Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 90. Dimana Greta?


__ADS_3

Lara berbaring di atas tempat tidur sambil memandang langit-langit kamar. Wanita itu senyum-senyum sendiri ketika membayangkan tingkah laku Fabio di taman tadi. Sangat mengemaskan hingga membuat Lara tidak sanggup berlama-lama ada di dekat pria itu.


"Apa ini? Apa benar aku jatuh cinta sama Kak Bi?" Lara memejamkan mata dengan tangan di atas dada. Wanita itu berusaha menenangkan pikirannya sambil membayangkan tingkah lucu Fabio.


Namun, ketika ia membayangkan sebuah pernikahan. Tiba-tiba saja ada rasa aneh yang mengalir di tubuhnya. Lara membuka matanya dan buliran bening jatuh membasahi pipi. Penghinaan Alex dan semua perlakuan buruk Alex, Ny. Moritz dan Fiona kembali mengiang di dalam ingatannya. Lara sakit hati. Entah sampai kapan rasa sakit itu bersarang di pikirannya.


"Apa benar Kak Bi bisa membahagiakanku? Bagaimana kalau ini hanya khayalanku saja? Bagaimana kalau setelah menikah nanti, Kak Bi akan bersikap sama seperti Kak Alex. Bukankah pria berduit bisa melakukan hal apapun yang ia suka? Wanita sepertiku bisa apa selain menangis?"


Lara duduk di atas tempat tidur. Ia mengambil ponselnya yang terlihat berulang kali menyala. Wanita itu mengeryitkan dahi melihat pesan singkat dari Greta .


_Kak, tolong aku. Aku kabur dari Kak Alex. Sekarang aku ada di sebuah gedung. Aku ketakutan kak. Aku gak tahu harus bagaimana. Tolong aku kak. Jemput aku._


"Greta? Apa yang terjadi?" Lara terlihat panik. Ia berusaha menghubungi Greta agar bisa mendengar suara wanita itu secara langsung. Namun, nomor teleponnya tidak bisa di hubungi lagi.


"Alamatnya tidak jauh dari mansion ini." Lara menurunkan ponselnya. Ia terlihat ragu. Namun, membiarkan Greta sendirian juga bukan sifat Lara. "Aku harus menolong Greta."


Lara segera beranjak dari tempat tidur. Wanita itu keluar dari kamar dengan ponsel yang masih ada di tangannya. Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke lift. Beberapa pengawal memandang Lara dengan wajah curiga. Mereka segera menghubungi Walter untuk memberi tahu apa yang terjadi pada Lara.

__ADS_1


Setibanya di dalam lift, Lara memandang ponselnya lagi. "Sejak kapan Greta ada di tempat itu? Apa pesan ini sudah masuk sejak tadi?"


Pintu lift terbuka. Lara segera keluar. Wanita itu berhenti di depan lift sambil memandang kanan dan kiri. Hanya terlihat beberapa pelayan yang sedang bersih-bersih.


"Dimana Kak Bi?"


Lara berjalan menuju ke kamar Fabio. Ini pertama kalinya bagi Lara datang ke kamar Fabio. Wanita itu tidak mau pergi tanpa izin. Apapun yang akan ia lakukan hari ini, pasti ada nama Alex di sana. Lara tidak mau terjebak.


"Nona."


Saat Lara belum tiba di depan pintu kamar Fabio, tiba-tiba Walter sudah menghentikan langkahnya. Wanita itu memandang Walter dengan wajah bahagia. "Walter, syukurlah kau ada di sini." Lara berjalan mendekati Walter. Ia mengambil ponselnya dan memberi tahu Walter pesan singkat yang dikirimkan Greta. "Aku harus pergi. Aku ingin menolong Greta."


Lara diam sejenak. "Tapi, aku juga tidak berani pergi sendirian." Lara memandang wajah Walter. "Bagaimana kalau denganmu saja?"


"Saya?" Walter menunjuk dirinya sendiri. Tanpa banyak kata lagi, Lara segera menarik tangan Walter. Wanita itu mengajak Walter agar segera pergi menuju ke pintu keluar.


"Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu," jawab Lara tanpa peduli wajah panik Walter saat ini.

__ADS_1


"Tapi, Nona. Ini melanggar aturan." Walter berusaha melepas genggaman Lara. Pria itu tidak mungkin juga bertindak kasar terhadap Lara. Ia harus membujuk Lara agar mau melepaskan tangannya.


"Aturan bagaimana?" Lara berhenti. Ia melepas tangan Walter dengan wajah kesal. "Kenapa kau tidak mau membantuku?"


"Bukan saya tidak mau membantu anda, Nona. Tapi, apa yang harus saja jawab jika nanti Bos Fabio bertanya?"


"Kak Bi gak akan tahu," ujar Lara. Sebenarnya Lara tidak mau sampai Fabio tahu karena ia berpikir pasti Fabio akan mengaitkan Greta dengan Alex Moritz. Hal itu hanya akan membuat Lara pusing saja.


"Tapi Bos Fabio sudah melihat semuanya," ucap Walter dengan nada yang lembut.


"Apa kau bilang? Kak Bi melihat semuanya?" Lara terlihat panik.


Walter mengangguk cepat. Ia menunjuk ke samping tempat Fabio berdiri. "Ada di sana, Nona."


Lara memiringkan kepalanya ke samping kanan. Wanita itu kaget bukan main melihat Fabio berdiri dengan satu tangan di dalam saku. Ekspresi dingin pria itu membuat Lara ingin segera mengukir senyuman manis.


"Kak Bi, ada yang ingin Lara katakan sama Kak Bi ...."

__ADS_1


Hai Reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author ya. Selamat membaca.



__ADS_2