Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 51. Tidak Terima!


__ADS_3

Alex mematung mendengar jawaban Lara. Hatinya hancur berkeping-keping. Wajahnya terlihat memerah karena berusaha menahan amarah. Kedua tangannya terkepal kuat. Rahangnya mengeras.


"Ini tidak lucu!" jawab Alex.


Lara tertawa kecil. "Aku tidak bercanda, Tuan Alex. Pria ini adalah tunanganku. Pria yang sangat aku cintai. Pria yang selama ini menemaniku. Tidak lama lagi kami akan menikah," jawab Lara.


"Lara, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal pertemuan kita?" tanya Alex masih berusaha mengatur nada bicaranya agar terdengar lembut.


"Itu karena memang seperti ini rencananya. Saya ingin anda merasakan apa yang pernah saya rasakan. Di bandingkan dengan orang lain. Bahkan ditinggalkan tanpa perasaan!"


"Lara, kau masih istriku. Kau tidak bisa menikah dengan pria ini karena kita belum bercerai!" sangkal Alex.


"Siapa bilang kita belum cerai?" Lara mengangkat tangannya. Seorang pria berdiri di dekat Lara dan memberikan foto copian dokumen cerai mereka berdua. "Bisa di baca dengan teliti."


Alex merampas dokumen itu dari tangan Lara dengan kasar. Ia tidak terlalu peduli dengan isi di dalamnya. Pria itu hanya ingin memeriksa tanda tangan atas nama dirinya yang ada di bagian bawah. Kedua matanya melebar melihat tanda tangannya sudah ada di sana. Bahkan terlihat jelas kalau tanda tangan itu tidak direkayasa.


"Ini tidak mungkin!" ucap Alex masih tidak terima.


Perdebatan yang terjadi di antara Lara dan Alex memancing semua tamu undangan yang ada di lokasi pesta. Lara bahagia karena sudah berhasil mempermalukan Alex. Namun, ada rasa khawatir karena kini semua orang memandang Fabio dengan penilaian yang buruk. Seolah-olah Fabio adalah orang ketiga di dalam rumah tangga mereka.


"Tuan Alex, sepertinya perceraian ini adalah solusi terbaik untuk pernikahan kita. Saya sudah tidak sanggup lagi melihat sikap anda. Anda bahkan secara terang-terangan selingkuh dengan Fiona." Lara merubah ekspresi wajahnya menjadi wanita yang paling menyedihkan. "Bukan hanya itu saja. Bahkan Fiona sampai hamil!"


Semua tamu undangan kini bersimpati kepada Lara. Memang sebagian orang sudah tahu hubungan Alex dan Fiona. Kini sebagian besar tamu undangan yang hadir justru ada di pihak Lara. Mereka mendukung Kata untuk menceraikan Alex.


"Untuk apa dipertahankan lelaki yang suka selingkuh. Sekalipun dia berubah, suatu saat nanti pasti selingkuh lagi," sindir salah satu undangan.


Lara tersenyum puas. Melihat wajah Alex yang begitu malu membuatnya bahagia. "Ini belum seberapa. Setelah pulang ke rumah dan mendapati rumah utama sudah tidak milik dia lagi. Kira-kira bagaimana reaksinya nanti?" gumam Lara di dalam hati.


Fabio hanya diam dengan wajah yang sangat tenang. Ia menikmati pertunjukan yang ada di depan matanya. Walau ia tidak pernah memiliki masalah dengan Alex. Tetapi, jika pria itu sampai berani mengusik hidupnya. Fabio tidak akan segan-segan memberi perhitungan.

__ADS_1


Alex menatap wajah Fabio dengan tatapan penuh kebencian. Pria itu tidak mau kalah dari Fabio. Ia bertekad untuk mendapatkan Lara lagi.


"Lara, kita harus bicara." Alex berusaha meraih tangan Lara agar bisa membawa wanita itu ikut bersamanya. Tetapi, dengan sigap Fabio berdiri di depan Lara hingga ia dan Alex saling bertatap muka.


"Semua sudah jelas. Sebagai pria, seharusnya anda tidak memaksa wanita yang sudah jelas-jelas tidak suka dengan anda, Tuan," ucap Fabio.


Alex menggeram. Pria itu melayangkan tangannya yang terkepal kuat untuk mengajar wajah Fabio. Namun, dengan cepat Fabio menahan tangan Alex.


Lara terlihat panik. Ia tidak mau sampai Fabio terluka. "Kak Alex, hentikan!" ucap Lara.


Fabio melepas tangan Alex. Ia belum tertarik untuk membalas perbuatan Alex. "Chubby, ayo kita pulang."


Fabio menatap wajah Alex sejenak sebelum merangkul pinggang Lara. Tanpa bicarapun perlakuan Fabio terhadap Lara sudah berhasil membuat Alex semakin cemburu.


"Berhenti!" teriak Alex.


"Hentikan mereka. Jangan biarkan mereka pergi meninggalkan gedung ini!" perintah Alex kepada pengawal bayaran miliknya.


Mendengar perintah Alex, pria yang bertugas menjadi pengawal di gedung itu segera mengelilingi Fabio dan Lara. Mereka memasang wajah sangar seolah sedang mengancam dan menakut-nakuti.


"Berhenti. Jika anda tidak mau celaka!" ucap salah satu pengawal.


Tamu undangan memilih untuk pergi menyelamatkan diri masing-masing. Mereka tidak mau terlibat dalam perdebatan Lara dan Alex.


Alex tersenyum puas melihat Fabio dan Lara berdiri di sana dan tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja setelah apa yang kalian perbuat malam ini." Alex melangkah mendekat. "Aku bisa saja menghabisi nyawa tunanganmu ini hanya dengan sekejap mata!" sambung Alex penuh dengan percaya diri.


Lara semakin panik. Ia menatap wajah Fabio dengan tatapan bersalah. "Kak Bi, maafkan Lara. Lara tidak tahu kalau akan jadi seperti ini."

__ADS_1


Fabio masih terlihat tenang. Tentu saja orang-orang yang kini ada di hadapannya bukan lawan yang sepadan baginya. Satu pukulan saja sudah pasti kalah semua. Namun, malam ini Fabio tidak ingin mengotori tangannya.


"Hanya segini yang anda punya?" tantang Fabio.


Alex terlihat semakin kesal. "Katakan permintaan terakhir anda sebelum bawahan saya ini menghajar anda hingga sekarat!" ancam Alex lagi.


Fabio menaikan satu tangannya ke udara. Pria itu memetikkan jarinya sekali saja. Setelah itu ia menatap wajah Alex. "Tuan, permainannya yang sebenarnya baru saja akan di mulai."


Alex mengeryitkan dahi mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Fabio. "Apa yang dia katakan? Jelas-jelas dia sudah kalah," gumam Alex di dalam hati.


Walter muncul dengan lima pria berbadan tegap di belakangnya. Pria itu menatap tajam wajah Alex dan sekutunya. Pengawal bayaran Alex terlihat goyah. Mereka tahu siapa Walter. Mereka tidak mau sampai kehilangan nyawa mereka malam ini.


"Tuan, maafkan kami." Pria-pria itu mengeluarkan uang dari dalam dompet. "Ini yang anda berikan tadi. Ambil saja. Kami tidak butuh uang itu."


Hal yang sama juga dilakukan pengawal lainnya. Hingga pada akhirnya yang tersisa di sana hanya Alex.


"Apa ini? Kenapa kalian pergi? Mereka hanya berlima. Kalian ada sepuluh!" teriak Alex. Ia masih tidak percaya kalau orang-orang bayarannya menyerah sebelum melakukan penyerangan apapun.


Lara tersenyum puas melihat apa yang terjadi. Ia sendiri tidak menyangka kalau Fabio sudah mempersiapkan semua ini tanpa bilang-bilang dengan Lara.


Walter berdiri di depan Fabio. Ia menunduk hormat. "Apa yang harus saya lakukan kepada pria ini, Bos? Anda mau saya mematahkan kakinya atau lehernya?"


"Dua-dua juga bagus!" Fabio memandang Lara. Kali ini pria itu tersenyum. "Saya mau bersenang-senang dengan wanita saya. Pastikan pria tidak berguna ini tidak mengganggu kami!"


Fabio membawa Lara pergi. Sedangkan Alex, pria itu membeku dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Kemampuan bela diri tidak punya.


Tanpa mau banyak protes lagi, Alex juga pergi meninggalkan lokasi. Ia tidak mau sampai terluka. Sedangkan Walter hanya diam memandang Alex yang saat itu berlari seperti orang ketakutan.


"Pria payah!" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2