berteriak sambil menangis. Sudah pasti terjadi sesuatu yang membuatnya harus berteriak dan memohon.


Lara memandang pintu keluar dengan wajah yang serius. Ia takut jika nekad keluar, Fabio tidak akan mau mengenalnya lagi. Bukan soal kehilangan tempat tinggal yang akan Lara sesali. Tetapi wanita itu akan menyesal jika sampai Fabio membencinya.


Saat Lara mematung di tempatnya berdiri, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Walter dan Dokter Alfred muncul dengan membawa tubuh Fabio yang berlumuran darah. Lara syok. Sangat sangat syok. Padahal beberapa waktu yang lalu pria itu masih baik-baik saja. Kini pria itu pulang dalam keadaan celaka.


"Kak Bi," lirih Lara. Ia berlari untuk mendekat. "Apa yang terjadi? Kenapa Kak Bi bisa sampai terluka?"


Lara tidak tega melihat kemeja putih Fabio yang kini sudah dipenuhi darah. Pria itu tidak sadarkan diri. Sepertinya ia mengalami luka tembak. Bibirnya sampai pucat.


"Nona, kami datang ke gedung itu. Saat baru saja turun dari mobil, tiba-tiba kami di serang dengan tembakan. Bos Fabio berusaha keras mencari keberadaan Greta. Tetapi, bukan Greta yang berhasil ia bawa. Justru luka ini yang ia dapat," jelas Walter.


"Lalu, kenapa kau ada di sini?" tanya Lara kepada Dokter Alfred.


"Saya dokter pribadi Tuan Fabio, Lara. Saya akan selalu ada di mansion ini setiap kali Tuan Fabio celaka," jawab Alfred. "Sebaiknya kau minggir. Berdiri di situ hanya akan menghalangi jalan kami," ketus Alfred dengan wajah tidak suka.


Lara minggir untuk memberi jalan. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Lara sangat menyesal karena sudah memaksa Fabio untuk pergi memeriksa gedung tersebut. Andai sejak awal ia tidak memaksa Fabio maka semua ini tidak akan terjadi.


"Tunggu! Aku ikut!" teriak Lara. Ia ikut bersama dengan Walter dan Alfred menuju ke sebuah ruangan yang menjadi kamar pribadi Fabio.


Fabio di baringkan di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Walter dan Alfred terlihat sangat panik. Mereka mengambil tugas masing-masing setelah berhasil meletakkan tubuh Fabio di ranjang.


"Kak Bi ...." Lara berjalan mendekati Fabio. Wanita itu duduk di samping Fabio dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa bisa sampai seperti ini? Maafkan Lara, Kak."


"Lara, menyingkirlah. Kau hanya mengganggu saja," usir Alfred.


"Mengganggu kau bilang?" Lara berdiri dengan wajah marah. "Masih ada banyak tempat yang bisa kau gunakan. Kenapa harus mengusirku!" umpat Lara kesal.


"Berhentilah berteriak. Teriakanmu tidak bisa mengubah apapun!" sahut Dokter Alfred.

__ADS_1


Lara mengepal kuat tangannya. "Alfred, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini? Apa aku membuat kesalahan? Kau marah padaku?"


"Ya." Alfred duduk dan mulai membersihkan tubuh Fabio yang berlumuran darah. "Lara yang sekarang tidak seperti Lara yang aku kenal dulu. Kau terlalu keras kepala!"


"Kau menyalahkanku? Kau menuduhku karena sudah menyebabkan Kak Bi celaka?"


"Baguslah kalau kau sadar," sahut Alfred tanpa memandang.


"Aku tidak pernah berniat untuk membuat Kak Bi terluka."


Alfred menghela napas. Ia berdiri di depan Lara dan memandang wanita itu dengan tatapan tanya serius. "Jika saja tadi Tuan Fabio tidak ke sana, mungkin orang yang akan berbaring di tempat ini adalah kau Lara. Aku heran. Alex Moritz adalah orang yang sudah membuatmu malu, sakit hati, bahkan kau hampir depresi karena ulah pria itu. Tapi kenapa kau masih mengurus hidupnya?"


"Aku memikirkan Greta, bukan Kak Alex."


"Bahkan kau masih menghormatinya. Panggil apa tadi? Kak Alex?" ledek Alfred.


"Alfred, jangan memojokkanku seperti ini!"


Lara diam sejenak sebelum menjawab. "Sakit hati."


"Dan sekarang apa yang sudah kau lakukan kepada Tuan Fabio itu sama saja seperti yang dulu kau rasakan. Jika kau tidak bisa membalas perasaan Tuan Fabio, setidaknya jangan menyakitinya. Kau satu-satunya wanita yang pernah ia lindungi, Lara."


"Tapi aku juga mencintai Kak Bi. Terus di mana letak kesalahannya? Berbeda dengan Alex yang saat itu tidak mencintaiku. Jangan samakan aku dengannya, Alfred!"


"Apa kau bilang? Kau bilang kau mencintai Tuan Fabio? Cinta yang seperti apa? Tadi Walter sempat bilang kalau kau menolak Tuan Fabio ketika dia mengajakmu menikah!"


Lara melempar tatapan marah ke arah Walter. "Aku tidak pernah bilang menolaknyaAku hanya tidak tahu harus bagaimana."


"Tidak memberi kepastian itu sama saja dengan menolak!" sahut Alfred. Pria itu kembali memeriksa keadaan Fabio. "Keadaannya semakin kritis. Sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit."

__ADS_1


"Alfred, aku tidak pernah menolak Kak Bi," ucap Lara dengan suara mulai serak. "Aku tidak mau Kak Bi celaka. Aku tidak mau dia sampai ...." Lara menghapus air matanya. "Aku sangat mencintai Kak Bi ... aku tidak mau kehilangan Kak Bi."


Alfred tersenyum. Memang jawaban seperti itu yang ingin dia dengar. "Jika Tuan Fabio diberi kesempatan untuk membuka mata lagi, apa kau mau menikah dengannya?"


Lara mengangguk cepat. "Aku mau menikah dengan Kak Bi. Tolong selamatkan Kak Bi, Alfred. Kau dokter yang hebat."


Alfred meletakkan alat medisnya. Menarik napas sebelum tersenyum. "Baiklah. Persiapkan dirimu. Karena tidak lama lagi, pernikahan kalian akan di gelar di mansion ini." Alfred memandang wajah Fabio. "Tuan, bukankah itu sangat mudah?"


Tidak lama setelah Alfred mengatakan kalimat itu, Fabio membuka matanya. Pria itu memandang Lara sebelum tersenyum. "Hemmz, ya. Tapi kau tetap harus di hukum karena sudah berani membentak Chubby ku."


Lara melebarkan kedua matanya. "Apa ini? kenapa cepat sekali sadarnya?"


Alfred dan Walter sama-sama tertawa. Mereka bahagia karena akhirnya rencana mereka berhasil.


"Kak Bi, apa ini?" tanya Lara.


"Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu. Kau selalu saja memikirkan Alex Moritz," jawab Fabio.


Lara menghapus air matanya. "Kak Bi. Kenapa Kak Bi jahat sekali!" Lara berlari mendekati Fabio dan memukul pria itu. "Apa luka ini juga palsu?"


"Ya."


"Kak Bi?" umpat Lara kesal. Fabio segera menarik tubuh Lara dan memeluknya. "Maafkan aku."


Lara tersenyum bahagia. "Aku yang seharusnya minta maaf, Kak. Apa yang dikatakan Alfred benar. Kau tau fokus dengan niatku untuk balas dendam terhadap Alex Moritz, hingga akhirnya aku lupa kalau ada pria yang sedang menunggu cintaku."


Hai Reader. Membahas soal Give Away waktu itu. Berhubung baru 2 author yang diamond, jadi kita perpanjang ya. pengumumannya pas hari raya idul Fitri. Jika belum nambah yang diamond. Maka vote 5 besar yg menang give away. Hari ini author kasih tahu kira-kira hadiah give away nya apa ya. Semoga kalian beruntung dan menjadi salah satu pemilik novel Serena😘


__ADS_1


Hai reader ... ini rekomendasi Novel teman author ya. Semoga kalian suka❤️



__ADS_2