Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 40. Rayuan Alex


__ADS_3

Lara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama enam bulan ini, Lara bukan hanya fokus menurunkan berat badan saja. Tetapi Lara sudah belajar banyak hal. Dari mulai cara mengemudikan mobil dan motor, cara jalan, cara makan, cara bicara. Bahkan sampai cara duduk saja dia pelajari.


Lara ingin menjadi wanita yang sempurna. Ia ingin membuat Alex bertekuk lutut di kakinya setelah melihat kesempurnaan yang ia miliki. Setelah semua rencananya berhasil, Lara akan kembali ke dirinya.


Ya, semua ini ia lakukan hanya untuk balas dendam. Sejujurnya Lara sangat tersiksa dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia harus menahan selera ketika ingin makan donat, pizza dan beberapa makanan favoritnya.


Tidur tepat waktu agar kulitnya sehat. Meminum vitamin setiap harinya. Memakan sayur, buah dan daging setiap harinya. Semua itu sangat membosankan. Lara juga lelah menjadi wanita perfect seperti sekarang. Ia ingin seperti dulu lagi. Bicara sesukanya. Tertawa sesukanya. Bahkan bertingkah sesukanya.


Lara melirik ke spion. Wanita itu tersenyum melihat mobil Alex kini ada di belakangnya. Memang itu rencana Lara. Ia sangat yakin, Alex pasti penasaran dan ingin tahu dimana ia tinggal.


"Baiklah. Rencana selanjutnya akan di mulai," ucap Lara dengan wajah bahagia.


Lara menambah laju mobilnya dan menuju ke pusat kota. Wanita itu tidak akan membawa Alex menuju ke mansion Fabio. Lara tidak mau melibatkan pria itu dalam aksi balas dendamnya.


Lara akan membawa Alex menuju ke apartemen yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Apartemen itu sebenarnya milik Fabio. Lara meminjam apartemen itu untuk dijadikan tempat tinggal sementara sampai aksi balas dendamnya berhasil.


Ketika tiba di parkiran, Lara bertahan di mobil hingga beberapa saat. Ia ingin memastikan lagi kalau Alex juga ada di parkiran yang tidak jauh dari posisinya memberhentikan mobil. Sambil menunggu mobil Alex muncul, Lara kepikiran dengan obrolannya dengan Fabio beberapa jam yang lalu.


"Baiklah. Kalau boleh Kak Bi tahu, apa nanti malam Chubby sibuk?"


"Gak, Kak. Hari ini memang Lara ingin datang ke rumah utama keluarga Moritz. Setelah itu, Lara akan pulang ke apartemen yang pernah Lara bilang sama kakak."


"Chubby gak tinggal di sini lagi?" Fabio terlihat tidak suka ketika mendengar kabar kalau Lara akan menetap di apartemen.


"Kak, Lara gak mau orang-orang yang menyakiti Lara tahu kalau Lara tinggal di mansion ini. Lara gak mau menyusahkan Kak Bi."


"Itu bukan alasan," bantah Fabio. Pria itu berdiri dan berjalan ke jendela. Satu tangannya di masukkan di dalam saku. Tiba-tiba saja ekspresi yang tadinya terlihat bersahabat kini sudah berubah menjadi ekspresi dingin yang menakutkan. "Aku tidak takut siapapun! Selama dia masih manusia," sambung Fabio.


Lara diam sejenak. "Bagaimana ini? Sepertinya Kak Bi marah."

__ADS_1


"Tetapi, aku tidak suka memaksa. Jika kau lebih nyaman tinggal di apartemen, kau boleh tinggal di sana," ucap Fabio lagi. Beberapa detik berpikir, Fabio menjadi sadar. Antara mereka tidak ada hubungan apapun. Ia tidak punya hak untuk melarang apa yang ingin dilakukan Lara.


"Kak Bi marah sama Lara?" Lara berdiri. Ia berjalan mendekati Fabio. Sebenarnya ada rasa takut. Mengingat hubungan mereka tidak terlalu dekat selama ini. Jarang bertemu apa lagi ngobrol.


"Bukankah aku sudah bilang. Aku tidak suka memaksa orang lain. Apa lagi seorang wanita!"


"Kak, Lara tahu. Kak Bi pria yang baik. Kak Bi ingin Lara baik-baik saja. Tapi, Lara juga butuh privasi agar rencana yang sudah Lara susun berhasil. Lara harap Kak Bi mengerti posisi Lara sekarang."


"Baiklah." Fabio memutar tubuhnya. "Jika nanti malam Chubby gak sibuk. Kak Bi, mau ajak Chubby makan malam di luar."


Lara tersenyum manis. "Terima kasih, Kak Bi."


...***...



Lara berdiri di samping mobil dan memandang Alex dengan wajah tidak percaya. Tadinya ia pikir Alex akan diam-diam mengikutinya. Tetapi kini justru pria itu terlihat sengaja memperlihatkan kehadirannya di depan Lara.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alex. "Aku khawatir ketika melihatmu diam di mobil seperti tadi," sambung Alex.


Lara tersentuh. Dia memang masih memiliki rasa cinta kepada Alex. Pria itu cinta pertamanya. Namun, setiap kali rasa cinta itu kembali muncul ke permukaan, Lara memilih untuk mengingat perlakuan jahat yang sudah diberikan Alex kepada dirinya.


"Kepalaku sedikit pusing." Lara memegang kepalanya dan berakting seperti orang sakit.


"Mana yang sakit?" Tanpa permisi Alex segera memegang kedua lengan Lara dan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh. "Apa kau tinggal di apartemen ini?"


Lara mengangguk. "Di lantai 25."


Alex segera mengangkat tubuh langsing Lara ke gendongannya. Pria itu bahkan terlihat sangat percaya diri kalau Lara pasti akan bahagia mendapat perlakuan lembut darinya.

__ADS_1


"Jangan protes. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa," ucap Alex sebelum melangkah. Lara membisu ketika kini tubuhnya ada di dalam gendongan Alex.


"Sekarang harus bagaimana? Ini tidak masuk ke dalam rencanaku," gumam Lara di dalam hati.


Alex membawa Lara ke dalam lift. Pria itu menekan lantai nomor 25 sebelum memandang wajah cantik Lara.


"Sempurna. Sekarang Lara sangat cantik. Di lihat semakin dekat semakin sempurna. Aku tidak akan membiarkannya lepas. Apapun caranya, Lara harus menjadi milikku!" gumam Alex di dalam hati.


"Kak, Lara bisa jalan sendiri," pinta Lara.


"No! Kau lagi sakit, Lara. Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Kalau aku berbuat yang aneh-aneh, bukannya itu sah-sah saja? Aku masih resmi menjadi suamimu, Lara. Dan kau adalah istri sah ku."


"Kak Alex, turunkan Lara atau Lara teriak!" ancam Lara mulai takut.


Alex menghela napas kasar. Ia segera menurunkan Lara hingga berdiri di hadapannya.


"Maafkan aku, Lara. Aku akui aku memang salah selama ini. Aku janji akan meninggalkan Fiona jika kau berjanji untuk kembali padaku."


"Maaf, Kak. Tapi Lara masih trauma. Lara takut sakit hati lagi."


Pintu lift terbuka. Lara segera keluar. Alex mengejar Lara dan memegang pergelangan tangan wanita itu. "Lara, sebenarnya aku cinta padamu!"


Lara diam mematung. Ungkapan hati Alex membuat pertahanannya hampir goyah. Kalimat seperti ini adalah kalimat yang paling di nanti Lara selama ia menikah dengan Alex.


"Maafkan aku. Aku akui aku salah." Alex menarik tangan Lara hingga posisi mereka saling berhadapan. "Please, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji akan berubah. Aku janji akan menjadi suami yang setia, Lara."


"Kak Alex janji akan berubah?" tanya Lara dengan suara pelan.


Alex mengangguk. "Ya. Kita mulai semua dari awal lagi ya?"

__ADS_1


__ADS_2