
Fabio dan Walter sudah ada di halaman luas yang ada di tengah mansion. Mereka memandang Mark dan Alex yang sudah berdiri di sana dengan senjata di tangan mereka.
"Apa kalian pikir cara seperti ini bisa mengalahkanku?" ucap Fabio dengan wajah yang sangat santai. "Jangankan menang. Aku bahkan tidak akan membiarkan kalian keluar dari lapangan ini. Termasuk menginjak lantai mansion milikku. Hari ini adalah hari terakhir kalian ada di dunia. Karena aku tidak pernah memaafkan orang yang sudah lancang masuk ke wilayahku!"
"Apa kau pikir aku takut?" ledek Mark. Ia memandang Alex yang berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri. "Kami akan menang. Kami akan meratakan mansion ini. Kalian semua akan mati setelah aku ratakan mansion megah ini dengan bom!"
Mark terlihat sangat percaya diri. Hal itu membuat Fabio sedikit khawatir. Jika memang benar Mark telah berhasil memasukkan bom ke mansion miliknya, maka habislah sudah semua orang yang ada di dalamnya.
"Sebagai pembukaan, aku akan meledakkan mansion bagian depan. Bagaimana?" ucap Mark dengan tawa meledek. Pria itu memegang remot kendali di tangannya. Jika nanti dia menekan salah satu tombol yang ada di sana, maka ledakan akan terjadi.
Fabio mengepal kuat tangannya. Mansion bagian depan adalah kamar yang kini di tempati Lara. "Apa yang kau inginkan?" tanya Fabio. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengulur waktu.
Mark menurunkan remot yang ada di genggaman tangannya. "Nyawamu! Aku ingin kau bunuh diri di hadapanku. Menyerahkan Black Dragon kepadaku!"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Fabio mengangkat tangannya hingga semua pasukan Black Dragon yang ia miliki muncul dari tempat persembunyian mereka. Bukan hanya dari lantai bawah saja. Dari lantai atas mereka juga muncul dengan senjata Laras panjang mereka masing-masing. Sudah bisa di pastikan, jika Fabio sampai memberi perintah. Maka habislah nyawa Mark dan Alex beserta orang-orang yang mereka bawa.
Mark memandang ke arah pasukan Fabio. Pria itu masih percaya diri kalau ia akan menang. "Aku tidak mau banyak bicara. Detik ini juga aku akan meratakan mansion ini!" ancam Mark. Pria itu menekan salah satu tombol yang ia pikir bisa meledakkan salah satu wilayah mansion. Namun, ekspresi wajah pria itu berubah ketika berulang kali menekan tombol namun tidak ada yang terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa bomnya tidak meledak!" umpat Mark kesal. Pria itu melempar tatapan menuduh ke arah Alex.
__ADS_1
"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan membiarkan Lara celaka," jawab Alex. "Kau boleh dendam dengan Fabio. Tapi, jangan pernah melibatkan Laraku!"
"Penghianat!" Mark yang emosi mendengar jawaban Alex segera melempar remot tersebut dan menerkam Alex. Pria itu menghajar Alex habis-habisan tanpa peduli dengan situasi yang terjadi saat ini.
Fabio dan Walter saling memandang. Sepertinya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan saat ini karena musuh mereka berkelahi sendiri. Fabio masih menahan pasukannya untuk menyerang. Sedangkan pasukan yang ikut bersama dengan Mark dan Alex terlihat kebingungan.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" umpat Mark sebelum melayangkan pukulan terbaiknya. Alex terpental dengan tubuh dipenuhi dengan darah. Pria itu sudah melawan. Tapi, entah kenapa kekuatan hebat yang pernah ia miliki hilang hari ini. Kini Alex terlihat seperti pria lemah yang tidak berdaya. Pria itu berbaring di rumput yang tidak jauh dari posisi Mark berdiri.
Ketika Mark ingin membunuh Alex, Walter segera maju. Pria itu menarik Alex agar menjauh. Sedangkan pasukan Walter maju untuk menghajar Mark.
"Jangan berpikir kalau kami ada di pihakmu! Karena setelah Mark tewas, kau selanjutnya yang akan kami habisi!" ujar Walter. Alex hanya tersenyum kecil sebelum memejamkan mata. Pria itu mengatur napasnya sambil menahan rasa perih di sekujur tubuhnya.
Fabio memandang ke sumber suara. Melihat Greta muncul di sana membuat khawatir yang begitu luar biasa terhadap Lara. "Kenapa dia keluar dari kamar!" umpat Fabio di dalam hati.
Walter yang juga melihat kemunculan Greta hanya bisa mengumpat kesal. Ingin sekali pria itu memarahi Greta atas kecerobohan yang dilakukannya hari ini.
Greta berlari ke arah Mark. Ya, wanita itu tidak berlari ke arah kakak kandungnya. Melainkan mendekati pria yang menjadi musuh semua orang.
Alex yang sudah tidak sanggup untuk bangkit berusaha untuk memanggil Greta. Namun, luka di sekujur tubuhnya benar-benar sakit. Seolah-olah tulangnya remuk tidak sanggup menopang tubuhnya untuk berdiri.
__ADS_1
"Greta, jangan ke sana. Kau bisa celaka," lirih Alex.
Mark menatap Greta dengan tatapan yang tajam. Sejak tadi memang dia sedang mencari cara agar bisa kabur dari sana. Setelah mengetahui Alex berkhianat, pria itu semakin tidak segan-segan untuk membawa Greta sebagai sanderaannya agar ia bisa kabur dengan selamat dari sana.
Greta memeluk Mark dengan begitu erat. Wanita itu menangis. "Semua sudah berakhir. Semua sudah berakhir," ucap Greta dengan isak tangis.
"Greta, jangan!" Lara muncul dan berlari untuk menarik Greta. Dengan cepat Fabio menghalangi Lara. Pria itu memeluk Lara dan membujuk wanita itu agar tidak mendekat.
"Chubby, berhentilah. Kau bisa celaka!" ujar Fabio.
"Aku harus menyelamatkan Greta!" teriak Lara. Wanita itu berontak agar Fabio melepas pelukannya. Namun, usahanya tetap saja sia-sia.
"Tidak! Di sana bahaya!" jawab Fabio dengan suara sedikit membentak.
Greta masih tetap memeluk Mark. Air mata semakin deras sebelum akhirnya ia memejamkan mata. "Maafkan aku Kak Lara. Maafkan aku Kak Alex."
DHOOOM
Sebuah bom meledak hingga menewaskan Greta bersama dengan Mark. Semua orang yang ada di sana syok berat. Termasuk Alex dan Fabio.
__ADS_1
"GRETA ...." Lara semakin histeris sebelum akhirnya dia pingsan.