Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 68. Salah Sangka


__ADS_3

Lara segera membuka handle pintu untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Ia berlari kecil menuju ke sumber suara. Suara rintihan itu menggema hingga memenuhi ruangan yang sunyi tesebut. Lara menarik lagi sebuah pintu yang menghubungkannya dengan tangga ke bawah. Lara tidak lagi takut dengan apapun. Ia hanya ingin memastikan kalau pria yang berteriak itu Alex atau bukan.


"Kak Alex!" Lara menarik pintu tersebut. Ia melihat Fabio dan Walter berdiri di sana. Cahayanya temaram. Lara tidak bisa melihat dengan jelas sosok pria yang kini sedang ada di tengah sana. Di tambah lagi pria itu baru saja terjatuh karena tidak sanggup menahan siksa.


Fabio memandang wajah Lara dengan tatapan tidak terbaca. Walau ia memiliki perasaan khusus kepada Lara. Tetap saja ia tidak mentolerir orang yang sudah lancang masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Padahal sudah jelas-jelas Fabio meminta Lara untuk tidak masuk ke areal terlarang itu sejak enam bulan yang lalu.


Walter memandang wajah Fabio yang terlihat menahan emosi sebelum berjalan mendekati Lara. Ia harus bisa mencairkan suasana agar bisa tidak ada salah paham antara Lara dan Fabio.


"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" Walter merendahkan nada bicaranya.


"Apa benar kau sudah menangkap Kak Alex dan membawanya ke tempat ini, Walter?" tanya Lara dengan suara serak. Ada rasa takut namun ia juga tidak mau Greta sedih. Ya semua hanya demi Greta. Bukan karena Lara masih mencintai Alex.


"Tinggalkan tempat ini, sekarang!" perintah Fabio dengan wajah menahan amarah. Jika wanita itu bukan Lara, entah apa yang sudah ia lakukan untuk mengusirnya pergi.


"Nona, pergilah. Ini bukan tempat anda," bujuk Walter. Ia harus mengalah dan berjuang merayu Lara. Fabio akan semakin marah jika Lara tidak juga pergi dari sana.


"Gak! Aku harus memastikan. Apa benar pria itu adalah Kak Alex!" bantah Lara. Ia melangkah maju untuk memeriksa pria yang kini terkapar di lantai dalam posisi tengkurap. Bau darah begitu amis hingga membuat Lara merasa ingin muntah.


"PERGI DARI SINI, LARA! teriak Fabio hingga membuat Lara syok. Suara pria itu sangat kuat hingga memenuhi seisi ruangan.


Lara berhenti. Kini posisinya ia berada di depan Fabio. Menatap wajah pria itu dengan ekspresi seolah sedang menantang.


"Maaf, Tuan. Tapi saya ingin tahu, apa benar pria ini Kak Alex."

__ADS_1


"Nona, ini bukan urusan anda," jawab Walter. Pria itu mendekati Lara untuk membujuk wanita itu agar tidak terus menerus menantang Fabio. Emosi Fabio lagi gak stabil. Walter tidak mau Fabio semakin marah dan mencelakai Lara.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku memastikan sendiri pria ini Kak Alex atau bukan!" jawab Lara dengan suara yang tinggi.


Fabio mengepal tangannya dengan begitu kuat hingga memutih. Rahangnya mengeras. Rasa marah dan cemburu melebur menjadi satu hingga menimbulkan satu rasa yang Fabio sendiri tidak tahu apa. Ia tidak sanggup berlama-lama menatap wajah Lara.


"Kau masih mencintainya?" tanya Fabio dengan hati yang berjuang untuk sabar.


Lara diam membisu. Ia memandang pria yang tergeletak di lantai itu sebelum memandang wajah Fabio lagi.


"Aku hanya ingin memastikan wajah pria ini!" jawab Lara.


"Tunjukkan padanya, siapa pria ini Walter!" perintah Fabio.


"Baik, Bos." Walter mendekati pria tersebut dan segera membalikkan tubuhnya. Ketika pria itu berbaring, Lara menutup wajahnya dengan tangan. Wajah pria itu sangat mengerikan hingga membuat Lara ingin muntah. Baginya itu seperti sebuah mimpi buruk. Pria itu juga bukan Alex.


"Kak Bi ...." teriak Lara. Tetapi Fabio tidak bergeming. Pria itu pergi begitu saja tanpa peduli dengan teriakan Lara. Lara menggenggam gaun yang ia kenakan dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa hatiku terasa sakit ketika Kak Bi bersikap seperti ini padaku?" gumam Lara di dalam hati.


"Nona, apa yang membuat anda tiba-tiba masuk ke ruangan ini? Pria ini adalah penghianat yang sudah membuat pria di hotel tadi tewas. Ini hukuman yang setimpal untuknya," jelas Walter apa adanya.


"Maafkan saya," ucap Lara sebelum berlari meninggalkan ruangan itu.


Walter menghela napas panjang. "Masalah apa lagi sekarang? Belum juga aku berhasil menjodohkan mereka kini mereka sudah bertengkar!" gumam Walter di dalam hati.

__ADS_1


Lara naik ke atas dan terjatuh di lantai yang ada di depan pintu masuk menuju ruangan bawah tanah. Tangis wanita itu pecah di tengah ruangan yang sunyi. Lara merasa bersalah kepada Fabio.


Kini Lara tidak tahu harus bagaimana. Ia sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi. Kedua tangannya menutupi wajah. Kakinya di tekuk. Selama enam bulan terakhir ini. Ini pertama kalinya Lara menangis lagi. Bahkan tangisan yang begitu menyedihkan.


...***...


Mark tertawa kencang mendengar kabar kalau Alex sudah di tangkap dan di tahan di mansion Fabio. Memang Alex ada di mansion itu. Tetapi Walter meletakkan Alex di tempat yang aman dan sudah pasti tidak diketahui Lara. Walter tidak seceroboh itu dengan meletakkan Alex pada ruang yang mudah di jangkau oleh Lara.


"Bos, apa ini semua bagian dari rencana anda?" tanya pria yang berdiri di depan Mark. Pria itu adalah orang yang sangat dipercaya oleh Mark. Dia lah yang selama ini membantu Mark untuk mencari informasi tentang Lara ketika Mark ada di rumah sakit.


"Ya. Ini bagian dari rencanaku. Aku yakin, Fabio tidak akan membiarkan wanita itu tahu kalau mantan suaminya di sekap di sana. Dengan begitu selamanya dia tidak tahu kalau aku adalah Alex yang palsu. Mungkin kebenarannya akan terungkap ketika Fabio sudah membunuh pria itu."


"Lalu, setelah ini bagaimana cara anda agar bisa menangkap wanita itu Bos?" Pria itu terlihat ragu dan bingung.


"Aku akan muncul di depan Lara sebagai Alex. Setelah itu aku akan membawa wanita itu pergi sejauh mungkin. Fabio tidak akan tahu ke mana aku menyembunyikan wanita yang dia cintai itu."


"Apa anda akan membunuh wanita itu setelah rencana kita berhasil, Bos?"


"Untuk apa aku membiarkannya hidup? Ketika Alex tewas dan aku berhasil mengalahkan Fabio aku akan membunuh wanita itu juga. Dia hanya aku jadikan pancingan saja untuk membuat Fabio bertekuk lutut di hadapanku. Tentu saja aku tidak akan membiarkan musuhku bisa hidup bebas. Mereka harus merasakan apa yang pernah aku rasakan. Menderita dan kesakitan!" jelas Mark dengan tatapan penuh dendam.


"Tapi, Bos. Wanita itu selalu di jaga oleh pengawal rahasia Fabio. Bagaimana caranya agar kita bisa membawanya pergi dari kota ini?"


Mark mengangguk pelan. Ia beranjak dari kursi dan berjalan ke arah lemari yang menyusun aneka minuman beralkohol di sana. Mark mengambil satu gelas dan sebotol minuman. Menuangnya dan meneguk isinya secara perlahan.

__ADS_1


"Selama aku masih menggunakan wajah Alex Moritz. Maka aku pasti bisa menculik wanita itu. Kita lihat saja nanti."


Mark membanting gelasnya di atas meja. Pria itu tertawa keras. "Fabio Cassano! Tidak lama lagi kau akan kalah!"


__ADS_2