
Fabio mematung untuk beberapa saat. Sejak kemarin, hal ini yang selalu ia tutupi dari Lara. Namun, hari ini melalui mulut Alex. Lara menjadi tahu, siapa sebenarnya Fabio dan apa pekerjaannya.
"Ya, apa kau takut?" tanya Fabio dengan suara pelan. Ia sama sekali tidak mau menutup-nutupi apa pekerjaannya selama ini. Walau selama ini di depan masyarakat Fabio berhasil menyembunyikan identitas aslinya. Tetapi di depan Lara ia ingin jujur. Fabio tidak mau berbohong lebih lama lagi.
Lara melepas genggaman Fabio di pinggangnya. "Kenapa Kak Bi gak pernah cerita sama Lara?"
Mendengar apa yang dikatakan Lara dan Fabio, membuat Alex tersenyum bahagia. Ia berpikir kalau rencana untuk membeberkan identitas asli Fabio kini sudah berhasil.
"Aku yakin, Lara pasti akan marah dan memilih untuk kembali padaku," gumam Alex penuh dengan percaya diri.
Fabio masih terlihat tenang. Pria itu memakai lagi kaca mata hitamnya. "Aku pikir hal itu tidak penting. Kau tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Yang kau perlu tahu, apa yang sudah aku lakukan selama ini untukmu!"
"Kak, seharusnya Kak Bi bilang sejak awal kalau Kak Bi itu ketua mafia." Lara memandang wajah Alex dengan tatapan penuh arti. "Biar Lara gak perlu pusing-pusing mikirin cara menyingkirkan manusia tidak bermoral seperti dia! Tembak aja biar mati sekalian!"
Alex melebarkan kedua matanya ketika mendengar jawaban Lara. Semua tidak sama dengan apa yang ia harapkan. Bukan kembali justru nyawanya terancam punah.
"Lara, kau lebih membela seorang pembunuh? Dari pada aku suamimu?" tanya Alex.
"Lebih tepatnya, mantan! Lara pasti akan lebih membela pembunuh. Karena pembunuh lebih keren jika dibandingkan dengan pria yang suka mematahkan hati wanita seperti Kak Alex!" ketus Lara sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.
Fabio tersenyum mendengar jawaban Lara. Ia memandang Walter sejenak sebelum masuk ke dalam mobil.
"Lara, jangan pergi! Dengarkan aku dulu!" teriak Alex dengan suara yang begitu kuat. Namun, mobil yang ditumpangi Lara justru segera melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka sama sekali tidak peduli dengan nasip Alex seterusnya.
Di dalam mobil, Lara memandang keluar jendela. Walau pada akhirnya Lara jadi tahu siapa sebenarnya Fabio. Tetapi, tetap saja ia merasa sangat takut. Tadi dia bersikap sok berani hanya karena ingin membuat Alex tidak berani macam-macam padanya. Aslinya kini Lara tidak tahu harus bagaimana. Lara gugup ketika membayangkan kalau selama ini ia tinggal di mansion seorang pembunuh.
"Apa kau takut?" tanya Fabio ketika Lara hanya diam tanpa kata.
__ADS_1
"Tidak, Kak," dusta Lara.
Fabio mengeluarkan senjata api yang selalu ia bawa dan memberikannya kepada Lara. "Simpan benda itu di dalam tasmu agar suatu saat ketika keadaan mendesak, kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Karena di kota ini, berteriak belum tentu ada yang menolong."
Lara mematung melihat senjata berbahaya itu kini ada di atas pangkuannya. "Tapi Lara gak tahu cara gunainnya, Kak. Bagaimana kalau nanti Lara di tangkap polisi karena menyimpan senjata api?"
"Aku akan mengajarimu nanti. Hanya memperhatikan bentuknya saja, aku yakin orang yang ingin mencelakaimu pasti pikir dua kali. Termasuk polisi!" jawab Fabio dengan ekspresi dingin favoritnya.
Lara memperhatikan senjata api itu dengan begitu teliti. "Ini ... apa semua orang memilikinya? Atau hanya Kak Bi saja?"
Fabio melirik arah yang di tunjuk Lara. Pria itu menggeleng pelan. "Semua orang yang tinggal di kota ini pasti memiliki senjata. Mengingat tingkat kejahatan di kota ini sungguh tinggi. Tetapi, belum tentu semua orang memiliki tanda seperti ini. Ini hanya milikku," jelas Fabio. "Jika kau bertemu dengan orang yang memiliki tanda seperti ini. Kau hanya perlu menyebut namaku maka orang itu akan takut. Bahkan bersujud di depanmu dengan tubuh ketakutan."
"Kedengarannya Kak Bi memang pria yang sangat kejam. Semoga saja dia tidak pernah memiliki niat jahat padaku. Jika itu sampai terjadi, sepertinya aku tidak bisa minta tolong siapa-siapa selain pasrah,* gumam Lara di dalam hati.
Lara memperhatikan tato yang ada di gagang pistol tersebut. Ukiran naga itu membuat Lara tahu, kalau senjata api itu memiliki identitasnya sendiri. Tanpa banyak protes lagi Lara memasukkan senjata api itu ke dalam tas. Ia tidak mau berlama-lama memandang senjata berbahaya tersebut.
"Aku tidak tahu, apa itu feeling karena Bos Fabio sedang jatuh cinta? Kenapa dia bisa tahu kalau Nona Lara berada dalam bahaya?"
Beberapa saat yang lalu.
Walter melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu pikir Fabio ingin berkunjung ke markas Black Dragon. Biasanya juga memang seperti itu. Tetapi, ketika lokasi markas semakin dekat. Fabio terlihat protes.
"Kenapa kita ke sini?" ujarnya tidak suka.
"Lalu, kita mau ke mana Bos? Ke perusahaan?"
"Apa kau mau pengsiun dari kerjaanmu? Jika aku sudah kembali ke perusahaan, itu berarti kau sudah tidak dibutuhkan lagi!" ketus Fabio.
__ADS_1
Walter diam membisu. Mengatur napasnya dan berusaha sabar. "Lalu, kita mau ke mana Bos?"
"Ke mall!"
"Apa musuh kita sembunyi di mall, Bos?" Wajah Walter panik. "Saya akan menghubungi anggota sekarang juga!"
"Tidak!" jawab Fabio cepat.
Walter menjadi semakin bingung. Mengahadapi Fabio sama seperti menghadapi wanita yang lagi hamil muda. Jiwa sensitifnya membuat Walter meronta-ronta.
"Apa anda ingin berbelanja, Bos?" tanya Walter asal saja. Ia yakin, bos nya itu tidak mungkin datang ke mall hanya untuk berbelanja. Mengingat selama ini Walter yang selalu di bikin pusing setiap kali big Boss itu selesai mandi.
"Ya."
Kedua mata Walter melotot. Jika tidak ada jaringan saraf di dalamnya mungkin akan lepas. Walter sangat-sangat tidak percaya dengan jawaban Fabio saat itu. Seperti mimpi rasanya. Namun ketika ia sadar semua nyata, ia kembali melirik wajah big bossnya melalui spion.
"Maksud Anda, transaksi senjata kita lakukan di mall, Bos?" tanya Walter untuk mewaraskan pikirannya.
"Sepertinya aku butuh kemeja baru."
"WHAT?"
Walter ingin melompat dari ketinggian gedung apartemen rasanya. Jawaban Fabio jawaban seperti orang yang lagi amnesia. Bukan, lebih tepatnya orang yang lagi tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Sungguh sulit dipercaya.
"Ada yang salah?" Fabio menatap tajam wajah Walter.
"Tidak, Bos. Kemeja anda memang sudah kusam," jawab Walter frustasi. Pria itu segera memutar arah mobilnya menuju ke mall. Sepanjang perjalanan ia membayangkan bagaimana tingkah laku Fabio ketika memilih kemeja nanti. Sudah pasti itu momen langkah yang wajib ia abadikan. Bahkan Walter sudah tidak sabar memberi kabar ini kepada Alfred.
__ADS_1
Belum juga tiba di gedung parkir, Walter dan Fabio sudah dikejutkan dengan pemandangan ketika Lara di seret paksa oleh Alex. Fabio terlihat menggeram. Semua tertangkap dari kaca spion. Namun, Walter tahu big bossnya itu tetap bersikap tenang karena wanita yang ia cintai masih dalam keadaan baik-baik saja.