Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 57. Resep Khusus


__ADS_3

Walter mengeryitkan dahinya mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Dokter Alfred. "Jatuh cinta?" ulang Walter dengan suara berbisik.


Sedangkan Fabio terlihat tidak terima. Pria itu marah ketika Alfred mengatakan kalau kini dirinya sedang jatuh cinta. "Apa yang kau katakan? Aku akan memecatmu menjadi dokter pribadiku jika cara bekerjamu seperti ini, Alfred!" ancam Fabio.


"Justru karena aku ini dokter yang profesional, jadi aku mau mengatakan yang sebenarnya di alami oleh pasienku. Kalau dokter lain pasti berbohong. Mereka tidak akan ada yang berani mengatakan kalimat seperti itu. Apa lagi mengatakannya di depan anda seperti ini." Alfred melipat kedua tangannya. "Tuan, apa anda tahu. Penyakit yang anda derita saat ini adalah penyakit yang sulit untuk di sembuhkan. Bahkan penyakit ini termasuk penyakit yang paling mematikan!" ucap Alfred dengan wajah yang semakin serius.


Fabio menaikan satu alisnya. "Hanya karena jatuh cinta seseorang bisa mati?" Fabio tertawa meledek. "Kau bercanda, Alfred!"


"Saya pernah menerima pasien yang cedera parah karena berusaha bunuh diri. Rata-rata alasan mereka bunuh diri karena cinta mereka di tolak. Pernah juga ada kasus bunuh diri karena diputusin. Ada juga yang depresi hanya karena cemburu. Bukankah itu berarti penyakit jatuh cinta adalah penyakit yang mematikan? Seseorang bisa jadi gila bahkan kehilangan akal sehatnya jika merasakan jatuh cinta. Tetapi, masih ada sisi positifnya. Jika anda di terima, anda pasti akan jauh lebih sehat. Bahkan tertembak saja tidak terasa lagi sakitnya. Hidupnya ini terasa lengkap. Tidak ada lagi ruang kosong di dalam hati. Serasa dunia ini hanya milik kita dan wanita yang kita cintai."


"Alfred, aku tidak bercanda! Aku akan menembakmu sekarang juga jika kau berani mengatakan omong kosong seperti itu lagi!" ancam Fabio dengan wajah tidak percaya. "Aku yakin, ada masalah di jantungku. Bukan karena aku sedang jatuh cinta. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta, selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita."


"Apa Nona Lara termasuk laki-laki?" tanya Walter yang hanya berani di dalam hati saja.


"Oke oke. Aku tidak akan bercanda lagi!" Alfred mengangkat kedua tangannya. Pria itu mengambil kertas dan pulpen untuk menulis sesuatu. "Aku akan membuat resep untuk mengobati penyakit yang kini anda rasakan Tuan. Saya yakin, resep ini pasti bisa menyembuhkan penyakit anda yang langkah itu," ujar Alfred dengan senyuman.


Fabio mulai terlihat tenang. Ia bersandar sambil menunggu Alfred selesai menulis resep obat yang nantinya akan ia minum. Fabio berharap besar pada resep yang ditulis Alfred. Pria itu tidak sanggup jika terus-menerus merasakan debaran jantung yang tidak karuan seperti ini. Bahkan pikirannya menjadi kacau jika debaran itu sampai datang. Ia berubah menjadi pria yang bodoh.


Walter sendiri hanya bisa diam tanpa kata. Alfred bukan hanya sekedar dokter di mata Fabio. Alfred adalah pria yang sangat di sayangi dan akan selalu dilindungi Fabio karena Alfred pernah menyelamatkan nyawa Fabio. Saat itu keadaannya sangat kritis.


Tidak ada satu dokter pun yang berani menyelamatkan nyawa Fabio karena mereka pikir jika Fabio selamat, nyawa mereka akan terancam. Berbeda dengan Alfred. Pria itu tidak memandang status Fabio. Walau saat itu Alfred tergolong dokter yang paling muda. Tetapi ia yang paling berani. Ia mengajak rekannya untuk menyelamatkan nyawa Fabio tanpa peduli resiko yang akan mereka dapatkan ketika Fabio sadar nanti.


Usaha yang dilakukan Alfred berhasil menyelamatkan nyawa Fabio. Walter yang datang setelah operasi usai, segera membawa Fabio pergi ke rumah sakit yang jauh lebih aman.

__ADS_1


Setelah Fabio sadar, pria itu mencari keberadaan Alfred. Bagi Fabio sangat mudah mencari keberadaan Alfred. Mereka saling kenalan dan menjadi sangat dekat sejak saat itu. Fabio berjanji akan menggaji Alfred setiap bulannya walau pria itu tidak melakukan apapun untuknya.


"Dok, apa ada obat untuk orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Walter penasaran. Karena di lihat dari ekspresi Alfred, pria itu seolah memang serius sedang menulis sebuah resep obat.


Mendengar pertanyaan Walter, Fabio melempar sebuah belati kecil ke arah Walter. Dengan cepat Walter menghindar hingga nyawanya selamat.


"Sekali lagi aku dengar kalimat jatuh cinta! Aku pastikan belati itu menancap di mulutmu, Walter!" ancam Fabio.


"Maafkan saya, Bos." Walter menunduk dan tidak berani ikut campur lagi. Sedangkan Alfred tengah asyik menulis resep di kertas.


"Oke, ini resepnya. Kau harus meminumnya tiga kali sehari." Alfred melipat kertas tersebut dan meletaknya di atas meja dekat posisinya duduk. Setelah itu ia merapikan barang-barang bawaannya ke dalam tas.


"Aku permisi dulu. Ada banyak pasien yang menungguku di rumah sakit!" pamit Alfred. Ia segera berjalan pergi dengan langkah yang terburu-buru.


Fabio mengambil kertas resep yang di tulis Alfred. Kedua mata pria itu melebar melihat tulisan demi tulisan yang ada di dalam kertas resep tersebut.



Ajak dia makan malam


Katakan padanya kalau kau mencintainya


Jika belum berhasil, kau harus mengulanginya dari awal. Lakukan sesering mungkin yang resep nomor 1 dan 2. Jika keadaan sudah membaik, lakukan yang nomor 3.

__ADS_1



Semoga cepat sembuh!


"ALFRED!" teriak Fabio.


Alfred segera berlari meninggalkan ruangan tersebut. Ia tertawa kencang mendengar teriakan Fabio. Semua sudah ia tebak. Maka dari itu Alfred segera pergi dari ruangan itu sebelum Fabio selesai membaca resep yang ia buat.


Walter yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam seperti orang bodoh. Ketika kertas resep itu di remaas hingga kusut oleh Fabio dan di lempar ke lantai, Walter baru berani mengambilnya dan membaca isi di dalamnya.


"Berani sekali dia! Sepertinya aku sudah terlalu baik padanya akhir-akhir ini!" umpat Fabio kesal.


Walter membaca satu persatu poin yang ada di dalam surat. Pria itu tersenyum setelah selesai membaca. Namun, karena tidak ingin mendapat amukan dari Fabio, ia berusaha mengatur ekspresi wajahnya.


Di depan ruangan, Alfred masih belum bisa menahan tawanya. Masih terbayang jelas bagaimana ekspresi Fabio ketika selesai membaca resep yang ia buat.


"Aku yakin, dia akan memotong gajiku bulan ini," ucap Alfred di dalam hati. "Aneh-aneh saja. Bagaimana mungkin aku menyembuhkan penyakit jatuh cinta. Apa dia pikir aku ini dokter cinta? Mungkin karena selama ini dia sangat cuek sama semua wanita. Jadi sekarang ketika ada yang cocok dia tidak sadar kalau sebenarnya sedang jatuh cinta. Tapi ...." Alfred menahan langkahnya. "Siapa wanita beruntung yang sudah berhasil masuk ke dalam hati Tuan Fabio? Bukankah hati pria itu sangat sulit di gapai?"


"Dokter, bagaimana keadaan Tuan Fabio? Apa Tuan Fabio baik-baik saja?"


Alfred memutar tubuhnya ketika mendengar suara seorang wanita sedang bertanya padanya. Ekspresi wajah pria itu tampak kaget ketika melihat sahabat terbaiknya yang selama ini ia cari keberadaanya kini berdiri di depan mata. Memang penampilannya jauh berbeda. Namun, Alfred pernah melihat foto Lara waktu masih kurus. Hal itu tidak menyulitkan Alfred menebak kalau wanita yang ada di depan matanya adalah Lara Alessandra. Lagian Lara itu hanya diet. Bukan operasi plastik. Untuk orang-orang yang sangat dekat dengan Lara pasti akan mengenalinya


"Lara? Apa benar kau adalah Lara Alessandra?"

__ADS_1


Lara juga terlihat kaget dan masih tidak percaya kalau sahabatnya itu kini bisa berdiri di depan matanya. Bibirnya tersenyum karena terlalu bahagia.


"Alfred?"


__ADS_2