Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 82. Siapa yang tertembak?


__ADS_3

"Lara," celetuk Fabio dengan wajah khawatir.


Mendengar Fabio memanggil nama Lara membuat Alex mengeryitkan dahi. Wajahnya berubah panik. Mereka berdua segera mengakhiri pertarungan tanpa tahu siapa yang menang. Dari masing-masing pasukan juga segera menurunkan senjata mereka dan memandang ke sumber suara. Suara tembakan itu berasal dari hutan.


"Lara, dimana Lara?" Alex mencari ke segala arah. Pria itu tidak menemukan Lara. "LARA!" teriak Alex berharap Lara mau menjawab teriakannya.


Fabio segera berlari kencang menuju ke hutan. Melihat Fabio berlari, Alex juga ikut berlari. Dia juga ingin tahu dimana Lara berada saat ini.


"Kenapa ada suara tembakan? Apa yang terjadi dengan Walter dan Lara?" gumam Fabio di dalam hati. Tidak terlalu jauh masuk ke dalam hutan, Fabio sudah melihat Walter berbaring di tanah. Pria itu memegang perutnya yang kini dipenuhi darah. Wajahnya sudah babak belur. Sepertinya dia baru saja bertarung.


"Walter, apa yang terjadi?" Fabio berjongkok di depan Walter. Wajah pria itu semakin panik. "Di mana Lara?"


Alex yang sudah tiba di sana mengepal kuat tangannya. "Apa yang terjadi? Di mana Lara!"


"Dia yang sudah menculik Nona Lara, Bos." Walter menunjuk ke arah Alex. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana bertanya-tanya.


Fabio berdiri dan segera menarik kerah baju Alex. "Kau mau curang? Kemana kau membawa Lara! Pertarungan belum berakhir! Kemana kau membawa Lara pergi!" umpat Fabio dengan wajah penuh emosi.


"Omong kosong apa ini? Aku juga ada di sana. Bagaimana bisa kau menuduhku menculik Lara?" sangkal Alex.


"Saya tidak mungkin lupa. Tadi anda muncul dan memukul saya. Bahkan ketika saya berusaha melindungi Nona Lara, anda menembak saya!" ujar Walter tidak terima.


Fabio melepas baju Alex. Ia diam sejenak sebelum mengatakan sesuatu. "Tapi Alex bersama saya!" sahut Fabio. "Apa maksudmu Alex ada dua?" sambung Fabio lagi.


Walter meringis kesakitan. Tiba-tiba saja pria itu tidak sadarkan diri dengan tangan memegang perut. Pasukan Walter segera mendekati Walter untuk membawa pria itu ke rumah sakit.

__ADS_1


Sedangkan Alex tetap berdiri pada posisinya. Pria itu mengepal kuat tangannya dengan gigi menggertak. "Mark! Berani sekali dia membawa istriku!" gumam Alex di dalam hati. Pria itu memutar tubuhnya dan membawa pasukannya pergi. Ia ingin segera menemui Mark untuk merebut kembali Lara.


Fabio memandang punggung Alex tanpa mau mengatakan apapun. Setelah keadaan benar-benar aman, ia memandang Walter yang kini sudah membuka mata lagi.


"Apa Lara yang membuat wajahmu menjadi seperti itu?" tanya Fabio. Ia masih tidak percaya kalau Lara yang sudah memukul wajah Walter hingga menjadi separah itu.


"Pukulan Nona Lara lumayan juga, Bos." Walter memegang pipinya. "Kita harus segera pulang untuk memastikan Nona Lara baik-baik saja, Bos."


Fabio mengangguk. "Ikuti Alex Moritz. Aku ingin tahu, dimana Mark bersembunyi."


"Baik, Bos!"


Fabio dan Walter segera pergi menuju ke mobil. Walau harus melakukan akting yang begitu konyol seperti ini, tetapi setidaknya membuahkan hasil. Kini Fabio bisa membawa Lara pulang ke mansion dengan selamat dan bisa mengetahui persembunyian Mark melalui Alex.


Beberapa menit yang lalu ...


"Ada apa?"


"Nona, ada hal penting yang harus kita lakukan," ucap Walter. Pria itu mengeluarkan senjata apinya dan memberikannya kepada Lara.


"Untuk apa benda ini?" Lara menerima benda berbahaya itu dengan wajah bingung.


"Nona tolong pukul wajah saya. Semakin kuat semakin baik," pinta Walter. Ia berpikir kalau pukulan seorang wanita tidak akan ada apa-apanya. Maka dari itu ia meminta Lara memukulnya dengan sekuat tenaga.


"Apa?" Lara menggeleng tidak setuju. "Untuk apa?"

__ADS_1


"Nona, kita tidak memiliki banyak waktu. Anggap saja saya ini pria yang sangat anda benci. Anda harus memukul saya dengan sekuat tenaga anda. Ingat Nona, anda harus mengeluarkan semua tenaga yang anda miliki."


Walau terdengar tidak masuk akal, tetapi akhirnya Lara mau menuruti apa yang diminta Walter. Wanita itu menggenggam senjata api di tangan kiri. Ia mengepal kuat tangan kanannya sebelum melayangkan pukulan di wajah Walter.


Walter kaget bukan main menerima pukulan dari Lara. Sangat jauh dari apa yang ia bayangkan. Pukulan Lara berhasil membuat wajahnya membiru. "Wow. Anda keren, Nona."


"Apa sudah cukup?" tanya Lara dengan wajah serius. Walter sampai melebarkan kedua matanya ketika mendengar ucapan Lara.


"Beberapa kali lagi agar terlihat seperti orang yang baru saja berkelahi, Nona. Tapi, setengah tenaga saja. Jangan sepenuhnya," tawar Walter.


Lara mengepal kuat tangannya. "Baiklah, jika kau memaksa."


Beberapa pukulan di daratkan Lara di wajah Walter. Walau awalnya tidak tega, tetapi ia sendiri juga menyimpan rasa kesal terhadap Walter karena tidak diijinkan mendekati Fabio tadi. Setelah Walter angkat tangan, Lara melangkah mundur sambil menatap wajah Walter.


"Sudah cukup?"


"Sudah, Nona. Sudah ...." Walter memegang wajahnya yang terasa perih. Pria itu mengambil senjata tajam yang ia bawa sebelum menusuk bagian perutnya. Kantung darah yang sudah ada di dalam sana pecah hingga terlihat seperti darah yang sedang mengalir karena luka.


"Nona, di depan sana ada mobil yang sudah menunggu anda. Anda bisa lari ke sana dan kembali ke mansion."


"Maksudmu aku sendirian?"


"Ya, Nona. Anda pasti akan baik-baik saja. Tapi, sebelum pergi tarik dulu pelatuk senjata api itu ke arah sana." Walter menunjuk ke arah hutan yang sunyi dan gelap. Ia yakin, suara tembakan ini pasti akan terdengar oleh Fabio dan Alex.


"Baiklah." Lara segera menembak ke arah yang di tunjuk Walter. Setelah itu ia berlari menuju ke mobil yang sudah menunggu. Walter tersenyum sebelum memasang ekspresi wajah yang menyakinkan. "Semoga saja Nona Lara bisa tiba di mansion dengan selamat."

__ADS_1


Hai reader ... Ini ada rekomendasi Novel teman author ya. Semoga suka. 😘



__ADS_2