
Fabio duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang. Di depannya telah ada dokter Alfred yang sedang memeriksa keadaan Lara. Dokter pria itu terlihat sangat khawatir ketika Walter memintanya untuk segera datang. Mungkin mendapat panggilan mendadak seperti itu sudah biasa baginya. Namun, semenjak Lara juga ada di dekat Fabio. Pria itu menjadi tidak tenang. Ibarat membiarkan adik tersayang tidur di dalam kandang singa. Kapan saja bisa menjadi hari buruk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Fabio ketika Alfred tidak juga menjelaskan keadaan Lara.
"Semua baik-baik saja. Dia hanya syok, Tuan." Alfred memandang wajah Lara untuk beberapa saat. Hal itu membuat Fabio tidak suka.
"Jika kau sudah selesai. Menyingkirlah!" ketus Fabio.
Alfred memutar tubuhnya dan memandang Fabio. "Saya ingin bicara dengan anda, Tuan." Wajah Alfred berubah serius.
"Ada apa? Bisakah bicaranya nanti?" tolak Fabio.
"Ini menyangkut masa depan Lara. Saya sudah kenal lama dengan Lara. Seburuk-buruknya hidup bersama Alex, lebih buruk lagi ketika dia tinggal bersama dengan anda!"
Fabio mengeryitkan dahi. Ia tidak menyangka kalau Alfred bisa seberani itu. Memang di ruangan itu tidak ada Walter. Entah apa yang akan terjadi jika Walter juga ada di sana dan mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Alfred.
"Apa maksud Anda, Dokter Alfred. Apa anda mulai membandingkan saya dengan pria itu?"
"Tidak, Tuan. Sama sekali tidak ada niat untuk membandingkan. Tapi, anda harus ingat satu hal. Selama menikah dengan Alex, batin Lara terus tersakiti. Hanya batinnya. Fisiknya akan selalu baik-baik saja. Bersama dengan anda, saya tidak pernah melihat Lara benar-benar bahagia."
"Itu karena dia tidak bisa melupakan masa lalunya," sahut Fabio.
__ADS_1
"Bagaimana cara Lara melupakan masa lalunya jika setiap saat masa lalunya muncul, Tuan? Tadinya saya pikir ketika bertemu dengan anda Lara justru akan bahagia. Tetapi, makin ke sini saya mulai sadar. Anda seorang bos mafia yang kapan saja akan di serang bahaya. Lihatlah mansion megah anda ini. Tempat ini tidak terlacak dan sangat jauh dari keramaian. Kenapa musuh anda bisa tahu letaknya dan menyerang dari udara? Itu berarti keamanan anda sedang tidak baik-baik saja."
"Kau menyalahkanku!" Fabio mengepal kuat tangannya. Jika saja dia tidak menahan emosinya saat ini, mungkin kepalan tangan itu sudah melayang di wajah Alfred.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi, saya memang sedang menyalahkan anda. Lara wanita yang saya anggap seperti adik saya sendiri. Tidak terbayang kalau bom itu benar meledak," sahut Alfred.
Fabio mengeryitkan terlihat semakin penasaran. Walau embusan napasnya mulai berat karena emosi, tetapi pria itu berusaha tenang agar bisa bicara baik-baik bersama Alfred.
"Kau tahu tentang bom itu?"
"Sebelum mereka melakukan penyerangan, saya ada di sana. Di tempat mereka berkumpul. Saya pulang dari mansion dan melihat mobil-mobil itu berhenti di pinggiran jalan. Saya sudah curiga sejak saat itu. Pasti ada yang tidak beres. Sudah selama ini saya keluar masuk mansion tetapi belum pernah melihat mobil sebanyak itu ada di wilayah anda. Saya turun dan menemukan Alex ada di sana. Pria itu sempat menodongkan pistol ke saya. Saya tahu kalau pria itu pasti berpikir kalau saya seorang mata-mata."
"Kau melihat mereka? Kenapa kau tidak memberi informasi itu kepada kami!" potong Fabio.
"Lalu, apa yang kau lakukan?"
"Saya mengatakan kepada Alex Moritz bagaimana perasaan Lara. Saya tahu, pria seperti dia hanya perlu harapan. Saya bilang kalau Lara telah jatuh cinta padanya. Bahkan dia adalah cinta pertama Lara. Selama bercerita, saya memasukkan obat ke dalam minuman yang ada di dekat Alex. Kejadiannya memang sangat singkat. Namun, di detik sebelum kami berpisah saya berhasil membuat jalan pikiran Alex Moritz berubah hingga dia menukar remot yang seharusnya mereka gunakan untuk meledakkan mansion ini. Hingga akhirnya Mark memegang remot yang palsu."
"Apa ada mata-mata di mansion ini?"
"Tidak, Tuan. Ketika Alex Moritz anda sekap! Pria itu sempat meletakkan bom di mansion anda. Jika saja Lara tidak tinggal di tempat ini, mungkin mansion ini sudah rata sejak kemarin, Tuan."
__ADS_1
Fabio tidak bisa berkata-kata lagi. Ceritanya memang masuk akal. "Alfred, kenapa kau tidak segera ke mansion?"
"Karena Alex Moritz meminta saya untuk pergi agar Mark tidak curiga. Awalnya saya tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Tapi saya juga tidak memiliki pilihan lain tadi. Tuan, tolong jaga Lara. Jangan biarkan dia sampai celaka. Saya mohon."
Alfred menundukkan kepalanya. Pria itu tidak mau kalau sampai Lara menderita lagi. Lara telah jatuh cinta kepada seorang pria Criminal. Hal itu bisa membuat nyawa Lara melayang kapan saja.
Fabio mengangkat tangannya hendak menepuk pundak Alfred. Namun, suara ketukan pintu membuat pria itu menahan tangannya. Walter muncul untuk menyampaikan sesuatu kepada Fabio.
"Bos, apa yang akan kita lakukan terhadap Alex Moritz? Saya telah meletakkannya di ruang eksekusi. Kali ini saya berani menjamin kalau dia tidak akan bisa kabur lagi."
"Bebaskan dia!" Alfred dan Walter sama-sama memandang Fabio dengan tatapan tidak percaya.
"Anda yakin Bos?" tanya Walter sekali lagi.
"Kita harus menemukan bom itu sebelum membiarkan Alex Moritz berkeliaran di luar sana," sahut Alfred.
"Tapi saya yakin bom itu tidak akan diletakkan di tempat yang mudah di lihat. Jalan satu-satunya adalah membiarkan Alex bebas dan mencuri remot yang asli darinya."
Alfred diam sejenak sebelum mengangguk setuju. "Walau ini cukup beresiko, tapi saya setuju. Kita harus segera mendapatkan remot yang asli," jawab Alfred.
"Remot yang asli ada di tangan Alex Moritz? Bagaimana bisa?" tanya Walter kebingungan.
__ADS_1
"Sebaiknya lepaskan Ny. Moritz. Biarkan mereka ibu dan anak bertemu di rumah lama mereka."
"Baik, Bos." Walter menunduk hormat sebelum melaksanakan perintah Fabio. Sedangkan Alfred masih bertahan di ruangan itu untuk menunggu sampai Lara sadar.