
Beberapa saat yang lalu.
Setelah Fabio keluar dari kamar, Greta segera bangkit dari sofa. Wanita itu berjalan ke arah lemari yang menjadi tempat Fabio menyimpan senjata dan benda-benda berbahaya yang ia miliki. Lara terlihat tidak setuju melihat Greta yang terkesan begitu lancang karena sudah berani membuka lemari milik Fabio.
"Greta, apa yang kau lakukan? Sebaiknya kau kembali ke tempatmu. Ini kamar Fabio. Tidak seharusnya kau mengambil barang-barang miliknya," protes Lara.
Greta tidak peduli. Ia mencari barang yang kira-kira bisa ia gunakan untuk mengalahkan Mark. Wanita itu sudah mual dengan semua ini. Greta mau Alex tetap hidup. Namun, membiarkan Mark mati sendirian adalah hal yang mustahil.
"Greta!" Lara menarik tangan Greta. Wanita itu mulai marah melihat sifat Greta yang cuek.
"Kak, aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Kak Alex. Aku tidak mau kak Alex sampai tewas di tangan Tuan Fabio."
"Greta, Alex yang salah. Dia yang lebih dulu menyerang mansion ini. Dia sendiri yang mengantarkan nyawanya!" sahut Lara.
__ADS_1
Greta menatap wajah Lara dengan penuh emosi. "Kak, aku tahu betapa bencinya Kak Lara terhadap Kak Alex. Tapi, satu hal yang harus kakak tahu. Sejahat apapun Kak Alex, dia tetap kakak kandungku. Sejak dulu kami selalu bersama."
"Ya. Tapi jika Fabio tidak melakukan perlawanan, dia akan kalah. Bukan hanya Fabio saja yang akan celaka. Semua orang yang ada di mansion ini bisa celaka!" jawab Lara dengan nada yang tinggi.
Greta kembali melanjutkan pencariannya di dalam lemari Fabio. "Aku tidak mau Kak Alex sampai celaka! Dia berhak memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi."
Lara memalingkan wajahnya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Greta sangat keras kepala. Bujukan apapun yang akan ia ucapkan tidak akan bisa meluluhkan hati Greta saat ini.
Lara mengatur napasnya untuk membujuk Greta lagi. "Greta, sebaiknya kau tenang dulu ya. Kita tunggu sampai Fabio datang. Aku yakin semua akan baik-baik saja," ucap Lara.
Greta mengambil bom itu dan menggenggamnya. Wanita itu melihat waktu di sana. Tertulis angka 15 yang menandakan kalau 15 menit lagi bom itu akan meledak.
"Greta, apa yang ingin kau lakukan? Letakkan benda itu," pinta Lara dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kak, aku akan membuat Mark tewas dengan bom ini."
"Bagaimana caranya?" tanya Lara tidak percaya.
Greta memutar tubuhnya dan melangkah cepat ke pintu. Lara berusaha menahan Greta kala itu. Namun, tiba-tiba saja Greta berhenti dan membuat bom itu me jadi aktif.
"Jika Kak Lara menghalangiku. Maka kita akan mati di tempat ini!" ancam Greta.
Lara melangkah mundur. Ia masih tidak percaya kalau Greta akan melakukan hal senekad itu. "Greta, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau melakukan semua ini? Kita bisa bicara baik-baik."
"Karena aku sedih melihat Kak Alex, Kak. Aku harap. Kematianku bisa membuat semua orang kembali tenang. Membuat Kak Alex sadar. Hidup harus ada yang dikorbankan kak. Kali ini biar aku yang berkorban demi kebahagiaan Kak Lara dan keselamatan Kak Alex," lirih Greta. Wanita itu segera keluar dari kamar dan berlari.
Sedangkan Lara menangis mendengar perkataan Greta. "Greta, maafkan aku. Seharusnya aku bisa lebih memahami perasaanmu. Aku membenci Alex karena di antara kami tidak ada hubungan apa-apa lagi. Berbeda denganmu. Kalian kakak adik. Sampai kapanpun hubungan darah itu tidak akan pernah berakhir." Lara menghapus air matanya. "Aku harus mencegah Greta. Aku tidak mau sampai dia mengorbankan dirinya hanya untuk kebahagiaan orang lain." Lara berlari untuk mengejar Greta. Ia tidak mau sampai terlambat.
__ADS_1