
"Aku bersedia bertarung denganmu malam ini! Sebagai taruhannya ...." Fabio diam sejenak. "Yang menang akan memiliki Lara Alessandra."
"Kak Bi," lirih Lara.
Fabio memandang wajah Lara dengan tatapan tidak tega. Tetapi mau bagaimana lagi? Jika Fabio tidak menuruti apa yang diinginkan Alex, maka malam ini Lara bisa celaka. Fabio sudah sering merasakan luka di tubuhnya. Bahkan pria itu pernah sampai koma. Namun, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Lara yang mengalami luka tersebut.
Alex tersenyum puas. Pria itu merasa sangat yakin kalau malam ini ia pasti akan menang melawan Fabio dan bisa memiliki Lara seutuhnya. Berbeda dengan Fabio yang kini terlihat sedih ketika melihat wajah Lara yang berubah murung. Wanita itu sampai melepas genggaman tangannya di tangan Fabio karena merasa sangat kecewa.
"Maafkan aku Chubby ... aku harap kau mau mengerti, kenapa aku mengambil keputusan seperti ini," gumam Fabio di dalam hati.
"Sepertinya waktu terus berjalan. Aku mau sebelum matahari terbit, istriku sudah kembali ke sisiku," ujar Alex tidak sabar.
Fabio memandang wajah Walter yang juga terlihat sangat khawatir malam itu. "Jaga Lara. Jangan pernah pikirkan, apa yang akan terjadi padaku nanti. Pastikan Lara baik-baik saja. Jangan biarkan Lara berada dalam bahaya," perintah Fabio kepada Walter.
"Baik, Bos." Walter menunduk. Sebenarnya ia ingin sekali mengawasi Fabio. Biasanya pertarungan seperti ini akan selalu ada kecurangan. Jika Walter tidak benar-benar menyelidiki, ia tidak akan bisa menemukan letak kecurangan tersebut. Tetapi, kini Fabio memerintahkannya untuk menjaga Lara. Hingga pada akhirnya, Walter tidak bisa menjaga Fabio dari kejauhan.
Alex berjalan ke arah rerumputan yang lebih luas. Semua pasukan yang ia miliki juga mengikuti pria tersebut. Sedangkan Fabio, belum juga bergerak karena ia masih memandang wajah Lara yang kini tidak tahu sedang memikirkan apa.
"Bos, pertarungan akan segera di mulai," ucap seseorang memperingati.
Fabio segera melangkah menuju ke lokasi yang akan menjadi tempat pertarungannya dengan Alex. Pria itu tidak lagi memandang ke belakang untuk melihat wajah Lara.
"Kenapa harus seperti ini?" ujar Lara sambil berjongkok. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan dan sepertinya mulai menangis.
__ADS_1
"Nona, tenanglah. Bos Fabio pasti bisa memenangkan pertarungan malam ini. Bos Fabio tidak akan membiarkan Anda kembali pada Alex Moritz," bujuk Walter agar Lara tidak lagi khawatir.
"Ya, apapun itu. Tapi, berkelahi bukan sebuah solusi. Kenapa mereka harus berkelahi hanya untuk memperebutkanku?" protes Lara tidak terima. Wanita itu berdiri dan berjalan menuju ke lokasi pertarungan.
"Nona, jangan ke sana!" teriak Walter. Pria itu segera berlari mengejar Lara untuk mencegah wanita itu melangkah lebih jauh lagi.
Alex membuka pakaiannya yang memang sudah basah. Pria itu berdiri di tengah arena sambil menatap Fabio dengan sorot mata yang tajam. Fabio juga membuka jaket yang melekat di tubuhnya. Pria itu memandang Lara sekilas sebelum memandang ke depan.
Pasukan Alex berada di sisi kanan. Sedangkan Fabio berada di sisi kiri. Mereka semua membentuk lingkaran hingga mengepung arena pertarungan. Lara yang ingin muncul di tengah-tengah harus mengurungkan niatnya ketika Walter berhasil menggenggam tangannya.
"Nona, tenanglah," bujuk Walter lagi.
"Aku tidak akan membiarkan Kak Bi bertarung," protes Lara sambil berusaha melepas genggaman tangan Walter. "Bagaimana kalau Kak Bi kalah?"
"Percaya diri sekali kalian." Lara menghempaskan tangan Walter dan melipat kedua tangannya di depan perut.
"Nona, memang seperti ini rencananya," bisik Walter lagi.
Lara memandang Walter dengan alis saling bertaut. "Apa maksudmu? Rencana? Rencana seperti apa?"
Walter memandang kerumunan di depannya sebelum memandang wajah Lara lagi. "Nona, ayo kita kabur dari tempat ini. Jika ada celah, Bos Fabio juga akan kabur meninggalkan tempat ini. Setidaknya Alex Moritz tidak akan sadar kalau anda kabur bersama saya."
"Apa?"
__ADS_1
Di arena pertarungan, Alex memulai pertandingan dengan cara menghajar wajah Fabio. Walau memang pukulan pertama Alex berhasil mendarat di rahang Fabio, tetapi itu tidak menjamin kalau Fabio akan kalah. Justru Fabio sengaja melakukan semua itu agar ia tahu seberapa kuatnya Alex Moritz.
"Lumayan," ujar Fabio sambil membersihkan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Ketika Alex ingin menendang bagian perut Fabio dengan kaki, dengan cepat Fabio menahan gerakan pria itu. Fabio memelintir kaki Alex dan segera melayangkan tendangan di wajah Alex. Sungguh sakitnya luar biasa. Jika Alex berhasil memukul wajah Fabio dengan tangan. Kini Fabio justru berhasil memukul wajah Alex dengan kaki. Ujung sepatunya yang keras berhasil membuat kulit di bagian dahi Alex terluka.
"Aku tidak suka menyiksa orang. Kau yang memulai semua ini! Jadi, rasakan akibatnya!" ujar Fabio. Ia segera menghajar Alex dengan pukulan bertubi-tubi. Alex yang tidak mau kalah juga segera membalas pukulan Fabio.
Kali ini Alex mendapat kesempatan untuk menendang kaki Fabio hingga membuat Fabio jatuh di rerumputan. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Alex begitu saja. Ia segera menindih tubuh Fabio dan menghajar pria itu dengan tangan.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa Lara pergi! Lara Milikku!"
Alex tiba-tiba saja menggenggam sebuah belati. Seperti yang ditakutkan oleh Walter. Setiap pertarungan pasti ada kecurangan. Semua pasukan milik Fabio mengangkat senjata mereka ketika melihat Alex berbuat curang. Namun, pasukan Alex juga tidak mau kalah. Mereka segera mengangkat senjata mereka untuk memperingati pasukan Fabio agar tidak ikut campur.
Fabio melirik belati yang ada di tangan Alex sebelum menatap wajah pria itu dengan bibir tersenyum tipis. "Bukankah kau sangat ahli dalam menggunakan belati? Kenapa tidak kita coba, seberapa kuat kulitmu ketika belati yang kau punya menusuk tubuhmu sendiri?"
Fabio segera mendorong tubuh Alex dengan sekuat tenaga. Satu tangannya memegang tangan Alex yang memegang belati. Mereka berdua berguling di rerumputan untuk memperebutkan belati tersebut. Salah satu dari mereka harus bisa memenangkan pertarungan malam ini. Fabio berusaha keras membuat belati itu berada di dalam kendalinya. Tenaga Alex bukan hal yang bisa di anggap remeh.
Alex berusaha menendang Fabio. Tetapi ketika ia ingin melakukan semua itu, tiba-tiba mereka mendengar suara tembakan. Fabio dan Alex saling memandang dengan tatapan yang tidak terbaca.
**Bukan di sengaja update sedikit. Tapi memang waktunya itu gak sempat reader. Buat reader lama pasti tahu, bagaimana kehidupan saya di dunia nyata. Saya punya balita 5 tahun dan baby yang masih 4 bulan. Bagi waktu di bulan puasa itu berat. Mohon pengertiannya ya. Pasti update banyak kok kalau waktunya memungkinkan. Tetapi, kalau tidak bisa mau bagaimana lagi? Apa lagi masuk part action. Author suka crazy up biasanya. Tetapi memang selama bulan puasa gak bisa. Bangun sahur dan segala macamnya terasa melelahkan 😅 tuh kan curhat. Yda, intinya kita akan tetap lanjutkan cerita ini walau di bulan puasa.
Oke di bawah ini rekomendasi cerita teman author ya. Semoga suka.❤️**
__ADS_1