
Lara syok berat. Wajah dan gaunnya basah. Bukan hanya itu saja. Air yang di lempar Fiona membasahi ponsel milik Fabio yang tergeletak di atas meja. Sesegera mungkin Lara berdiri. Tentu ia tidak tinggal diam saja melihat apa yang sudah dilakukan Fiona terhadap dirinya.
“Apa yang kau lakukan Fiona?”
“Itu belum seberapa!” ketus Fiona. Ia segera mengangkat tangannya ingin melayangkan tamparan keras di wajah Lara.
Namun, dalam hitungan detik saja tangan kurusnya itu sudah berada di dalam genggaman Fabio. Fiona menatap wajah Fabio dengan wajah dipenuhi emosi.
“Lepaskan saya!” pinta Fiona. Tetapi Fabio tidak bergeming. Pria itu justru menatap wajah Fiona dengan tatapan menikam. Genggamannya semakin kuat hingga membuat rasa sakit yang luar biasa.
“Au, sakit. Lepaskan!” lirih Fiona.
Fabio menghempaskan tangan Fiona hingga wanita itu melangkah mundur. Jika saja ia tidak berhasil menjaga keseimbangannya, mungkin dia sudah jatuh terduduk dan menjadi bahan tawa semua orang.
“Fiona, kau benar-benar keterlaluan. Kenapa kau selalu saja menggangguku?”
“Aku tidak pernah mengganggumu! Kau yang datang lebih dulu dan menghancurkan kebahagianku!” balas Fiona.
“Ini soal Kak Alex? Apa dia datang dan memutuskan hubungan di antara kalian?” ledek Lara. “Karena tidak terima, jadi kau ada di sini untuk menyalahkanku?”
“Sudah ku duga. Ternyata kau yang memaksa Alex melakukan semua ini.”
“Aku tidak perlu memaksanya. Dia sendiri yang memutuskannya!” tegas Lara.
Fiona memandang wajah Fabio. “Tapi, tidak lama lagi Alex akan kembali padaku. Aku akan beri tahu Alex kalau wanita yang ia puja ini telah selingkuh di belakangnya,” ancam Fiona. Ia memfoto Lara dan Fabio. Wanita itu merasa puas karena sudah mendapatkan bukti untuk menyudutkan Lara di depan Alex.
Fabio menghela napas. Perdebatan dua wanita di depannya sangat membosankan. Suasana yang tadinya ia pikir bisa mengurangi beban pikiran kini justru membuat pikirannya semakin gak karuan. Fabio memanggil penjaga restoran tanpa sepengetahuan Lara dan Fiona.
“Kau pikir aku takut dengan ancaman murahanmu ini?” tantang Lara gantian. “Fiona, kau seharusnya tahu satu hal. Sekuat apapun kau membandingkan dirimu dengan diriku, tetap saja kau tidak bisa menemukan kesamaannya. Karena apa? Karena barang bekas akan selamanya menjadi barang bekas. Apa lagi kalau barang bekas yang sudah di pakai berulang kali. Tentu saja tidak ada yang tertarik untuk memakainya.”
“Apa maksudmu, Lara?”
“Fiona, apa kau pikir aku tidak tahu kalau selain menjalin hubungan dengan Kak Alex, kau juga menjalin hubungan dengan Bram? Oh ya, kau pasti bertanya padaku. Kenapa aku kenal dengan Bram. Karena Bram adalah supir di tempatku yang baru. Jadi, aku bisa dengan mudah mengaturnya. Termasuk memintanya untuk meninggalkan wanita sepertimu!”
Fiona semakin emosi. Ia lagi-lagi ingin memberi pelajaran kepada Lara. Namun, dengan cepat penjaga restoran muncul. Mereka memegang tangan Fiona dan menyeret wanita itu pergi.
“Lepaskan aku!” berontak Fiona. Ia menatap wajah Lara dengan sejuta kebencian. “Lara, aku tidak akan kalah. Aku pasti akan membalas perbuatanmu!”
“Di tunggu,” jawab Lara dengan senyuman.
__ADS_1
Fabio membuang pandangannya ke arah lain. Kini nafsu makannya sudah hilang. Pria itu tidak mau melanjutkan makan malamnya dengan Lara. Lara yang mulai sadar kalau Fabio tidak lagi nyaman hanya bisa menunduk dengan wajah bersalah.
“Kak Bi, maaf.”
“Lara, supir akan mengantarkanmu pulang. Aku harus pergi. Ada urusan yang ingin aku selesaikan.” Fabio segera pergi sebelum Lara menjawab. Pria itu melangkah cepat meninggalkan restoran.
“Apa Kak Bi marah?” gumam Lara. Ia memutuskan untuk ke toilet lebih dulu sebelum pulang.
Di depan restoran, pengawal restoran itu melempar Fiona dengan kasar. Tidak hanya itu saja, mereka juga merebut paksa ponsel yang ada di tangan Fiona dan tas milik wanita itu.
“Kembalikan ponselku!” teriak Fiona.
Dua pria itu saling memandang sebelum menghancurkan ponsel milik Fiona.
“Kenapa kalian menghancurkan ponselku!” umpat Fiona kesal. Hanya di situ satu-satunya barang bukti yang ia miliki. Hati Fiona hancur sehancur hancurnya ketika melihat barang bukti yang bisa membuat Alex percaya kini sudah tiada.
“Nona, sebaiknya anda pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi!”
Dari kejauhan, Fabio melihat kejadian itu dengan wajah yang tenang. Pria itu masuk ke dalam mobil setelah apa yang dia perintahkan dilaksanakan oleh bawahannya. Restoran yang kini di kunjungi Lara dan Fabio adalah restoran milik Fabio. Tentu saja pria itu bisa melakukan apapun di sana. Semua orang yang bekerja juga mendapat gaji darinya.
Lara membersihkan wajahnya dengan air. Saat bersentuhan dengan air, wajahnya kembali segar. Lara kembali membayangkan perdebatannya dengan Fiona. Ancaman demi ancaman yang keluar dari mulut Fiona membuatnya takut. Padahal sekarang ia memiliki Fabio. Namun, Lara takut Fabio akan ikut masuk ke dalam masalah yang kini ia hadapi.
“Kak Bi pasti marah. Konglomerat seperti Kak Bi, pasti tidak suka melihat keributan seperti tadi. Apa dia marah padaku?” Lara memejamkan mata dan mengatur napasnya. Saat kedua matanya kembali terbuka, Lara kembali ingat dengan foto yang di ambil Fiona tadi. “Foto itu. Bagaimana reaksi Kak Alex ketika melihatnya nanti?”
Setelah membuat keributan di restoran, Fiona datang ke rumah utama keluarga Moritz. Dengan cepat Fiona masuk ke dalam rumah tersebut. Wanitu itu bersikap seolah rumah yang ia masuki ini adalah rumah miliknya. Tanpa izin dari pemilik rumah, Fiona masuk dan menuju ke kamar Alex.
“Kak Fiona, kok datang gak bilang-bilang?” sapa Greta yang baru saja keluar dari kamar Ny. Moritz.
“Di mana Alex?” ketus Fiona.
“Kak Alex ada di atas,” jawab Greta. Tanpa mau berdebat lagi, Fiona segera naik ke atas untuk menemui Alex di kamar.
“Kak Fiona mau ke mana?” tanya Greta. Namun, karena Fiona terlihat tidak peduli padanya Greta memutuskan diam. “Ternyata seperti ini sifat asli Kak Fiona,” gumam Greta di dalam hati.
Fiona menjejaki anak tangga dengan cepat. Setelah tiba di atas, ia segera melangkah menuju ke kamar pribadi Alex. Wanita itu mengetuk pintu kamar dengan ketukan yang cepat.
“Alex, keluarlah!”
Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Alex berdiri di depan pintu dan memandang Fiona dengan ekspresi tidak terbaca.
__ADS_1
“Alex,” lirih Fiona. Ia segera memeluk Alex dan menangis terisak-isak. “Tadi saat aku ingin membeli makanan di restoran favorit kita, aku bertemu dengan Lara. Apa kau tahu apa yang dia lakukan di sana? Dia datang bersama dengan seorang pria. Mereka terlihat sangat mesra. Sepertinya mereka pacaran. Ketika aku menyapa Lara dan memperingatinya untuk tidak terlalu dekat dengan pria itu, dia mala menampar wajahku.”
“Benarkah?” tanya Alex.
Fiona menggangguk. Ia melepas pelukannya dan menatap wajah Alex sambil menghapus air mata yang membasahi pipi. “Sepertinya dia hanya ingin mempermainkanmu saja. Kau harus hati-hati, Alex.”
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Alex. Ekspresi pria itu terlihat tidak bersahabat. Melihat wajah Fiona saja seperti tidak niat.
“Apa maksudmu?”
Alex menyunggingkan senyuman tipis. “Kau sengaja mengarang cerita seperti ini agar aku kembali padamu dan meninggalkan Lara bukan? Kau ingin aku mengakui anak yang ada di dalam kandunganmu? Padahal yang sebenarnya, anak itu bukan anakku. Tapi anak dari selingkuhanmu!”
Fiona membatu. Ia tidak menyangka akan sesial ini. “Ini anakmu.”
“Bahkan kau masih memiliki keberanian untuk mengatakan anak ini adalah anakku. Apa kau pikir aku ini pria yang bodoh?”
“Alex, aku tidak berbohong. Anak ini benar anakmu!” ucap Fiona membela diri.
Alex memutar tubuhnya dan masuk ke dalam. Pria itu mengambil ponsel miliknya ingin menunjukkan sesuatu. Setelah ponsel itu ada di genggamannya, Alex kembali ke depan kamar.
“Apa kau bisa jelaskan video ini?” Alex memutar rekaman yang dikirim oleh Hana. Pria itu terlihat marah karena wanita yang selama ini ia anggap sebagai wanita yang sempurna ternyata telah berani selingkuh dibelakangnya.
Fiona menggeleng tidak percaya. “Dari mana kau dapat video itu?”
“Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapat video ini, Fiona.” Alex memasukkan ponselnya ke saku. “Aku tidak menyangka kalau ternyata kau semurahan itu! Aku menyesal karena sudah pernah mencintaimu, Fiona! Ternyata apa yang selama ini dikatakan papa benar. Kau tidak pantas menjadi istriku! Kau wanita murahan, Fiona!"
Fiona memegang tangan Alex dengan wajah memohon. “Alex, dengarkan dulu penjelasanku. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan.”
Alex menghempaskan tangan Fiona hingga genggaman wanita itu terlepas. “Pergi dari sini atau aku akan meminta security untuk mengusirmu!”
“Alex, aku mohon.” Fiona memegang kedua kaki Alex. Ia menangis tersedu-seduh agar Alex mau memaafkannya. “Maafkan aku. Aku janji akan berubah.”
“SECURITY!” teriak Alex.
Tidak lama setelah Alex berteriak, dua pria berbadan kekar naik ke lantai atas. Mereka segera menarik paksa Fiona agar mau keluar dari kamar itu.
“Alex, maafkan aku. Aku mohon!” lirih Fiona lagi.
Melihat Fiona diperlakukan seperti itu, Alex sama sekali tidak peduli. Pria itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Di lantai bawah. Greta mengeryitkan dahi melihat Fiona di seret paksa oleh security yang ada di rumahnya. Namun, ia juga tidak mau membantu Fiona, Greta justru memilih untuk bersembunyi di dapur agar Fiona tidak berteriak dan meminta bantuannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kak Alex bisa sampai mengusir Kak Fiona? Bukankah Kak Alex cinta mati sama Kak Fiona?” gumam Greta di dalam hati.