
Beberapa saat yang lalu.
Fabio memutar arah mobilnya ketika jaraknya sudah sedikit jauh dari hotel tersebut berada, Fabio bisa melihat jelas sebuah mobil hitam yang juga masuk ke halaman hotel setelah Lara masuk ke dalam. Fabio sengaja melakukan trik seperti itu agar ia bisa menyerang musuhnya dari belakang. Walau memang ia harus menjadikan Lara sebagai pancingan. Tapi, Fabio bisa menjamin keselamatan Lara. Ia yakin pria yang ada di depan pintu masuk hotel itu pasti akan melindungi Lara. Meskipun tidak ada jaminan sampai berapa lama pria sanggup melindungi Lara hari ini.
Setelah tiba di parkiran hotel, Fabio segera masuk ke dalam. Ia mengambil senjata apinya yang sudah di persiapkan di sebuah pot bunga yang ada di dekat pintu lift. Pria itu terlihat tetap tenang dan santai agar tidak mengganggu tamu hotel yang juga ada di lift tersebut.
Fabio turun dari lift masih dengan ekspresi yang sangat tenang. Ketika mendengar suara tembakan di lantai atas. Situasi yang kini menjadi tempat Fabio berada menjadi kacau. Fabio kini ada di bawah lantai tempat Lara berada. Ia menuju ke tangga dengan langkah yang sangat cepat. Fabio tidak mau Lara sampai celaka.
Ketika tiba di lantai tersebut, Fabio melihat dua pria berusaha mendobrak pintu kamar hotel. Butuh usaha ekstra untuk membuka pintu kamar tersebut. Fabio memang memiliki kamar khusus di hotel tersebut. Dan kamar itu adalah kamar yang kini di tempati Lara. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sana. Bahkan seluruh lantai yang kini menjadi tempat Fabio berdiri adalah miliknya. Bahkan tidak ada nomor lift yang bisa menghubungkan seseorang menuju ke lantai tersebut. Jika ingin muncul di lantai tersebut dengan menggunakan lift harus menggunakan kartu khusus yang hanya Fabio dan pasukan miliknya yang punya.
DUARR DUARRR
Fabio segera melayangkan tembakan ke arah musuh yang berusaha membuka paksa pintu kamar tersebut. Setelah dua pria itu tewas, Fabio berjalan mendekati kamar. Tapi, belum tiba di depan kamar Fabio sudah melihat Walter muncul di hadapannya.
“Bos, pria itu Alex!” ucap Walter dengan wajah yang masih sulit untuk percaya. Padahal tadinya ia pikir mantan suami Lara itu adalah pecundang yang tidak bisa apa-apa. Tidak di sangka, sekali bergerak saja sudah sebesar ini kekacauan yang ia buat.
“Kau sudah melihatnya?”
“Ya. Aku yakin, itu Alex Morizt,” jawab Walter penuh keyakinan.
“Apa tadi kau membebaskannya?” tanya Fabio lagi.
__ADS_1
“Saya pikir dia bukan lawan yang setimpal dengan kita. Apa mungkin setelah dia bebas, dia mengikuti mobil kita hingga bisa tiba di kota ini?”
“Aku juga tidak tahu. Kirimkan orang untuk melacak di mana pria itu berada. Sejauh ini kita belum tahu apa yang ingin dia lakukan. Apa semua ini murni untuk mendapatkan Lara atau karena ada tujuan lain.”
“Baik, Bos.” Walter menunduk hormat dan melangkah menuju lift. Beberapa pria yang ada di belakang Walter segera membereskan kekacauan yang ada. Fabio mengeluarkan kartu khusus dari dalam sakunya untuk membuka pintu kamar hotel tersebut.
Ketika ia tiba di dalam, ia tidak berhasil menemukan Lara. Fabio masuk ke dalam menuju ke bagian depan kamar. Namun di sana juga masih kosong. Tidak ada juga tanda keributan di sana. Semua barang masih tertata rapi pada tempatnya.
“Di mana dia?” gumam Fabio. Ketika ia ingat dengan kamar mandi, Fabio segera berjalan menuju kamar mandi untuk memeriksa keberadaan Lara. Namun, ketika baru membuka pintu ia sudah di sambut dengan sebuah tembakan yang berasal dari pistol miliknya sendiri. Peluru khusus yang ada di dalam pistol itu menyisakan rasa sakit yang luar biasa di lengannya. Fabio bahkan sempat kesulitan bernapas di buat luka tembak yang ada pada tangannya.
Tetapi, ketika Fabio melihat Lara memejamkan mata dengan wajah ketakutan. Ia berusaha menghilangkan ekspresi kesakitan di wajahnya. Ia menarik napas dalam sebelum memanggil Lara.
“Chubby….”
Lara tertidur di mobil. Fabio memandang wajah Lara dengan senyuman sebelum memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia mengambil jas yang ada di jok belakang dan menyelimuti tubuh Lara. Untuk sejenak Fabio memutuskan untuk memandang wajah Lara hingga puas.
“Maafkan aku karena sudah menyusahkanmu.” Fabio mengusap pipi Lara sebelum melajukan lagi mobilnya. Ketika ponselnya berdering, Fabio mengangkat panggilan telepon tersebut.
“Apa kau berhasil menangkapnya?” tanya Fabio penuh harap.
“Sudah, Bos.”
__ADS_1
“Bawa dia ke ruangan eksekusi. Aku akan segera tiba di mansion setengah jam lagi.” Fabio memutuskan panggilan teleponnya dan kembali fokus pada laju mobilnya. Sedangkan Lara hanya diam dengan mata terpejam. Memang wanita itu sangat lelah hingga memutuskan untuk tidur. Tetapi, walaupun kedua matanya terpejam ia masih bisa mendengar apa saja yang dikatakan oleh Fabio.
“Siapa yang di tangkap Kak Bi? Apa orang yang di tangkap Kak Bi orang jahat? Mereka membawanya ke mansion? Untuk apa? Apa Kak Bi akan membunuh orang itu?” gumam Lara di dalam hati dengan perasaan bercampur aduk.
Di sisi lain, Walter duduk di sebuah kursi sambil memandang wajah sanderaannya yang kini sudah babak belur. Sorot matanya sangat tajam. Walter tidak sendirian. Ada beberapa pria yang memegang rantai dan balok kayu di ruangan tersebut.
“Kenapa kau diam saja? Jangan berakting lagi! Kau adalah pria yang sangat pintar drama. Kau memasang wajah memelas dan ketakutan agar semua orang berpikir kalau kau adalah pria yang lemah. PAdahal sebenarnya kau adalah pria pembuat onar yang memiliki strategi cerdas untuk menjebak musuhmu. Katakan. Apa kau melakukan semua ini karena kau ingin mendapatkan cinta Nona Lara?” Walter beranjak dari kursi tersebut dan berjalan mendekati Alex. Pria itu kini sudah dipenuhi luka dan memar. Bahkan di beberapa titik di tubuhnya juga ada darah segar yang mengalir. Alex terlihat sangat memprihatinkan karena baru saja di siksa oleh anak buah Walter yang kejamnya tidak ketulungan. Mereka tidak segan-segan merusak tubuh lawannya.
“Apa yang aku lakukan? Apa salah jika aku mencintai Lara? Dia istriku. Wanita yang pernah menikah denganku. Karena sedikit kesalahan aku telah membuat hatinya terluka. Sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Siapa kalian? Kenapa kalian menyiksaku seperti ini?”
PLAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di bibir Alex. Walter menggeram mendengar perkataan yang terucap dari bibir Alex. “Jaga bicaramu. Nona Lara bukan milikmu lagi. Dia adalah calon pengantin Tuan Fabio.”
Alex tertawa lirih. Antara ingin menangis dan berteriak. Rasa sakit di tubuhnya sungguh luar biasa sakitnya. Tapi, tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini ia rasakan di dalam hatinya. Sungguh luar biasa hingga berhasil membuat semua luka di tubuhnya tidak terasa lagi.
“Dia milikku. Aku rela melakukan apapun demi mendapatkannya lagi,” jawab Alex dengan keadaan semakin lemah.
“Kau sudah berada di dalam ruangan ini. Itu berarti selamanya kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini. Kecuali tubuhmu sudah tidak bernyawa lagi!” Walter memutar tubuhnya. Ia berjalan pergi bersama dengan beberapa anak buahnya. Ruangan itu dibiarkan gelap dan dingin. Pintu tertutup rapat dan di kunci untuk memastikan Alex tidak bisa kabur dari sana.
Di dalam ruang yang gelap, Alex menunduk dalam dengan tetes air mata yang terus saja jatuh di lantai. “Aku tidak pernah menangis ketika dulu papa selalu menekanku. Ketika dulu papa memukulku karena aku tidak mau melakukan yang di perintahkan. Aku tidak pernah menangis ketika papa meninggal. Aku tidak menangis melihat ibu kandungku masuk ke rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Bahkan aku sama sekali tidak peduli ketika Greta hilang dan sekarang tidak tahu entah ada di mana. Tetapi, kenapa sekarang aku menangis ketika mendengar kabar kalau Lara akan menikah dengan pria lain? Kenapa sesakit ini? Kenapa aku menangis?”
Alex memejamkan matanya lagi hingga kedua matanya semakin perih dan buliran air mata itu menetes semakin deras hingga membuat lantai yang ada di bawah kaki Alex basah. Air mata bercampur darah itu menandakan penyesalan yang begitu mendalam dari diri Alex Moritz.