
Lara mengotak-ngatik ponselnya sambil menunggu Hana tiba. Ia sudah tidak sabar minat ekspresi wanita itu ketika melihat penampilannya yang sekarang. Tadinya Lara pikir ia bisa bertemu dengan Hana sesegera mungkin. Namun, sayangnya. Hana lagi tidak ada di rumah. Wanita izin keluar karena ingin membeli sesuatu.
"Kak Lara, kalau Greta boleh tahu. Kenapa kakak mau bertemu dengan Hana? Sampai rela nungguin lagi," tanya Greta penasaran.
Lara menghela napas. "Tidak ada. Hanya ingin tahu saja, bagaimana kabarnya sekarang," jawab Lara masih dengan ekspresi jutek.
Greta berusaha sabar. Walau sulit, ia akan berjuang agar bisa dekat lagi dengan kakak iparnya. "Kak Lara tinggal di mana selama ini? Apa Kak Lara sudah kerja?"
Lara memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia membalas tatapan Greta dengan ekspresi yang tidak terbaca. Hal itu membuat Greta menjadi bingung harus bagaimana sekarang.
"Greta, apa aku boleh pinjam kamar mandinya?" pinta Lara.
"Tentu saja boleh kak. Kalau kakak mau istirahat, kakak bisa masuk ke kamar Kak Alex."
"Tidak perlu!" ketus Lara. Ia segera melangkah ke toilet yang letaknya juga di lantai satu.
Greta terlihat sedih. Ekspresi Lara terlihat tidak suka. Padahal sejak tadi ia sudah berbicara lembut dan bersikap sopan kepada Lara. "Apa Kak Lara gak mau maafin kesalahanku lagi?" gumam Greta di dalam hati.
Ternyata Lara tidak ke toilet. Wanita itu melangkah ke arah dapur. Di sana ada lorong yang akan menghubungkannya dengan kamar para pekerja. lAra tahu dimana letak kamar Hana. Tidak tahu kenapa, ia ingin sekali masuk ke kamar pelayan munafik itu dan memeriksa isi kamarnya.
Lara berhenti di depan kamar bertuliskan nama Hana. Senyum tipis terukir di wajah Lara. Namun, ketika Lara ingin masuk tiba-tiba seorang wanita memergokinya.
"Nona, apa yang anda lakukan?"
__ADS_1
Lara mengurungkan niatnya. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang pelayan wanita yang baru saja memergokinya. "Saya ingin bertemu dengan Hana."
"Anda mencari saya Nona?"
Tiba-tiba saja Hana muncul. Wanita itu meletakkan barang belanjaannya sebelum berdiri di depan Lara. Ia sama sekali tidak mengenali Lara. Hana berpikir kalau wanita cantik dan seksi itu adalah teman Greta yang kini sedang berkunjung ke rumah.
"Saya permisi dulu Nona." Pelayan yang tadi memergoki Lara pergi. Wanita itu tidak mau ikut campur dengan urusan Hana dan wanita yang menurutnya sangat asing.
"Ternyata kau masih sama seperti dulu. Jelek dan tidak menarik. Terlihat jelas kalau kau ini mata duitan dan pemalas!" ledek Lara dengan tawa tertahan.
Hana merasa sakit hati. Ingin sekali ia membalas perbuatan wanita di depannya, namun ia takut dapat masalah.
"Nona, apa maksud Anda? kita tidak saling kenal, kenapa anda menghina saya seperti ini?"
Hana menunduk. Ia berusaha sabar. "Maafkan saya Nona. Jika saya memiliki salah dengan anda, saya mohon maaf."
"Tidak perlu! Aku akan puas jika kau pergi dari rumah ini! Aku ingin lihat, apa kau bisa mendapat pekerjaan yang baru setelah keluar dari rumah ini."
Kali ini Hana tidak mau tinggal diam. Ia justru menatap wajah Lara dengan tatapan menantang. "Maaf, Nona. Anda sudah keterlaluan. Saya tahu kalau saya ini hanya pelayan. Tetapi anda-"
"Apa tadi kau bilang? Pelayan?" potong Lara sebelum Hana menyelesaikan kalimatnya. "Kau tidak pantas disebut sebagai pelayan. Kau lebih cocok di panggil, wanita munafik! Profesi pelayan terlalu berharga untuk wanita sepertimu!"
"Nona, anda siapa? Kita tidak saling kenal. Kenapa anda menghina saya seperti ini? Saya tahu kalau anda cantik dan berkelas. Tetapi anda-"
__ADS_1
"Cantik dan berkelas?" Lagi-lagi Lara memotong ucapan Hana ketika wanita itu belum selesai bicara. "Kau mau tahu siapa saya?" Lara menunjuk dirinya sendiri.
"Percuma saja anda memperkenalkan diri. Saya juga tahu kalau anda adalah teman Nona Greta. Yang mau saya ketahui, anda ada masalah apa dengan saya? Ini pertemuan pertama kita!"
"Ini bukan pertemuan pertama kita," sahut Lara. "Saya adalah Lara! Lara Alessandra. Wanita kingkong yang pernah kau hina. Wanita berbadan besar yang saat itu kau tipu habis-habisan!"
Deg. Hana mematung. Jika bisa pingsan, mungkin dia akan pingsan setelah mendengar penjelasan Lara.
"Tidak mungkin," ucap Hana dengan suara pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Tidak mungkin kau bilang?" Lara berjalan mendekat. Hal itu membuat Hana memilih untuk melangkah mundur. "Aku sudah kembali, Hana. Di rumah ini tidak ada yang di pihak Fiona lagi. Semua telah ada dipihakku. Jadi, aku sarankan agar kau pergi sendiri dari rumah ini. Karena jika kau bersih keras untuk bertahan, kau akan menyesal!" ancam Lara dengan tatapan menikam. Hal itu berhasil membuat Hana ketakutan.
Tiba-tiba saja Hana berlutut di depan Lara. Wanita itu menunduk dengan wajah bersalah. Tetes air mata mulai melengkapi permintaan maafnya. "Saya menyesal, Nona. Maafkan saya," lirih Hana.
Tetapi, Lara ada di rumah itu untuk balas dendam. Bukan untuk memaafkan kesalahan orang-orang buang pernah menyakitinya. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu, Hana. Sekali berkhianat, selamanya kau akan menjadi penghianat!"
"Tidak, Nona. Maafkan saya." Hana memeluk kaki Lara. Hal itu membuat Lara kesal dan mendorong tubuh Hana dengan tangan.
"Berhenti mengemis maaf dariku. Pergi dari rumah ini sekarang juga. Atau aku akan membuat kau menyesal Hana. Aku bukan lagi Lara yang dulu kau kenal. Kini aku memiliki segalanya. Aku yang sekarang, bisa melakukan hal apapun yang aku inginkan. Termasuk merenggut satu-satunya nyawa yang kau miliki!" Sorot mata Lara yang semakin tajam membuat Hana ketakutan. Ia tidak mau sampai di bunuh. Bagaimanapun juga, penghinaan yang pernah ia berikan kepada Lara dulu sungguh mengerikan. Hana kini tidak tahu harus bagaimana lagi agar Lara mau memaafkannya. Satu-satunya cara yang di ambil Hana adalah keluar dari rumah itu dan datang ke rumah Fiona. Ia berharap kalau Fiona mau menerimanya dan memberikannya pekerjaan yang baru.
"Baik, Nona. Saya akan pergi. Tapi tolong, lepaskan saya."
Lara menaikan satu alisnya. "Baiklah!" jawab Lara dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1